Bab 26

1530 Kata
Trisna yang saat ini kepalanya masih sangat pusing semakin bergetar setelah menerima telpon dari Bono. Secepat itu ... semudah itu namanya terseret. Bahkan tidak dalam hitungan hari. Ia bangun dan memaksakan diri untuk beranjak dari tempat tidur. Sambil berpegangan pada dinding, Trisna berusaha untuk melangkah, berjalan keluar kamar menemui Ibunya yang saat ini ada di luar rumah. Wanita paruh baya itu sedang merapikan pot berisi tanaman-tanamannya yang banyak dan hijau itu. Benar apa pikiran Bayu saat itu. Pemilik rumah ini adalah orang yang apik, yaitu Ibunya Trisna. "Bu ..." panggil Trisna. Yang dipanggil tidak menengok kebelakang. Beliau hanya berdehem menjawab panggilan sang anak. "Bu, bagaimana pertanyaan Trisna kemarin? Ibu mau ndak, Trisna ajak ke kota. Kalau Ibu mau kita pergi sekarang saja ya. Kita periksakan mata Ibu," kata Trisna. Trisna mengajak Ibunya pergi dengan keadaan dirinya sendiri yang padahal, juga memprihatinkan. "Sudah Ibu bilang, ndak mau. Kalau kamu punya uang, simpan saja. Ibu ndak butuh." Ibu Trisna menolak mentah-mentah tawaran dari Trisna. Sudah bertahun-tahun Ibu dari Trisna ini mengalami gangguan mata yang menyulitkan beliau untuk melihat. Kadang Beliau terjatuh, atau menabrak sesuatu karenanya. Usianya sudah sangat tidak muda lagi. Trisna ingin sekali membawa sang Ibu berobat agar bisa mendapatkan penglihatan yang lebih baik di sisa-sisa umurnya. Meskipun kematian tidak selalu menimpa yang berumur lebih dulu "Ibu sudah sepuh. Ndak perlu kamu repot-repot. Yang Ibu butuhkan itu, kamu cukup jadi anak yang baik ya, Ndok. Shalat, ngaji, kerja yang bener. Bukan untuk Ibu. Semua itu untuk dirimu sendiri." Trisna kembali ke dalam kamarnya sambil menunduk. Ia membuka lemari, lalu menarik laci kecil berisikan sejumlah uang di dalamnya. Uang yang harusnya lebih dari cukup untuk berobat sang Ibu. Namun bukannya berhasil, uang itu justru menjadi masalah baginya. Trisna tidak tahu siapa yang memberikan Bono uang sebanyak itu. Trisna juga sudah sempat menolak. Ia tidak ingin ikut campur pada kegiatan tak terpuji yang dilakukan Bono dan Fadli. Terlebih lagi, mengingat Ibu Darminah adalah orang yang baik. Tapi tuntutan hidup membuatnya harus memiliki pilihan dalam waktu singkat. Dan sekarang ia menyesal. Ia tidak mau uang itu lagi. Ia hanya ingin berada di sisi Ibunya yang telah sepuh. Menjalani hari-hari dengan tenang. Membantunya berjalan juga menjadi mata kedua bagi sang Ibu agar beliau tidak terus menerus jatuh dan menabrak sesuatu. "Ini bukan hakku. Aku akan mengembalikan uang ini pada Mas Bayu," ucap Trisna dalam hati. *** Treengg ... Bayu menghantam sebuah Samurai dan Celurit yang nyaris saja melukai wajahnya dengan sebelah kaki kanan. Kedua benda itu terlempar berlawanan arah. Pria itu mengambil satu buah Samurai pertama yang menancap pada pohon pisang, kemudian dengan cepat ia menodongkan benda itu pada tiga orang pria yang berada dalam posisi tersungkur di atas tanah. Kini mereka tak bisa berkutik lagi. Sekali saja kemarahan Bayu terpancing maka nyawa mereka lah yang akan jadi taruhannya. "Kemampuanku tidak terlalu buruk bukan?" tanya Bayu mengejek. Tidak ada jawaban, mereka bertiga hanya sibuk meringis karena babak belur dibuat Bayu. Setelah sempat mendelik, Bayu kemudian beralih pada Fadli yang bengong setelah menyaksikan pertarungannya melawan tiga preman itu sekaligus dari awal sampai akhir. "Kau! Ingin menunggu aku bertanya, atau ... "Aku ... ya, aku terlibat. Tapi bukan hanya aku!" potong Fadli sebelum Bayu selesai bertanya. "Ceritakan semuanya." Bayu kemudian mengalihkan samurainya pada 3 orang di sisi lain! "Dan kalian! Jangan coba-coba kabur. Kalian pasti lebih tahu daripada aku, seberapa tajam benda ini jika kugunakan untuk merobek perut, atau mengeluarkan usus kalian," ancam Bayu. Mereka bertiga patuh dan menunduk. Tak ada satupun yang berani melawan setelah apa yang dilakukan oleh Bayu. Bayu lantas kembali beralih pada Fadli. Fadli mulai bercerita, siapa otak di balik semua ini. Bagaimana mereka mengecoh juga membuat alasan. Juga kenapa mereka semua melakukan hal itu, tanpa berpikir panjang. Tuntutan hidup adalah alasan utama atas semua yang telah terjadi. Bayu mengambil nafas dengan berat dan pasrah. Ia pernah ada di posisi ini. Terjepit antara beban dan keinginan. Siapa yang harus di salahkan. Pada kenyataannya seorang anak laki-laki memiliki tanggung jawab besar yang tidak bisa di mengerti orang lain. Sring ... Bayu melemparkan samurai yang ada di tangannya ke sembarang arah. Ini pasti terdengar konyol. Bayu harusnya bisa memberikan mereka semua pelajaran. Dengan melukai wajah, atau setidaknya memberikan tato manual berbekas, agar mereka ingat kejadian ini seumur hidup. Namun, Bayu tidak ingin melakukan itu. Dendam akan terus berlanjut jika ia membuka luka baru pada orang baru juga. Akar dari semua ini adalah orang itu. Pimpinan dari segala pemimpin yang entah memiliki dendam apa pada Bayu. "Aku tahu siapa Bos kalian. Bilang padanya, hadapi aku sendiri. Atau tunggu saja aku datang! Aku mulai muak dengan semua ini," keluh Bayu. "Jika saja kematian adalah wewenang yang bisa dipermainkan. Maka kalian bahkan sudah mati sejak lima menit yang lalu di tanganku!" sentak Bayu dengan geram. Ia meninggalkan 3 orang pria yang diyakininya adalah anak buah dari Damar. Pimpinan komplotan di mana ia pernah menjadi salah satu yang paling di agungkan. Pun ia juga meninggalkan Fadli bersama mereka. Segala kerugian yang ia dapatkan sudah tak berarti lagi bagi Bayu. Yang ada dalam pikirannya hanya ingin pulang. Bayu sudah lelah. Kehidupannya saat ini bahkan lebih buruk daripada saat di penjara. Setidaknya saat ia berada di penjara. Damar tidak pernah mengganggu keluarganya. Haruskah Bayu kembali pergi berkelana, hanya agar keluarganya aman? *** Bono berlarian pergi menuju rumah Darminah dengan tergesa-gesa. Begitu sampai di depan pintu, pemuda itu langsung mengetuknya berkali-kali tanpa jeda. Darminah, Fajar dan Rani yang saat itu berada di dalam rumah, bingung mendengar ada yang mengetuk pintu dengan panik. Fajar melangkah cepat menuju ruang depan untuk menuju sumber suara. Sementara Rani membantu Darminah untuk berjalan. "Mas Bono?" kata Fajar begitu melihat pemuda itu di balik pintu. "Fajar, Ibumu mana, Jar? Ibu Darminah di mana?" tanya Bono dengan tergesa-gesa. Darminah dan Rani sampai di ruang depan, menghampiri Fajar dan Bono yang masih berdiri menghalangi jalan masuk. "Bono?" ujar Darminah sembari mengerutkan dahi. Bono menerobos masuk, melewati Fajar untuk menemui Darminah. Pria itu langsung duduk bersimpuh di hadapan Darminah dan memegangi kaki wanita paruh Bayu itu. "Bu, Bono minta maaf. Ibu tolong maafkan Bono!" Bono memohon. "Bono, kamu ini kenapa?" Darminah tentu saja heran dan bingung. Bono yang datang dengan tiba-tiba itu saja, sudah membuat mereka bertanya-tanya. Ditambah sekarang dia malah bersujud meminta maaf pada Darminah. Bagaimana mereka semua tidak bingung. Rani melirik pada Fajar menyiratkan pertanyaan seolah-olah, "Kamu tahu ndak sih dia itu kenapa?" Sementara Fajar mengerdikkan bahu, sebagai isyarat jawaban, "Mana ku tahu?" "Coba, coba. Bono sekarang bangun!" Darminah meraih bahu Bono, mengajaknya untuk bangun dan bicara baik-baik. "Memangnya kamu ini sudah melakukan kesalahan apa?" tanya Darminah kemudian. "Nah coba, Mas Bono bilang ada apa? Biar kami-kami ini ndak bingung!" sahut Fajar. Bono menundukkan kepalanya setelah menatap Fajar, Rani dan Darminah satu persatu. Ia memberanikan diri untuk mengakui kesalahannya di hadapan Darminah secara langsung. "Bu, yang meracuni ikan-ikan di tambak itu Bono,Bu," aku Bono dengan suara pelan yang masih bisa didengar. "Apa? Mas Bono! Kok Mas Bono jahat banget. Mas Bono kok tega, Ibu kurang baik apa sih, Mas?" sentak Rani kemudian. Kesal sekali Rani pada Bono. Seharian ini Rani melihat Ibunya juga Bayu lebih banyak merenung setelah tahu panen ikan keluarga gagal karena mati semua. Dan pelakunya sekarang tepat ada di sini. Fajar sejujurnya amat kesal, tapi ia sadar diri kalau umurnya masih kecil dan tidak baik untuk ikut campur atau menghardik orang sembarangan. Berbeda dengan Fajar dan Rani, Darminah memang terkejut tapi beliau tidak menanggapi pengakuan Bono dengan emosi. "Mari duduk dulu. Ndak baik ngobrol sambil berdiri," ajak Darminah dengan lembut. Rani tak habis pikir, Darminah bukannya marah, malah mengajak Bono untuk duduk segala? Setelah semua orang duduk, kecuali Fajar. Mereka berkumpul di ruang depan, dengan Bono sebagai tersangka utama yang siap untuk di interogasi. Barulah setelah semuanya tampak mulai tenang, Darminah bertanya baik-baik pada Bono, apa alasannya, bagaimana duduk perkaranya dan apa yang dia inginkan. "Fadli dan Bono yang melakukan semuanya, Bu. Trisna memang tahu, tapi dia ndak ikut-ikutan. Bono juga terpaksa, Bu. Bono sebenarnya tak sampai hati merusak usaha Bu Darminah yang sudah begitu baik pada Bono. Tapi Bono, Fadli dan Trisna punya alasan masing-masing yang tidak bisa Bono jelaskan sendiri," jelas Bono lagi. "Terus kenapa tadi, Mas Bono bilang sempat mau kabur? Nah kenapa ndak jadi kabur?" tanya Rani kemudian. "Anu ... soal itu!" Bono terdiam. Selain mengingat kebaikan Darminah dan statusnya sebagai janda dari tiga orang anak. Rasanya akan terdengar begitu aneh jika dia mengatakan bahwa ia seolah mendapat bisikan-bisikan gaib, yang memintanya untuk mengaku. Bonopun juga tidak tahu siapa yang membayarnya untuk melakukan itu. Tapi yang jelas, satu-satunya yang ia tahu, semua ini dipicu dengan adanya kehadiran Bayu. Mereka jugalah yang memasang skenario kepergian Fadli. Padahal, Fadli tidak pergi ke mana-mana. Dia hanya menunggu hingga kasus menghilang dengan sendirinya, sampai keadaan kembali membaik. "Heh ... Mas Bono pikir, dengan minta maaf sama Ibu, semuanya bakal beres? Tunggu sampai Mas Bayu tahu. Dihajarnya nanti Mas Bono nanti hingga babak belur. Mas Bayu itu paling sayang sama Ibu. Dia ndak akan diam, kalau tahu Mas Bono sudah melakukan semua itu!" ancam Rani. Di antara semua orang, Ranilah yang paling merasa terpukul. Lagi-lagi karena Bayu, semua karena Bayu. "Apa sih gunanya Mas Bayu kembali  ke sini, kalau hanya mau mewariskan masalah?" gerutu Rani dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN