Jessica seharusnya sadar diri dan tidak melakukan hal-hal bodoh seperti membiarkan segala harapan dan perasaannya kepada Alex kembali muncul. Sudah bertahun-tahun berlalu, ia tidak yakin apakah Alex yang sekarang masih sama dengan Alex yang dulu- kecuali dalam perasannya kepada Jessica-. Sudah tiga tahun kalau tidak salah semenjak hubungan mereka berakhir. Setelah itu Jessica tidak tahu apa saja yang telah dilewati Alex tanpanya. Jessica juga tidak tahu jika memang benar-benar ada perempuan yang Alex cintai saat ini. Oleh karen itu sejak di lift ketika Alex memberitahukan tujuannya memberikan bunga mawar putih setiap hari sabtu adalah untuk gadis beruntung yang dicintai Alex, Jessica merasakan hatinya telah ditikam oleh belati. Dirinya tersenyum miris. Alex adalah laki-laki yang romantis, sangat. Dulu juga Alex sering memberinya bunga. Hanya saja itu tidak sesering sekarang. Alex memintanya setiap sabtu. Dan setelah membeli bunga, kemana Alex akan mengajaknya pergi? Menemui gadis beruntung itu. Jessica memejamkan matanya. Ia lebih memilih pulang daripada melihat interaksi mereka berdua. Ah, Jessica tertawa miris. Kenapa ia terlihat seperti belum mengikhlaskan Alex? Bukankah itu semua salahnya yang menyia-nyiakan laki-laki sebaik Alex.
“Kita sudah sampai.” Jessica menatap toko bunga itu dan merasakan pilu di hatinya. Kenapa harus dia yang membelikan bunga itu untuk gadis Alex? Kenapa juga ia harus ikut Alex ketika Alex memberikan bunga itu. Kenapa tidak Alex saja yang melakukan itu sendiri? Membelikan bunga sendiri dan datang bertemu dengan gadisnya tanpa sepengetahuan Jessica. Setidaknya dengan tidak tahu, Jessica tidak akan merasakan pilu seperti ini.
“Cepatlah. Aku tidak ingin terlambat.”
Jessica segera melepas seatbelt. Alex pasti tidak ingin membuat perempuan itu menunggu lama. Ah, untuk hal satu itu Alex rupanya tidak berubah. Dalam hati kecilnya, Jessica ingin sekali membawakan bunga bangkai kepada perempuan itu. Ia kesal. Dirinya seharusnya tidak merasakan perasaan tidak nyaman ini. Ia tidak berhak lagi atas Alex termasuk membatasi laki-laki itu untuk mencintai perempuan lain. Jessica sudah kehilangan hak itu sejak lama. Dengan gerakan cepat, Jessica mengambil buket mawar putih. Ia tidak perlu mengeluarkan kepintarannya dalam hal memilih bunga karena hanya akan membuang waktu. Juga itu hanya akan membuatnya semakin kesal. Untuk apa ia repot-repot memilihkan bunga terbaik yang nyatanya akan diberikan kepada perempuan lain yang Alex cintai. Setelah membayar dan menerima kembalian, Jessica menggumamkan terima kasih. Ia segera kembali ke mobil. Alex tidak ingin terlambat bukan?
“Aku butuh buket yang lebih besar,” ucap Alex saat Jessica kembali dengan bunga yang telah ia beli. Jessica menghela napas. Kenapa Alex tidak bilang dari tadi? Seingatnya Alex tidak menyebutkan spesifikasi khusus selain mawar putih. Ia lantas berniat kembali ke toko bunga.
“Berikan bunga itu kemari. Dan belilah yang lebih besar lagi.”
Jessica menyerahkannya tanpa kata-kata lantas keluar mobil dan berlari menuju toko bunga. Tidak ada buket yang benar-benar besar di toko itu, jadi Jessica hanya membeli ukuran sebesar yang mereka punya. Semoga saja Jessica tidak perlu berbalik lagi. Buket kali ini lumayan besar tapi Jessica masih bisa memangkunya di kursi depan. Jika diletakkan di kursi belakang atau di bagasi, Jessica khawatir bunga itu akan rusak jadi ia akan memilih untuk memangkunya.
“Bagus. Pilihanmu cantik.”
Dan pilihanku akan kau berikan untuk perempuan yang kau cintai. Dasar aneh.
------
Jessica sadar bahwa dirinya sudah merasa tidak nyaman semenjak mengetahui tujuan Alex. Hanya saja detak jantungnya berdetak semakin cepat ketika mereka tiba di tempat tujuan. Matanya membulat karena menatap tempat itu dengan terkejut. Ia menoleh ke arah Alex. Memperhatikan ekspreasi laki-laki itu. Hanya ingin mencari tahu. Akan tetapi pria itu terlihat santai seolah ada masalah. Jessica lantas menurunkan pandangannya dan menatap ke arah buket yang ia pangku. Rasa sedih menamparnya.
“Kau-”
“Ayo turun. Kau akan melakukan ini setiap sabtu jika aku tidak sempat. Jadi kau harus tau percis posisinya,”
Alex melepas seatbeltnya dan keluar mobil. Sementara Jessica masih mematung di tempatnya. Ia menatap kembali ke buket bunga yang dipangkunya. Lalu matanya beralih ke arah tempat yang akan dimasuki Alex. Laki-laki itu bahkan tidak perlu repot menunggu Jessica turun atau pun membantu membawakan bunga. Sadar langkah Alex semakin menjauh, Jessica pun segera ikut turun. Hatinya bergetar menyaksikan semua ini. Alex mengajaknya pergi ke pemakaman. Dirinya jadi teringat akan ucapan Nyonya Brigit mengenai Kak Chelsea yang telah meninggal. Jessica menggigit bibir bawahnya. Jadi perempuan yang dicintai Alex, adalah kakaknya sendiri. Ah, bagaimana bisa Jessica melupakan fakta itu. Dulu saat Alex berhubungan dengannya, Alex mengatakan bahwa Jessica berada di urutan ketiga deretan perempuan yang dia cintai. Tentu setelah Kak Chelsea di urutan kedua, dan Nyonya Brigit di urutan pertama. Jadi kabar dari Nyonya Brigit benar bahwa Kak Chelse telah meninggal. Jessica benar-benar merasa sedih untuk fakta itu. Ia jadi menyesal sempat kesal selama perjalanan kemari. Bahkan dirinya memilih bunga secara asal-asalan. Jika saja ia tahu bahwa tujuan Alex pergi ke makam kakaknya, Jessica juga pasti akan membelikan bunga sebagai bentuk penghormatan. Apalagi ini pertama kali Jessica datang ke makam mendiang kak Chelsea setelah absen dari prosesi permakaman perempuan itu karena Jessica tidak mengetahuinya sama sekali.
Jessica melangkah mengikuti Alex yang melewati banyak makam. Ia berada di belakang Alex sehingga tidak tahu bagaimana raut wajah laki-laki itu sekarang. Entah bagaimana perasaan Alex setelah kehilangan kakak tercintainya. Dan terkait Nyonya Brigit. Jessica yakin wanita itu pasti sangat sedih. Setelah Alex berhenti di sebelah makam, Jessica menoleh. Iya, itu makam kak Chelsea karena ada namanya disana. Dan makam kak Chelsea berada di sebelah makam Tuan Johnson- ayah Alex-. Ah, wajar jika Nyonya Brigit sempat mengatakan bahwa dirinya benar-benar kesepian. Jessica jadi prihatin. Alex berlutut lantas meminta buket dari genggaman Jessica.
“Kau boleh mendoakannya. Setelah itu tinggalkan aku disini. Tunggu di mobil.”
Tanpa sadar setitik air mata Jessica terjatuh. Akan tetapi, ia buru-buru menghapusnya. Sekarang bukan waktu untuk bersedih bukan. Terlepas dari apapun penyebabnya pergi kak Chelsea dari dunia ini, Jessica mulai mendoakannya.
Setelah selesai. Ia menatap Alex sebentar. Laki-laki itu juga sudah selesai berdoa nampaknya. Jessica menatap ada buket layu yang berada disana. Alex pasti melakukannya setiap minggu. Pandangannya kembali kepada Alex. Dia hanya diam saja. Akan tetapi, tatapannya kosong. Tidak ingin mengganggu momen Alex, Jessica lantas melangkah pergi meninggalkan Alex tanpa suara.