-5.6-

1340 Kata
Kelima orang yang ada di sana pun masuk setelah sebelumnya, Choki sang pemilik Vila mempersilahkan mereka untuk segera masuk ke dalamnya. “disini ada lima kamar, itu terserah kalian mau dimana aja … dan jika kalian mau ganti baju, kalian bisa pakai bajuku, bajuku ada di kamar lantai dua, pintu yang paling pojok kanan” jelas Choki seraya menunjukkan lokasi kamar yang ia ucapkan kepada mereka berempat, dan kedua pandangnya kini menoleh menatap Raya yang kini menganggukkan kepalanya karena mengerti, kedua matanya pun beralih menatap Haris yang saat itu bertanya, “apakah menurutmu kita bisa menyalakan lampu seperti ini?? apakah ini tidak akan menarik perhatian mereka??” tanya Haris di sana sangat jelas bahwa Haris memiliki rasa curiga yang sangat tinggi, ia akan memikirkan hal sekecil apa pun itu demi bertahan hidup, dan hal itu membuat Choki menoleh menatap lampu yang saat ini menyala di sana, dijentikkannya kedua bahu Choki untuk menjawab hal itu, dan karenanya membuat Haris kemudian meminta Choki untuk memadamkan lampunya, ia merasa bahwa  waspada lebih baik daripada tidak sama sekali. Mendengar hal itu membuat Choki sepakat dengannya lalu mematikan semua lampu di vila tersebut, “jadi, kita teh bakalan gelap-gelapan kaya gini, gitu?” tanya Nauval, ia menoleh ke arah kirinya, mengingat bahwa tadi yang berdiri di samping kirinya adalah sang kakak pertamanya, Haris. Dan selebihnya ia tidak mengetahui posisi yang lainnya, karena tidak ada yang dapat ia lihat selain gelap saat ini, ini terlalu gelap untuk mereka. Namun, ketika sebuah cahaya muncul dari sana, mereka justru ketakutan hingga membuat Raya dan Shiren menjerit cukup kencang karenanya, “hei, hei tenang, ini aku!” ucap Choki kepada mereka bredua yang kini saling berpelukan di sana, dan hal itu membuat Nauval terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, sedangkan Haris menghela nafasnya dengan lega, setelah mengetahui bahwa Choki lah yang menyalakan senter kecil miliknya. “ih! Kamu mah, ngagetin tauu!!” keluh Raya kepada Choki yang berada di sana, ia bahkan dengan polosnya memukul bahu Choki karena kesal dan mendengar keluhan dan tindakan itu membuat Choki sesegera mungkin meminta maaf kepadanya, “sorry, kan kalian yang bilang kalau terlalu gelap di sini … jadi saya rasa penerangan sekecil ini gakkan jadi perhatian mereka dong” ucap Choki seraya  menoleh menatap Haris yang kini menganggukkan kepalanya, dan setelah itu ia menunjuk ke sebuah nakas yang terletak tak jauh dari sana seraya berucap, “senter ini banyak di sana, kalian bisa ambil sendiri ya” sebelum akhirnya ia memberikan senter kecil itu kepada Raya dan berjalan mendekati Haris untuk kemudian berbisik di sana. “ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu, saya rasa biarkan para gadis di atas untuk mempersiapkan perbekalan kita besok” itulah bisiknya yang kemudian diberi anggukan setuju oleh Haris yang kemudian memerintahkan Raya dan Shiren untuk berganti pakaian dan menyiapkan hal yang harus dibawa oleh mereka tiga hari kedepan, dan ia juga memerintahkan untuk Nauval berjaga di pintu utama seraya memberikan assault rifle miliknya kepada sang adik untuk berjaga di sana.  Setelahnya, langkah kaki Haris kini mengikuti langkah kaki Choki yang berjalan memasuki lorong dan menuruni beberapa anak tangga, sebelum akhirnya mereka sampai di garasi milik Choki yang menampilkan beberapa mobil mewah yang terparkir di sana, mobil-mobil tersebut diantaranya adalah lamborghini gallardo, pininfarina sergio ferrari dan bugatti divo, dan tentu saja hal itu tentu membuat Haris yang menyukai jenis-jenis mobil mewah pun berdecak kagum melihatnya. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa kekagumannya terhadap ketiga mobil mewah tersebut, yang membuatnya dengan berani mengusap mobil-mobil itu dengan berkali-kali mengatakan kata ‘woah’, serta gelengan kepala kepadanya, dan melihat hal itu membuat Choki terkekeh karena tingkah Haris di sana sama seperti kebanyakan laki-laki yang menyukai mobil mewahnya, “sangat disayangkan bukan??” tanya Choki, dan hal itu membuat Haris segera menoleh menatapnya seraya bertanya, “hm??” tanyanya karena tidak mengerti dengan apa yang telah diucapkan oleh Choki, “mobilnya, kita tidak bisa memakai mobil seperti itu saat ini … karena mobil itu sangat sempit dan membutuhkan bahan bakar yang cukup banyak” jelas Choki seraya tertawa di sana, dan hal itu membuat Haris mengangguk mengiakannya dan menyayangkan juga mengenai hal itu, ia bahkan hanya bisa menghela nafas dan mengusap kembali bugatti itu untuk terakhir kalinya dan kemudian ia kembali membahas mengenai topik yang seharusnya mereka bahas saat ini. “so … jadi apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan padaku? Karena tidak mungkin kau mengatakan hal itu hanya untuk memamerkan mobil mewahmu ini, karena waktu sekarang tidaklah tepat untuk itu” jelas Haris kepada Choki yang kini meraih knop pintu yang tersembunyi di sana, dan ketika Choki menarik knop itu, kedua mata Haris kini menatap sesuatu yang berada di balik pintu tersebut dengan sangat terkejut. Bagaimana tidak? Ruangan itu tersimpan cukup banyak senjata yang bermacam serta merta dengan amunisinya, “sebenernya ini punya temen saya, tapi … berhubung ini adalah barang yang kita butuhkan sekarang, jadi saya perlihatkan ini ke lu” ucap Choki seraya menoleh menatap senjata-senjata yang tersusun rapih di atas rak tersebut, seolah bahwa ruangan itu memang dibuat khusus untuk menyimpan barang seperti itu dan kemudian pandangnya pun beralih menatap Haris yang masih terkejut setelah melihatnya. “dari mana kamu mendapatkan ini semua??” tanya Haris seraya berjalan mendekati persenjataan yang ada di sana, ia bahkan meraih sub machine gun untuk kemudian ia lihat bentukan yang benar-benar masih mulus, “sebenernya ini bukan punya saya, Dayan temen saya yang punya … eum, beberapa juga punya saya sih, tapi gak banyak dan ini adalah sebagian dari senjata yang saya sita di sini, dan yang lainnya ada di jakarta. Disini cuma ada satu revolver keluaran terbaru, Assault rifle taun dua ribuan, sub machine gun, mossberg shotgun, tiga granat, empat granat asap dan tujuh sisanya adalah flash bang” terang Choki, ia dengan santai menunjuk satu persatu serta menyebutkan satu persatu senjatanya seolah dia mengetahui betul jenis dari senjata yang ada di sana, namun tak ada satu pun kata-kata darinya yang di sanggah oleh Haris yang saat itu merasa bahwa Choki menjelaskan secara detail mengenai senjata mana saja yang ia miliki di sana yang pada akhirnya membuat Haris terkekeh seraya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan orang yang baru saja ia selamatkan beberapa waktu yang lalu. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Haris kemudian terdiam dan berpikir mengenai sesuatu hal, yang akhirnya membuat dirinya segera menoleh menatap Choki dan ia pun bertanya, “apakah kamu memiliki izin dan lisensinya??” tanya Haris kepada Choki yang kini membulatkan kedua matanya setelah mendengar pertanyaan itu, dan dengan tergagap ia mengatakan bahwa barang-barang itu milik temannya yang sengaja ia sita karena ia membeli barang yang ilegal. “ini bukan punya saya … sumpah! Ini tuh barang milik Dayan dan saya sita karena dia gak punya lisensinya, saya cuma beli dua senjata aja kok!” ucap Choki berusaha untuk mengkarifikasikan bahwa barang tersebut bukanlah miliknya, meski pada akhirnya ia mengaku bahwa ada dua senjata yang ia akui bahwa itu adalah miliknya, namun ucapannya terhenti ketika Haris berdiri di hadapannya seraya melipat kedua tangannya di depan d**a, seolah menagih hal yang ia pinta sebelumnya dan ia menunggu untuk mendapatkan lisensi serta surat idzinnya, hal itu membuat Choki tidak bisa berucap apa pun lagi selain tercengan karenanya, “seriously?? di saat situasi kaya gini, lu masih nanya tentang lisensi?? oh come on! Sebagian besar dari mereka bukan punya saya!” timpalnya lagi dan hal itupun akhirnya membuat Haris mengangguk seraya berucap, “oke, karena situasinya lagi kaya gini dan kita juga memang sedang membutuhkan senjata ini untuk perlindungan diri, jadi kita kesampingkan tentang lisensi dan surat lainnya, jadi ayo kita kemasi dan bawa ke atas!” Jelas Haris, dan hal itu membuat Choki menghela nafasnya dengan tenang yang kemudian terkekeh seraya meraih assault rifle keluaran dua ribu itu dan memberikan senjata tersebut kepada Haris yang menerimanya,  “by the way, dimana temanmu itu?” dan pertanyaan yang terlontar dari Haris saat itu membuat Choki sempat terdiam sedetik dan kemudian ia menoleh menatap Haris dan kembali melanjutkan untuk mengemas senjata-senjata itu, sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala untuk menjawabnya, tanpa menjawab dengan satu kata apa pun.  to be continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN