Setelah di kumpulkan oleh Pak Yanuar, Pak Rahmat dan petuah lainnya, warga desa baik pemuda-pemudi serta orang tua kini seluruhnya berkumpul di sana. Menatap ke arah lima orang yang kini berdiri di depan papan yang dengan sengaja mereka siapkan untuk membuat semacam pidato atau lebih tepatnya rapat dalam sekala yang cukup besar. “arurang teu make pengeras sora kusabab listrik na acan hirup, jadi … aranjeun kudu cicing jeung merhatikeun Ujang Haris jeung Ujang Kiki nyarios nya (kita semua tidak memakai pengeras suara, karena listriknya belum menyala, jadi kalian semua harus diam dan memperhatikan Ujang Haris dan Ujang Kiki berbicara ya)” ucap Pak Yanuar meminta pengertiannya kepada orang-orang yang ada di sana yang kini mengangguk seraya berucap, “muhun! (iya!) ” “Muhun Kang! ( iya Ka

