Bab 1

2306 Kata
Sakit, tetapi tak berdarah. Itulah yang dialami Davin Sanjaya saat ini, bagaimana tidak, ia harus merelakan sang kekasih untuk menikah dengan pilihan orang tua sang kekasih. Yang lebih menyakitkan, pria yang dijodohkan untuk wanita yang ia cintai itu adalah sahabatnya sendiri.   Tidak ingin terlihat terluka, Davin selalu datang untuk menghadiri acara bahagia mereka berdua. Mulai dari menghadiri acara pernikahan, pesta untuk ulang tahun sang mantan kekasih, hingga acara untuk menyambut kelahiran putra pertama mereka. Rasanya Davin ingin pergi saja, tetapi takut malaikat menyiksanya di alam kubur sana.  Mau tak mau pria itu memilih sabar dan berusaha tersenyum. Selalu berkata tidak apa-apa meskipun hatinya selalu menangis dan meratapi betapa mirisnya percintaan yang dialaminya saat ini.  Usai melihat kebahagiaan sahabat dan mantan kekasihnya menyambut kelahiran putra pertama mereka, Davin berpamitan. Membawa kedua kakinya melangkah pergi menyusuri koridor rumah sakit, dan berharap ada keajaiban dunia agar rasa sakitnya bisa hilang saat ini juga.  "Eh, apa-apaan ini?" Davin tersentak. Baru beberapa langkah ia keluar dari kamar rawat sang mantan kekasih, tiba-tiba saja ia diseret oleh seorang gadis. Gadis tersebut tampak seperti pengantin wanita yang baru saja gagal melakukan pernikahan. Itu terlihat dari kebaya yang ia kenakan tampak lusuh serta tatanan rambut yang tampak berantakan.  "Sudah ikut saja!" teriak gadis itu.  Tanpa melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan pria yang ia anggap sebagai penolongnya, sang gadis berjalan tanpa ragu. Davin yang sedang berada di zona patah hati tersebut hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah gadis yang tengah menyeretnya pergi entah kemana.  Bahkan, kini Davin dan gadis itu sudah dua lantai di atas kamar yang tadi dikunjunginya. Pria itu meneguk ludahnya saat gadis tersebut membawanya menuju ke salah satu ruang perawatan di rumah sakit yang sama dengan sang mantan kekasih.  Davin semakin heran dan cukup panik melihat sekumpulan orang-orang yang berada di depan sebuah kamar perawatan. Orang-orang tersebut tampak murung dan ada pula yang mengusap air matanya.  "Oke, kita sedikit lagi sampai. Dan, Mas … aku mohon, nikahi aku sekarang juga! Supaya ayahku sembuh dan menyelamatkan harta kami dari intaian ibu tiriku." Gadis tersebut mengangkat satu tangannya. Meminta Davin diam karena ia belum selesai berbicara. "Aku mohon, Mas. Jangan menolak pernikahan ini. Pernikahan ini hanya sementara dan aku juga akan membayar jasa Mas untuk itu. Jadi, aku mohon jangan menolak. Pertolongan Mas ini juga menyelamatkan nyawa ayahku. Dan tolong, jangan menjadi pria kelima, yang lari di hari pernikahanku!" pinta gadis itu dengan napas tersengal. Davin menatap mata gadis yang terlihat frustrasi itu dalam-dalam, ia bisa melihat ada gambaran kesedihan dan rasa lelah di sana.  Sudah empat kali ingin menikah, tetapi calon suaminya selalu saja kabur dan meninggalkannya sendirian di tempat acara, bersama cibiran para tamu undangan yang datang. Bagaimana ia tak merasa sedih? Ada saja alasan, ada saja halangan, sehingga ia harus ditinggal hingga 4 kali. "Apa? Menikah? Sementara? Apa maksudnya? Dibayar? Apa penampilanku seperti gembel? Tapi ... menolong ayahnya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Davin dalam hati. Pria itu sibuk dengan pikirannya sendiri, tetapi ia tak bisa menampik rasa kagumnya pada sosok wanita muda yang kini masih menggenggam tangannya.  Cantik. 1 kata yang berhasil mewakili perasaan Davin untuk gadis yang tiba-tiba mengatakan hal tak masuk akal bagi pria itu. Gadis itu terlalu cantik untuk diabaikan. Kenapa gadis secantik itu diabaikan? Ditinggal di hari pernikahan? Hingga 4 kali? Apa yang sebenarnya terjadi? Rasa kagum Davin kini bercampur dengan rasa penasaran yang berhasil menyelimuti hati dan pikirannya. "Oke, nikahi aja, dia, Davin. Cantik. Sempurna! Kamu nggak akan menikah selamanya dengan cewek ini, ini cuma sementara, kamu juga bisa dapet uang. Yang jelas ... kamu bisa balas dendam sama mantan pacar kamu, wanita secantik ini cocok untuk digunakan sebagai tameng, cocok untuk dipamerkan ke sana ke mari," batin Davin. Gadis itu terlihat berkaca-kaca, ia menatap Davin dengan lekat. Pria di hadapannya adalah harapannya yang terakhir, tak ada kesempatan lain. Jika ia gagal menikah lagi, ibu tirinya yang akan menguasai harta keluarganya, harta yang seharusnya jatuh ke tangannya. "Sudahlah. Jangan menangis lagi. Aku akan membantumu," ucap Davin penuh dengan kelembutan. Seraya mengusap air mata gadis yang masih menggenggam erat pergelangan tangannya. Davin tak lebih mirip seperti p****************g karena hanya ingin memanfaatkan gadis yang tengah terpojok oleh masalah itu. "Benarkah?!" serunya riang. Gadis itu tak peduli dengan alasan kenapa Davin, asalkan pria itu mau menikah dengannya, itu saja sudah cukup. Karena dengan begitu, ia bisa mewarisi harta kekayaan ayahnya. Davin mengangguk mantap. "Siapa namamu? Aku harus tahu siapa nama calon istriku ini," tanyanya. Seraya melepaskan genggaman gadis itu dan balik menggenggam tangannya. Mengajak gadis tersebut berjalan pelan menuju ruangan yang ramai oleh pengunjung tersebut. Davin yakin ke sanalah tujuan mereka. "Na-namaku Viona Velitta Wijaya," sahut gadis itu.  "Nama ayahmu?" tanya Davin lagi. "Abraham Wijaya." Davin mengangguk. Setelah itu ia tampak menghafalkan akad nikah untuk memperistri gadis yang tiba-tiba saja menyeretnya. Hingga sampailah mereka di ruang rawat ayah sang gadis yang akan ia nikahi secara mendadak itu. Kehadirannya di ruangan dihadiahi dengan tatapan tajam dari semua orang. Terutama dua orang wanita yang duduk persis di samping kiri dan kanan ranjang rumah sakit. Tempat berbaring seorang pria paruh baya, yang tengah berjuang untuk melawan penyakitnya. Tampak beberapa alat medis menyertai tubuh pria yang sudah tampak berkerut di sana-sini. Namun pria itu masih bisa melihat dengan jelas, sadar siapa saja yang ada di dekatnya.  "Kenalin, ini ayahku." Gadis bernama Viona menunjuk pria yang terbaring lemah di atas ranjang dengan telapak tangannya. "Yang kiri ibu tiriku, yang kanan kakak tiriku. Ibu kandungku sudah meninggal dunia saat tahu ternyata cinta beliau dikhianati. Dan tahu pengkhianatan tersebut sudah berlangsung lama sehingga anak dari hasil perselingkuhan tersebut lebih tua dariku. Karena ibuku dulu sempat divonis susah untuk memiliki keturunan," ucap gadis itu lagi, tetapi kali ini ia hanya berbisik karena tak ingin didengar oleh ibu tiri dan saudara tirinya. Davin memperhatikan kedua wanita yang tengah menemani ayah gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, sekaligus orang yang paling terkejut melihat kedatangan mereka berdua.  Davin yakin ada yang tidak beres dengan kedua wanita itu, dan sepertinya pertemuannya dengan Vio, sudah ditakdirkan untuk membantu menyelesaikan masalah di dalam keluarga gadis cantik itu. Kalau Davin tidak salah mengingat, Viona tadi sempat bercerita tentang acara pernikahannya yang telah gagal sebanyak empat kali.  Sangat tidak mungkin itu semua sebuah kebetulan semata, dan tidak mungkin juga empat kali Viona salah memilih suami. Tentu saja ada orang lain yang ikut andil di dalam kegagalan tersebut. Bisa dikatakan kegagalan itu sudah direncanakan untuk menghancurkan Viona. "Ayah, maafkan aku datang terlambat," ucap Davin. Meraih tangan ayahnya Vio dan menggenggamnya erat.  Pria paruh baya itu perlahan menoleh. Tampak bibirnya sedikit melengkung, seakan mendapatkan ketenangan karena kedatangan Davin. "Seandainya Ayah memaafkan atas kekeliruan ini, aku ingin menikahi Viona detik ini juga," sambung Davin lagi. Semakin memberikan semangat untuk ayahnya Viona untuk pulih dan melihat putrinya bahagia.  Ayah Viona mengangguk lemah. Sebagai tanda setuju atas permintaan Davin untuk menikah dengan Vio-putrinya.  Tidak butuh waktu lama bagi Davin untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Viona. Pria itu cukup menghubungi petugas KUA yang awalnya mengurus pernikahan Viona dengan Haris. Haris sendiri adalah salah satu calon suami Viona yang kabur. Dalam kurun waktu satu jam akad nikah antara Viona dan Davin telah selesai dipersiapkan. Tinggal menunggu Davin kembali dari toilet untuk mengambil wudhu. Karena toilet di kamar rawat Abraham-ayahnya Viona tengah digunakan. Sehingga Davin terpaksa menggunakan toilet umum yang letaknya cukup jauh dari kamar Abraham. Ketika Davin ingin masuk ke dalam ruang rawat untuk mengucapkan ijab kabul untuk Viona, langkahnya dihadang oleh Feni, yang tidak lain adalah ibu tirinya Viona. "Saya tidak tahu dari mana Viona bisa menemukan calon suami dalam hitungan menit. Dan saya pun tidak ingin tahu tentang hal itu. Yang jelas ... aku mau kamu tinggalkan Viona dan ini akan menjadi milikmu," ucap wanita itu seraya mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal dari dalam tasnya. Davin menerima amplop itu. Lalu mengintip berapa total uang tunai yang ada di sana. Kedua sudut bibirnya terangkat. "Seratus juta. Sangat menarik tawaran yang Anda berikan. Akan tetapi, saya lebih tertarik dengan Viona. Kenapa? Sebagai ibu tirinya saja, Anda sudah bisa dengan mudah memberikan uang sebanyak ini. Dapat dipastikan kekayaan yang dimiliki calon mertua saya berlipat-lipat dari nominal yang Anda tawarkan. Saya mau lebih dari ini." Davin menyerahkan amplop cokelat kepada ibu tirinya Viona. Maksud ucapan pria itu adalah, ia ingin lebih dari sekedar uang. Ya, ia ingin balas dendam pada mantan kekasihnya dan sahabatnya yang sudah menikah di atas rasa sakit hatinya. Selain itu, ia juga menantikan kesempata di mana ia bisa menikmati wajah cantik dan tubuh seksi sang calon istri. Bagi Davin, pertemuannya dengan Viona adalah sebuah hadiah, seperti mendapat hartu karun. Feni menggertakkan giginya karena usahanya kali ini gagal. Ia tak bisa menghentikan pernikahan anak tirinya seperti yang sudah ia lakukan hingga empat kali.  Sesudah itu, Davin masuk dengan santai untuk memenuhi janjinya kepada Viona. Hal itu membuat Feni geram dan bersumpah akan menghancurkan Davin. Karena dianggap telah menjadi penghalang baginya untuk menguasai seluruh harta kekayaan Abraham.  Padahal, beberapa jam yang lalu Feni sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk mengusir calon suami Viona, dan itu sudah ia lakukan sebanyak empat kali. Ditambah dengan gosip bahwa Viona sudah tidak perawan lagi. Semakin memantapkan hati para calon suami anak tirinya untuk pergi.  Kini, Davin tiba-tiba saja datang bersama Viona. Berniat untuk melanjutkan akad nikah yang telah gagal tadi pagi.  Feni sangat penasaran dari mana Viona menemukan pria seperti Davin. Tampan dan terlihat berasal dari keluarga berada.  Batalnya pernikahan Viona untuk yang keempat kalinya digunakan Feni untuk menghasut keluarga Abraham supaya ikut setuju menyerahkan kekuasaan usaha garmen pada Adinda-putrinya. Alasannya yaitu karena Viona dianggap tidak becus menjadi seorang pemimpin.  Feni berdalih, untuk menikah saja Viona selalu mengalami kesialan. Apalagi untuk menjalankan bisnis, Feni mengatakan Viona hanya akan menuai kegagalan, karena menganggap Viona adalah gadis yang terlahir dengan takdir sial di dunia ini.  Akan tetapi, hari ini tuduhan ibu tirinya itu telah dipatahkan Viona dengan membawa Davin dan kini mereka berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri.  Tidak sulit bagi Davin untuk memperistri Vio. Dengan mahar seperangkat alat sholat dan satu kali tarikan nafas mengucapkan ijab kabul, Davin resmi menjadi suami sahnya seorang Viona Velitta Wijaya. Kedua sudut bibir Davin melengkung. Melihat gadis berparas cantik yang ada di sampingnya kini telah resmi menyandang status sebagai istri sahnya. Padahal satu jam yang lalu ia masih galau karena belum bisa melupakan rasa sakit hatinya karena pernikahan mantan kekasih dan sahabatnya. Siapa sangka, kini ia seperti sekali merenkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kini, Davin telah menemukan seorang gadis untuk dijadikan istri.  Bukan.  Seorang gadis telah menemukannya untuk dipersunting dan kini ia telah memiliki rumah tangga sendiri. Davin juga bersiap untuk menghadapi Feni, yang tampak gelisah saat ia dan Viona resmi menjadi sepasang suami istri.  Suasana di ruang rawat inap yang tadinya tegang kini diselimuti kebahagiaan. Abraham Wijaya yang tadinya tampak lemah kini telah mulai membaik. Melihat sang putri telah resmi menikah. Meskipun bukan dengan calon suami yang sesungguhnya.  Abraham tidak tahu dari mana anak keduanya itu bisa bertemu dengan menantunya-Davin. Akan tetapi, ia yakin Davin adalah pria yang baik dan santun. Tampak saat ini betapa lembutnya ia memperlakukan Viona.  "Ayah, Ibu. Aku ingin meminta izin untuk membawa Viona ke tempat sahabatku. Aku ingin memperkenalkan Viona kepada mereka karena kebetulan istri sahabatku baru saja melahirkan di rumah sakit ini." Davin meminta izin seraya memijat lembut kaki Abraham, yang tengah menatap kagum padanya. Sudah beberapa jam berlalu sejak pernikahan sederhana itu berlangsung, Davin bersikap sebagai menantu yang baik dan perhatian, membuat Abraham semakin menyukainya. Pria paruh baya itu mengangguk. Sebagai tanda mengizinkan Davin untuk membawa Viona menemui sahabatnya. Yang dibalas dengan senyuman yang mengembang di bibir Davin.  Sepeninggal Davin dan Viona, Feni dan Adinda-kakak tiri Viona tampak saling berbisik satu sama lain. Mereka kini tengah duduk di sebuah sofa, yang tidak jauh dari ranjang Abraham. Ibu dan anak itu tengah mendiskusikan bagaimana caranya agar Davin secepatnya meninggalkan Viona, supaya tidak mengganggu rencana mereka berdua yang telah disusun rapi. Mereka berdua berencana menguasai harta keluarga Abraham, tanpa menyisakan sepersen pun untuk ayah dan anak itu. Davin dan Viona berjalan beriringan. "Aku sangat berterima kasih kamu sudah mau membantuku. Jujur saja, aku sangat merasa bersalah karena memaksamu untuk menikahiku, tanpa berpikir bagaimana perasaanmu dan statusmu," tutur Viona, begitu tulus dari dalam dasar hatinya.  "Aku akan jelasin semuanya ke pasangan kamu kalo kamu udah punya pacar atau istri," ucap Viona lagi. Gadis itu baru saja sadar apa yang dilakukannya bisa saja menyakiti hati wanita lain. Memaksa Davin untuk menikahinya, tanpa bertanya terlebih dahulu apakah sudah menikah atau belum. Atau bisa saja saat ini Davin tengah menjalani hubungan dengan gadis lain.  Alih-alih menjawab, Davin justru menggenggam tangan Viona untuk masuk ke ruang rawat mantan kekasihnya. Membuat jantung gadis itu berdegup kencang takut yang berada di dalam kamar rawat tersebut adalah istrinya Davin yang baru saja selesai melahirkan. Karena mereka kini berada di lantai khusus perawatan ibu-ibu melahirkan.  Merasakan tangan Viona yang mulai terasa dingin, Davin mengurungkan niatnya untuk membuka handle pintu. "Ini bukan kamar rawat istriku. Ini kamar rawat istri dari sahabat baikku. Seperti yang kukatakan kepada ayah tadi sebelum mengajakmu kemari. Dan kamu juga tidak perlu khawatir. Aku belum memiliki kekasih apalagi istri," ungkapnya. Sebelum lanjut membuka pintu yang ada didepan mereka berdua.  Viona bernafas dengan lega. Saat Davin mampu membaca pikirannya dan menjelaskan tanpa diminta. Sepertinya Viona merasa bahagia karena memiliki suami seperti Davin. Sangat peka terhadap perasaan istri sendiri. Sayangnya, itu hanya pernikahan sementara. Perkenalan dan obrolan ringan pun terjadi diantara mereka. Sahabat Davin tampak terkejut melihatnya datang dan memperkenalkan Viona sebagai istrinya. Padahal beberapa saat yang lalu Davin masih single dan tampak patah hati. Bisa-bisanya sekarang ia muncul dengan seorang wanita cantik dan mengaku sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mengejutkan.  Wanita itu terlalu cantik, jauh lebih cantik dibandingkan dengan wanita yang kini terbaring di atas ranjang pasien. Ya, mantan kekasih Davin yang baru saja menjadi ibu itu merasa sakit hati melihat sang mantan kekasih menggandeng wanita lain. Itu bukan hanya pacar, itu istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN