Chapter 3 - Saingan Arsen

1031 Kata
"Kamu kok belom siap-siap sih? Lagi setengah jam kita berangkat, Ara." Omel Jennie saat melihat Ara masih asik Youtube-an. "Haduh mama, Ara ini nggak mau ikutan makan malam sama kalian. Tugas sekolah ku numpuk nih." Elak Ara tanpa menoleh ke Jennie dan bodohnya dia tidak tahu bahwa sebenarnya Jennie memperhatikan dirinya yang sedang youtube-an. "Aduh aduh, ampun." Teriak Ara saat Jennie menjewer telinganya. "Dasar anak bandel, nugas apaan yang nge-Youtube idolnya? Mau Mama buang semua koleksi mu?" "Iya, maaf. Lepas dulu, sakit." "Bilang kalo kamu mau ikut dulu baru mama lepas ini." Jennie semakin menarik telinga Ara dan membuat Ara berteriak kesakitan. "Iyaiya, ikut Ara. Nih siap-siap sekarang." Ara lebih memilih mengalah daripada telinganya habis ditarik Jennie, lagian Jennie tega sekali menarik telinga Ara hingga rasanya mau lepas. "Mama tunggu dibawah, kalo dalam lima belas menit kamu belum turun, Mama buang tuh semua koleksi oppa mu." Ancam Jennie lalu keluar dari kamar Ara. Hah... Sebenarnya Ara mau-mau aja ikut acara makan malam ini, kapan lagi kedua orang tuanya berbaik hati mengajak dirinya ke restaurant mahal untuk sekedar makan malam. Tapi, ketika Ara tahu alasannya, dia pun membatalkan diri untuk ikut acara makan malam ini. Itu semua karena kehadiran Arsen. Ara hanya bingung saja kenapa harus keluarga Arsenio yang diundang dalam makan malam ini, apa kedua orang tuanya tidak mempunyai teman lain selain Bella dan Rey? Menyedihkan sekali masa muda kedua orang tuanya jika benar begitu. ------ Ara sibuk melihat lukisan-lukisan yang ada sambil menunggu kedatangan keluarga Arsenio, keluarga Ara memang datang lebih cepat dari keluarga Arsenio dan itu semua karena Jennie yang menyuruh Ara ataupun Marco cepet-cepet. "Maaf, kami membuat kalian menunggu lama." Ucap Bella saat masuk ke dalam restaurant. Ara membalikkan kepalanya sesaat saat mendengar suara Bella lalu mendekati seorang anak laki-laki yang berada di dekat Bella. "Hallo Willi, kamu semakin tinggi saja ya." Sapa Ara pada anak laki-laki itu. "Iya dong, aku cepet tinggi biar bisa nikahin kak Ara." Ucap William dan membuat Bella ataupun Jennie tertawa karena ucapannya. "Apaan lo nikah-nikah? Ara nikahnya cuma sama gue doang, bocil lo." Ucap Arsen ketus, dia kesal karena Ara lebih memilih menyapa William ketimbang dirinya. Padahal Arsen sudah memilih setelan jasnya paling keren untuk Ara, tapi nyatanya Ara malah lebih memilih menyapa William terlebih dahulu ketimbang dirinya.Dia juga yakin seratus persen bahwa Ara akan menatapnya terus karena hari ini dia ganteng maksimal, bahkan tamu wanita dan pelayan-pelayan wanita tadi terus memperhatikan dirinya. Tapi, kenapa Ara malah tidak memperhatikannya? Malahan dia lebih memilih untuk menyapa William. "Kak Ara nggak mau nikah sama Kak Arsen, jangan ngaco deh." "Wah, makin tengil nih bocah." Baru saja Arsen ingin menjitak kepala William tapi Marco sudah memberikan intrupsi terlebih dahulu. "Sudah sudah, ayo duduk dulu lalu makan." Ajak Marco dan semuanya setuju, Rey menarik kursi untuk Bella duduk hingga membuat Bella tersipu malu, walaupun sudah berumur tapi Rey tetap memperhatikan Bella dimana pun. Di lain sisi, Arsen dan William rebutan menarik kursi untuk Ara walaupun yang menang Arsen karena beda badan dan kekuatan, tapi William tidak mau kalah tentunya. Dia punya cara lain untuk menarik perhatian Ara. "Kak Ara, Willi duduk dipangkuan kakak ya? Mau disuapin juga." Ucap William dengan suara yang menggemaskan dan jangan lupa puppy eyes hingga membuat Ara tidak tega untuk menolaknya. "Sontoloyo sekali anda ya, duduk sendiri nggak usah manja." Sela Arsen ketika Ara ingin menjawab ucapan William. "Gue kan nggak ngomong sama lo." "Wah, sama kakak sendiri berani lo pake gue gue, mau gue jitak kepala lo ampe botak? Mau lo?" Perdebatan mereka terus akan berlanjut jika Bella tidak turun tangan. "Kalian ini, malu dong sama keluarga Ara. Ayo cepet duduk di kursi kalian masing-masing, Ara bisa ditengah kalo kalian mau." Saran Bella dan langsung disetujui oleh Arsen ataupun William, sedangkan Ara cuma bisa pasrah saja. Jika kalian pikir setelah mereka berdua bisa diam karena Ara sudah duduk ditengah-tengah mereka, kalian salah besar. Mereka tetap berseteru agar Ara hanya memperhatikan salah satu dari mereka dan hal inilah yang membuat Ara kesal setengah mati. Tidak bisakah Ara makan dengan tenang tanpa gangguan para tuyul-tuyul ini? Sepertinya tidak. ----- "Kak Ara, tau nggak bedanya kakak sama bulan? " "Nggak, emang apa bedanya?" "Kalo bulan itu ada untuk bumi dan makhluk hidup, tapi kalo kakak ada cuma untuk aku." Gombal William dan membuat Ara tertawa kecil. "Sa ae lo p****l motor." Ucap Arsen ketus, bisa-bisanya nih bocil ngegombalin Ara. "Sirik aja lo, sempak."  "Makin kurang ajar lo, mau mata lo tuh gue rujak?" "Ih udah-udah dong, tengkar mulu. Willi nggak boleh ngomong gitu sama kakak sendiri." Nasehat Ara kepada William sambil mengajaknya duduk di taman restaurant. Mereka bertiga disuruh berkeliling restaurant oleh Rey, karena ada pembicaraan serius antar orang tua Ara dan Arsen. Jadinya, mereka terdampar di taman. "Dengerin toh kakak ipar lo." "Kamu juga, Arsen. Kamu kan kakaknya, jadi kasih contoh yang baik dong buat Willi." Ara juga menasehati Arsen. "Berani sama gue sekarang?" Arsen menatap Ara tajam hingga membuat nyali Ara menciut.  Siapa sih yang betah ditatap seperti sama Arsen? Ara yang sudah kenal lama sama Arsen saja masih takut, apalagi orang-orang yang baru kenal Arsen.  "Ara kan ngasih tau yang bener."  Arsen diam, tidak menjawab, dia sibuk menikmati suasana taman, berduaan dengan Ara karena William tidak dia hitung. Apalagi Ara tampak sangat manis dengan dress biru dan cardigan putihnya. "Lain kali, jangan pake dress yang terlalu pendek. Gue nggak suka, paham?" Ucap Arsen dingin, Ara mengganguk mengerti. Arsen memang terlalu posesif atas Ara, bahkan sampai pakaian pun diatur-atur juga walapun niatnya memang baik. Arsen juga jengkel karena Ara terlalu manis hingga membuat para lelaki hidung belang terus memperhatikannya ketika mereka ada di lobby. Jika bukan karena Arsen membalas tatapan mereka dengan tatapan tajam bagaikan singa mau memangsa korbannya, pasti mereka akan mendekati Ara. Apalagi Ara itu tipikal cewek oon bagi Arsen, susah bedain yang baik dan jahat untuknya, selain itu terlalu percaya sama orang, walaupun itu sama orang yang baru dia kenal. Asal orang itu memasang wajah pura-pura ramah kepada Ara, Ara akan percaya.  Arsen sempat heran dengan sifat Ara ini, kenapa juga Ara tidak menuruni sifat mamanya, Jennie, yang terkenal galak dan tidak main-main sama orang kalo berani menyentuhnya. "Arsen." Panggil Ara membuat Arsen kembali ke dunia nyata. "Hum." "Arsen itu, beneran suka sama Ara?" Tanya Ara ragu-ragu. Arsen menatap Ara, gadis itu sedang menunduk sambil memainkan kedua jari telunjuknya, dia gugup. "Menurut lo?" Tanya Arsen balik. "Nggak tau."  "Gue nggak suka sama lo." Ucap Arsen dan seketika membuat waktu berasa berhenti saat itu juga. Jadi, apa yang dirasakan Ara selama ini benar? Arsen hanya ingin mempermainkan dirinya saja, layaknya game-nya, ketika Arsen bosan, Arsen akan membuangnya tanpa berpikir dua kali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN