Bab 24

1046 Kata
Bayu pulang dengan perasaan yang kacau balau. Setibanya di rumah, pria itu bahkan tidak menggubris sapaan dari Darminah. Ia hanya bercakap-cakap sedikit, lantas segera masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di ujung tempat tidur, sembari menunduk. Menatap pada sepasang kaki yang selama ini menemani Langkahnya. Masa lalu begitu rumit untuk di ingat. Harapannya sudah hilang. Bayu masih bisa memperjuangkan restu Kepala Desa itu, jika saja Rusmi masih sendiri. Tapi bila sudah dijodohkan, maka lain lagi ceritanya. Melawan hanya akan mendatangkan lebih banyak kesialan lagi bagi Ibu juga adik-adiknya kelak. Sudah cukup Bayu menyeret keluarganya dalam masalah. Rani menghampiri Darminah yang saat ini tengah duduk di ruang tamu. Dengan kacamata tebal, wanita paruh baya yang saat ini masih terlihat cantik itu tengah memasukkan benang ke dalam jarum. Rani menggelengkan kepalanya. Perihal jarum saja, untuk apa Darminah repot-repot. Harusnya dia bisa meminta tolong pada Rani. "Sini, Bu. Biar Rani saja," serobot Rani tanpa permisi. Darminah melepaskan kaca matanya, lalu melihat ke arah tangan Rani yang sudah tidak di perban lagi. Sepasang mata milik Rani masihlah sangat awas. Karena itu tanpa perlu menggunakan kaca mata, juga dalam waktu singkat Rani berhasil memasukan benang ke dalam jarum. "Tangan kamu sudah tidak sakit lagi, ndok?" tanya Darminah. "Alhamdulillah sudah, Bu. Hanya bekasnya saja, Rani yakin tidak akan bisa hilang. Untung hanya di lengan, Rani masih bisa menggenakan baju panjang untuk menutupinya. Kalau luka ini ada di wajah ... haduhh, masa Rani harus menggunakan cadar?" ujar Rani sembari menyerahkan jarum dan benang pada Darminah. "Ehm ... sejak pulang dari kolam, Mas Bayu sepertinya murung. Ada apa ya, Bu?" tanya Rani penasaran. "Tumben kamu perhatian pada, Kakakmu to, ndok," kata Darminah dengan heran. Biasanya Rani tidak pernah membicarakan apa-apa soal Bayu. Rani cenderung lebih sering bersikap masa bodoh dengan apa yang dilakukan oleh Kakaknya. "Cuma penasaran. Biasanya Mas Bayu kan ngomong. Atau ndak Mas Bayu biasanya mengganggu dan mencari perhatian Rani. Tapi sekarang berbeda, Bu." Jadi diam-diam, Rani juga seringkali memperhatikan sikap Bayu. Sekeras-kerasnya batu karang, lama kelamaan akan terkikis juga. Begitu pula dengan hati Rani. Sejak Bayu menyelamatkannya dari Toni, perlahan-lahan hati Rani yang sekeras batu itu, mulai terkikis. "Ibu mau jahit baju siapa?" Enggan ditanya lebih jauh, Rani mengalihkan topik pembicaraan. "Bajunya Fajar. Ada jahitan yang lepas, kasihan dia," balas Darminah kemudian. "Ehmm, ya sudah. Rani ke kamar dulu sebentar," ujar Rani kemudian. Sebelum Rani benar-benar pergi ke kamarnya, ia sempat berhenti tepat di depan kamar Bayu. Tangannya terangkat, bergerak, berniat untuk mengetuk pintu kamarnya. Tapi tangannya berhenti, tepat ketika jari itu hanya berjarak sekitar satu sentimeter lagi untuk menyentuh benda itu. Tak jadi mengetuk pintu, Rani memutuskan untuk melakukan hal lain. Ia menurunkan kepalanya, mengintip dari lubang kunci dengan sebelah mata tertutup. Tampak Bayu sedang duduk dengan kepala yang tertunduk. "Mas Bayu, kenapa?" tanya Rani dalam hati. *** Sore ini Bayu melakukan penelusuran untuk menyelidiki apa menyebabkan ribuan ikan-ikan milik ibunya mendadak mati. Tujuan pertama yang ia lakukan adalah berkunjung ke rumah Trisna. Rumah salah satu orang kepercayaan Darminah yang biasa mengurus tambak ikan, selain Bono. Menurut penuturan Bono, Trisna itu sedang sakit. Selain mencari informasi, Bayu juga bermaksud menjenguk anak itu, atas nama Ibunya. Bayu sampai di depan sebuah rumah bercat putih yang asri dan penuh dengan tanaman hijau. Sejuk dan indah di pandang mata. Siapapun yang tinggal di rumah itu, pasti orang yang pandai menata ruang sempit dengan sedemikan rupa nyamannya. Bayu mengetuk pintu sambil mengucap salam beberapa kali, hingga seorang Ibu-ibu paruh Baya membukakan pintu. Wanita itu menyipitkan mata, memandangi wajah Bayu. "Wallaikumsalam. Mencari siapa, nak?" tanya Ibu itu. Dari gelagatnya, wanita di depan Bayu ini tidak bisa melihat dengan jelas, karena terus mengernyitkan dahi. "Saya temannya Trisna, Bu. Katanya Trisna sedang sakit. Saya mau datang menjenguk," kata Bayu kemudian. Entah kenapa, pria itu enggan mengakui dirinya adalah Bayu. Ia takut akan ada penolakan atau keterkejutan tiba-tiba yang membuatnya harus merasakan kecewa lagi. "Ohhh, iya, Ndok. Trisna memang sedang sakit. Mari masuk, duduk dulu sebentar. Ibu beri tahu Trisna dulu, ada temannya yang datang," ijin sang Ibu. Bayu mengikuti ajakan sang Ibu untuk duduk di ruang tamu. Setelah beberapa saat, beliau kembali. Beliau meminta agar Bayu masuk ke dalam kamar Trisna karena Trisna tak bisa bangun. Sementara si Ibu itu sendiri bermaksud pergi ke dapur guna membuat minuman untuk Bayu. "Bismillahirrahmanirrahim," tak lupa Bayu mengucap Bismillah setiap kali ingin melakukan sesuatu. Bayu percaya, dengan nama Allah semua jalannya akan selalu dipermudah. Begitu masuk, tampak seorang pemuda sepantaran Bono, tengah meringkuk dengan posisi tidur menyamping. Tubuhnya rapat ditutupi selimut, menyisakan wajahnya saja. "Assalamu'alaikum, Trisna," sapa Bayu kemudian. Mendengar namanya dipanggil, pria dengan nama Trisna itu berbalik. Alangkah terkejutnya pemuda itu. Mendapati sang jawara kampung ada di dalam kamarnya. Reflek saja pemuda itu langsung bangun lalu terduduk. "Mas ... Mas Bayu?" tunjuk Trisna pada Bayu dengan tangan gemetaran. Haisshh, bagaimana ini? 70 persen dari orang-orang yang bertemu Bayu kalau tidak kaget, pasti gemetaran, masih untung pemuda ini bahkan tidak memaki atau pingsan. Bayu mendekat, meraih tangan Trisna yang menunjuk ke arahnya lantas menurunkannya pelan-pelan. "Ssuutt tenang-tenang. Saya bukan hantu, kenapa kamu gemetaran seperti itu?" tanya Bayu dengan suara lembut pada Trisna yang malah bengong setelahnya. "Saya boleh duduk, Tris?" tanya Bayu. Trisna mengerjap beberapa kali, sebelum memperbolehkan Bayu duduk bersamanya di atas ranjang. "Iya, iya, Mas. Silahkan duduk. Maaf kamar saya agak berantakan." "Kalau kamu ndak kuat, kamu boleh tiduran saja," pinta Bayu. Sepertinya apa yang dikatakan Bono itu benar. Wajah Trisna tampak begitu pucat. "Ndak apa-apa, Mas. Kalau untuk duduk saya masih kuat. Tapi untuk berdiri, saya ndak bisa. Harus dibantu orang," tutur Trisna. "Saya kaget, Mas Bayu mau datang ke sini," ujar Trisna lagi. "Saya ndak menyebutkan nama pada Ibu kamu tadi. Kalau kamu tahu yang datang itu saya, apa kamu ndak akan membiarkan saya masuk?" tanya Bayu. Trisna terdiam, apa yang dikatakan Bayu itu benar adanya. Kalau dia tahu teman yang dibilang ibunya adalah Bayu. Maka barang pasti ia akan berkilah membuat alasan agar Bayu tak bisa masuk ke dalam kamarnya. "Tenang ... Bukan hanya kamu yang akan bersikap seperti itu pada saya. Saya ndak akan berbuat macam-macam. Yang ingin saya tanyakan hanya satu. Kamu tahu, perihal ikan-ikan mati di kolam hari ini?" "Saya tahu, Mas. Tapi sungguh, bukan saya pelakunya!" Buru-buru Trisna menjawab dengan ketakutan. Padahal Bayu bertanya pelan-pelan tanpa ada nada menuduh di dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN