-5.3-

1204 Kata
Sejauh mereka menjalankan mobil, setelah keramaian dan kericuhan sempat terjadi pagi tadi yang menyebabkan Haris terlihat panik, Nauval begitu tertekan, serta Shiren yang ketakutan. Namun sore ini, tidak ada satupun manusia maupun zombie yang mereka dapati di sana. Kota Bandung itu seperti kota mati saat ini, tak ada satupun kendaraan yang melaju selain dari kendaraan milik mereka bertiga, dan sisanya hanyalah kendaraan yang terparkir dan berhenti secara acak di sekitar jalanan, hal itu tentu mencekam bagi mereka bertiga. “kemana perginya yang lain?” tanya Nauval di sana, kedua matanya menghintari ke arah kanan dan kiri, pandangannya menelusuri bangunan-bangunan yang terpampang jelas di jendela sana, namun tak ada satupu dari manusia dan juga zombie yang ia temui saat itu. Mendengar pertanyaan yang terlontar dari Nauval membuat Haris menganggukkan kepalanya, kedua matanya pun sama seperti sang adik, ia menghintari sekitar untuk setidaknya menemukan sebuah tanda kehidupan di sana. Namun nihil, tak ada satupun manusia yang ia temui dan tak ada satupun zombie yang datang. “kemana para makhluk itu pergi?” gumam Haris bertanya kepada dirinya sendiri, namun pertanyaan yang ia ucapkan pun tidak bisa ia dapatkan jawabannya, jawaban mengenai kemana perginya para zombie itu. Apakah mereka pergi menelusuri daerah lainnya untuk memburu warga yang masih sehat lainnya? Ataukah waktu ini adalah waktu bagi mereka para zombie untuk beristirahat? Tidak ada yang tahu kenapa mereka tidak ada di sekitaran wilayah tersebut saat ini, namun … itu adalah moment yang pas bagi mereka untuk bisa setidaknya bisa sedikit merasa aman di sana. Begitu pula di jalan Tol, tak ada satupun kendaraan yang mereka temui di sana.   “kurasa zombie-zombie itu bersembunyi di suatu tempat” ucap Nauval menduga hal tersebut, namun kedua matanya kini menatap ke arah dua orang yang berjalan di dalam kegelapan langit jauh di pinggiran tol sana. Berjalan di depan dan mendahului mereka yang berada di dalam mobil itu, dan terlihat dua orang itu adalah seorang lelaki yang tengah menodongkan senjatanya yang berjenis revolver keluaran tahun dua ribu itu ke arah depan, serta seorang wanita yang menggenggam baju yang tengah di pakai oleh sang pria, dan terlihat dari sana bahwa wanita itu bersembunyi di balik tubuh lelaki yang berada di depannya. Melihat hal itu membuat Nauval menepuk bahu Haris yang tengah menyetir di sampingnya, dan ketika Haris menoleh, sesegera mungkin Nauval menunjuk dua orang yang tengah berjalan di sana. Hal itu membuat Haris memelankan laju kendaraannya untuk melihat dengan jelas ketika mereka melewati dua orang yang tengah berjalan di sana. “kita harus bantu mereka!” ucap Haris seraya menepikan mobilnya setelah ia melihat bahwa kedua orang tersebut melambai-lambai meminta bantuan kepada mereka yang sudah melewati keduanya, baru saja ia hendak melepaskan safety belt miliknya, namun pergerakan itu terhenti oleh tangan Nauval yang menahan tangannya seraya berucap, “kakak yakin, mau bantu mereka?” tanya nauval seraya menatap kedua mata Haris dengan tatapan ragu, dipandangnya Nauval oleh Haris yang kini juga menatapnya, dan dari tatapan sang adik, ia mengetahui bahwa Nauval memintanya untuk memikirkan hal tersebut lebih matang lagi. Dengan penuh keyakinan Haris menganggukkan kepalanya, menatap sang adik seraya menjawab, “ya, mereka sama seperti kita dan mereka membutuhkan bantuan kita!” ucap Haris seraya melepaskan safety belt miliknya dan segera berjalan keluar dari mobilnya. Tak ada yang dapat dilakukan oleh Shiren selain menoleh menatap sang kakak yang mendekati kedua orang itu, sedangkan Nauval meraih assault rifle milik sang kakak dan menodongkannya ke arah mereka, takut-takut jika mereka menyerang secara tiba-tiba kepada Haris sang kakak. Ia juga melakukan hal itu jika-jika salah satu dari mereka adalah zombie atau ada zombie lain yang menyerang mereka, tanpa mereka ketahui sebelumnya. Tidak lama mereka berbincang di sana, karena nampaknya Haris meminta mereka untuk segera masuk ke dalam mobil miliknya agar mereka aman dari serangan Zombie, dan hal itu membuat mereka mengangguk dan bersama-sama berlari menuju ke mobil jeep itu. … Ketiganya masuk ke dalam mobil tersebut, dan setelah mobil itu kembali dilajukan oleh Haris, lelaki yang terduduk di seat belakang kemudi pun berucap, “um … terima kasih atas tumpangannya, saya Choki dan ini teman saya Raya” ucap lelaki itu membuka suara di sana, mendengar hal itu membuat Haris menganggukkan kepalanya. Masih dengan mengemudikan mobilnya di sana, ia berucap, “aku Haris, dan mereka adalah adik-adikku, Nauval dan Shiren” jelas Haris seraya mengedikkan kepalanya ke arah Nauval yang berada di sampingnya, mendengar hal itu membuat Shiren mengulurkan tangannya pada Raya yang terduduk tepat di sampingnya, tidak lupa dengan senyuman manis yang ia berikan kepada Raya. Dan itu pun yang dilakukan Nauval kepada Choki, namun berbeda dengan sang kakak, Nauval tidak memasangkan senyuman manis di sana. “Shiren” “Nauval” Ucap mereka dengan serempak setelah Raya dan Choki menjabat tangan keduanya. “jadi … kenapa kalian bisa ada di pinggir jalan tol kaya gitu? Sebenernya kalian mau kemana?” tanya Nauval seraya menoleh menatap Choki, dan dari tatapan yang ditunjukkan oleh Nauval terlihat jelas bahwa ia penasaran dengan Choki dan juga Raya. “mobil kami mengalami mogok, jadi kita gak bisa melanjutkan perjalanan dengannya” jawab Choki kepadanya yang kini menganggukkan kepalanya, dan kembali bertanya, “jadi, sebenarnya kemana tujuan kalian??” tanya Nauval menjelaskan lagi pertanyaan yang belum sempat dijawab olehnya dan hal itu membuat Haris menoleh menatap sang adik yang baru saja bertanya, Haris merasa bahwa pertanyaan itu tidaklah sopan, namun ketika ia hendak menegurnya, ucapan Choki membuat Haris lebih memilih untuk menatapnya, pada saat itu Choki berucap, “awalnya kami pergi ke tempat yang dikatakan zona aman itu, tapi di sana gak ada siapa-siapa dan kami memutuskan untuk pergi ke Jakarta, namun karena ini sudah larut dan kami tidak tahu apakah akan aman melakukan perjalanan di malam hari … jadi pada akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke vila milik saya untuk beristirahat, dan di sana juga ada beberapa persediaan makan dan peralatan yang mencukupi” jelas Choki kepada Nauval yang kini menolehkan pandangannya menatap Haris, “apakah kami boleh ikut ke sana? Karena Kurasa ucapanmu ada benarnya juga, mengenai bahayanya perjalanan malam dan lagi aku juga Nauval juga sudah lelah dan tidak bisa melanjutkan perjalanan jika harus terus menerus menyetir secara bergantian” ucap Hari kepada Choki di sana, dan hal itu tentu membuat Choki menganggukkan kepalanya setuju dengan hal itu, dan ia pun berucap, “tentu! Itu akan menjadi lebih baik lagi, jika kita bisa pergi bersama-sama meninggalkan kota ini, dan kalian bisa bergantian mengemudi denganku” jelas Choki seraya menoleh menatap Raya yang menganggukkan kepalanya dengan pelan. Shiren melihat bahwa Raya hanya mengenakan kain tradisional yang tipis serta jas milik Choki yang ia kenakan, dan hal itu membuatnya meraih selimbut yang terdapat di belakang jok mobil itu, dan kemudian ia memberikkannya kepada Raya seraya berucap, “pakailah, tutupi kakimu, kurasa udara di mobil sangat dingin” jelas Shiren kepadanya yang kini tersenyum dan meraih selimbut tersebut seraya berucap, “terima kasih” ucapnya dan hal itu membuat Shiren menganggukkan kepala dan tersenyum dengan cukup lebar. “bisakah kau menjadi petunjuk arahku kemana kita pergi, Choki?” tanya Haris seraya menoleh menatapnya lewat kaca spion mobil. Mendengar ucapan itu membuat Choki segera menganggukkan kepalanya dan menoleh menatap ke arah jalanan, iapun menjadi petunjuk arah Haris untuk pergi ke Vila miliknya dan beristirahat dengan tenang di sana.  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN