Hujan malam itu seolah menemani dan mendukung semua perasaan Cila. Saat ini dirinya tengah berdiri di dalam kamar miliknya, kamar yang menjadi kenangan terindah yang pernah ia lakukan bersama Marcel, pria yang ia anggap menjadi orang terakhir dalam hidupnya, tempat dirinya mengabdi, dan pria yang mampu membuat dirinya yakin jika Marcel selalu memuja dirinya. Namun semua hanya bualan semata dan harapan semu, lucu saat Cila menyadari jika perlakuan Marcel selama ini nyatanya kemunafikan belaka, nyatanya perlakuan Marcel sore tadi membuktikan semuanya. Cila tidak bodoh, dia tentu saja tahu dengan apa yang Marcel lakukan. Jelas terlihat di depan mata kepalanya sendiri. Tatapan mata itu jelas menggutarakan segala kerinduan yang suaminya miliki, lalu tawa lepas yang dia lihat tadi seolah melepa

