Bab 30

1361 Kata
"Ya sudah, ya sudah. Jangan terlalu dianggap serius apa yang aku katakan tadi. Aku datang bukan untuk membuat masalah di sini. Tapi jika nanti kamu berubah pikiran, kamu bisa datang padaku kapan saja. Mudah bukan?" Satria ikut menatap ke arah gunung besar yang dipandang oleh Bayu. "Sebenarnya ... lebih dari itu, ada yang ingin aku tanyakan padamu Satria," kata Bayu kemudian. Dulu sekali, sebelum Satria mengenal dunia hitam itu, gunung adalah salah satu tempat favoritnya. Alam terbuka adalah sahabat terbaik baginya. Pikirannya yang begitu naif mengira kalau hidup hanya sekedar untuk makan dan mencari makan dan selesai. Tapi semuanya tidak sesederhana itu kawan. Ini bukan jaman dahulu yang bisa barter barang satu dengan barang yang lainnya. Dunia ini sudah mengenal uang sebagai penguasa segalanya. Dan untuk berkuasa, kita harus memiliki uang. "Satria!" panggil Bayu. Satria menoleh bersamaan dengan kaki Bayu yang tiba-tiba saja terangkat dengan tinggi, berputar dan ... swush ... angin sekelebat berembus membuat sebagian rambut pria itubergoyang. Satria terdiam mendapati kaki sahabatnya saat ini sudah berada tepat di depan wajahnya dan benar-benar nyaris saja saling beradu. "Apa tujuanmu sebenarnya datang ke sini?" Ekspresi wajah Bayu sulit untuk digambarkan. Tatapan tajamnya mengarah langsung, tepat pada Satria dan terasa menusuk sekali. "Eehhmm, Bay ... ku rasa ini sudah agak terlalu berlebihan." Satria menyingkirkan kaki Bayu pelan-pelan dengan tangannya. Jika boleh jujur, jantung Satria sudah hampir copot. Satria sangat tahu kapasitas kekuatan Bayu. Jika Bayu tidak menahannya, tulang-tulang di wajah Satria pastilah sudah remuk. Bayu menurunkan kakinya. Kini sepasang sahabat itu berhadap-hadapan. Satria mengangkat ke dua tangan dan meletakannya di samping kanan dan kiri kepala, seperti orang yang sedang menyerah pada polisi. "Oke oke. Apa yang mau kau tanyakan, Bay? Bicarakan baik-baik. Tolong jangan libatkan kaki-kaki yang bisa membuat tulangku patah." Satria coba bernegosiasi dengan Bayu. Bagi Satria, agak seram juga jika harus berurusan dengan Bayu. "Kenapa Damar mengirimmu ke sini?" tanya Bayu langsung pada intinya. Satria menarik nafas dengan berat lalu menurunkan ke dua tangannya. Dia tidak bisa berbohong lagi sekarang. "Baiklah, aku tahu kau nggak akan bisa dibohongi. Sedikit saja aku bertahan lebih lama. Nyawaku pasti sudah melayang barusan. Bang Damar memang memintaku ke sini untuk memintamu kembali. Aku akui itu!" Satria mengakui apa yang menjadi tujuannya datang ke Desa di mana Bayu berada. Padahal tidak ada bukti kuat yang Bayu temukan untuk menuduh Satria. Sejauh ini, kedatangan Satria begitu meyakinkan. Sebagai seorang kawan seperjuangan yang rindu dengan sahabatnya. Akan tetapi insting Bayu berkata lain. Mengandalkan firasat, Bayu memainkan ketakutan Satria untuk mengetahui apa yang ia sembunyikan. Untungnya Bayu masih ingat, kalau Satria paling takut dengan gerakan kaki Bayu. Dulu semasa mereka masih menjadi sahabat, Satria sering bercerita kalau setiap kali dia melihat Bayu berkelahi dan memainkan sepasang kakinya, maka ketakutannya akan muncul. Tak di sangka, hal itu masih berlaku dan berhasil memancing kejujuran Satria. Sama seperti penuturan Bayu saat itu. Sejak saat itu, dia tidak bisa percaya lagi pada siapapun! "Ada banyak mata-mata yang mengikutiku sekarang ini. Mungkin mereka akan laporan pada Bang Damar kalau aku dan kau sedang bernostalgia di tepi kolam ikan. Sungguh romantis bukan?" Satria tersenyum geli. Namun, senyum itu perlahan sirna, mendapati ekspresi Bayu yang bahkan sama sekali tak berubah. "Tapi ... aku tidak ingin memaksamu. Karena apa? Karena kamu adalah kawan yang sudah ku anggap sebagai saudara sendiri," tambahnya lagi. "Damar memintamu untuk membawaku kembali padanya?" tanya Bayu kemudian. "Ya ... dia ingin kau kembali bergabung. Dia ingin kau kembali Bayu! Dengar ... seperti kataku tadi. Hidupmu akan jauh lebih baik nanti. Kau akan kembali mendapatkan jati dirimu." Satria masih ingin membujuk Bayu. Tapi Bayu jelas sudah tidak mungkin untuk kembali pada serangkaian orang yang menginginkan kematiannya kelak. Ini seperti saat kau sudah bebas dari kandang ular, tiba-tiba saja ada yang menawarimu untuk masuk ke dalam kandang Harimau. Tentu saja Bayu tidak mau! "Kau ingin hidupku lebih baik, atau hanya takut Damar membunuhmu jika kau tidak berhasil?" tebak Bayu. "Ya mungkin ke duanya," jawab Satria. Sebagai manusia biasa, Bayu ingin sekali marah pada Satria. Kedatangannya kali ini, rupanya memiliki niat yang terselubung. "Kembalilah pada Damar. Bilang kau sudah berusaha keras dan tidak behasil untuk saat ini." Bayu tak lagi berhadapan dengan Satria. Ia memalingkan wajahnya dari pria itu. Mencegah agar tidak ada emosi yang terpancing dalam dirinya. "Hah? maksudmu ini apa?" "Ya ... hanya untuk saat ini, mungkin kamu tidak berhasil. Tapi nanti ... suatu saat nanti, aku akan datang dengan caraku sendiri untuk menemui orang itu!" tegas Bayu kemudian. "Kenapa Bayu berkata demikian. Apa dia benar-benar masih ingin membalas dendam pada Damar? Bayu yang sendirian ini, jelas tidak akan mampu mengalahkan Damar dan pasukannya yang tersebar di mana-mana," gumam Satria dalam hati. "Sekarang, aku akan memperlakukanmu, sebagai sahabat juga tamu di rumah. Tapi selepas itu, jangan paksa aku untuk menjadi musuhmu!" Bayu melangkah lagi, diikuti oleh Satria. Jarak hubungan yang tadinya hanya seujung kuku di antara mereka berdua, kini telah melebar. Semuanya tidak akan sama lagi seperti sedia kala. *** Menjelang petang Bayu dan Fajar akan bersiap untuk melaksanakan ibadah Shalat Maghrib di Masjid. Malam ini Satria akan menginap di rumah Bayu dan berbagi kamar dengannya seperti dulu yang pernah mereka lakukan. Satria tampak memperhatikan Bayu yang saat ini sedang menggenakan baju koko, sarung serta peci di atas kepalanya. Dulu saat adzan bahkan sudah selesai berkumandang, baik Bayu maupun Satria, hampir tidak pernah menggubrisnya. Satu-satunya penghormatan yang mereka lakukan hanyalah menghentikan aktifitas sejenak. Tanpa berniat untuk memenuhi kewajiban. Tapi sekarang sebelum waktunya shalat Bayu malah sudah bersiap. Agaknya, sudah ada banyak hal yang berubah di masa ini. "Kamu mau ikut ke Masjid?" Bayu tidak mengajak Satria. Ia tidak ingin Satria mengira bahwa ia memerintahkannya untuk ikut. Karena itu, ia hanya bertanya. Jika Satria bersedia, maka Bayu akan bersyukur. Tapi jika tidak, maka Bayu juga tidak akan memaksa apalagi menghakiminya. "Ehm ... dengan siapa kamu akan pergi? tanya Satria. "Hanya dengan Fajar. Laki-laki di sini hanya ada aku dan Fajar. Tapi , sekarang ditambah ada kamu." Satria sedikit terhenyak. Secara tidak langsung, sekarang dia menjadi laki-laki di rumah ini juga. Jika semua laki-laki di rumah ini pergi ke masjid. Apa yang akan di lakukannya sendirian. "Baiklah, aku ikut!" putusnya. "Alhamdulillah. Kamu bawa baju bersih-kan? Aku hanya bisa meminjamkanmu sarung. Baju-baju ku memang bersih, tapi aku takut mereka tidak sepadan dengan milikmu," seru Bayu. Jangan terlalu dianggap serius. Pria itu hanya sedang bercanda. "Jangan begitu. Aku jadi nggak enak hati. Sekarang aku ganti baju dulu. Kamu tunggulah di luar sebentar." Bayu meninggalkan Satria di dalam kamarnya setelah selesai menyiapkan apa yang di perlukan pria itu untuk pergi ke Masjid. Selesai menggenakan atribut, Satria melihat dirinya sendiri pada cermin besar di kamar Bayu. Dia tersenyum kecut mendapati dirinya yang saat ini terasa aneh. Sudah sejak lama dia tidak pernah berpenampilan seperti ini, memakai sarung, menggenakan peci, dan entahlah. Setelah puas mematut diri di depan cermin, Satria menyusul Bayu dan Fajar yang sudah menunggunya sejak tadi di depan. Saat itu, Fajar sudah mulai protes pada Bayu karena Satria tak juga muncul. "Mas Bayu, temennya kok lama sekali sih, Mas. Ini nanti keburu adzan loh," protes Fajar. "Iya sabar, sebentar lagi kok. Kamu tenang dulu saja." Satria yang baru saja keluar dari kamar Bayu langsung menghampiri sepasang Kakak beradik itu, dengan sedikit cengiran yang memperlihatkan giginya. "He he he, maaf agak lama." Satria minta maaf sembari cengengesan. "Wahhh, Mas Satria makin ganteng loh ini. Auranya beda banget. Ck ... Orang kota itu memang beda ya. Ganti gaya sedikit saja, sudah membuat pangling." Fajar berseru sambil mengacungkan jempol pada Satria. Satria, Bayu dan Fajar lantas pergi ke masjid untuk menunaikan Ibadah Salat Maghrib. Langkah ketiga orang pria itu, pasti akan menarik perhatian dari warga. Bayu sang mantan narapidana, Fajar sang adik dari mantan narapidana, dan juga Satria, orang Kota yang baru saja masuk Desa. Rani yang kala itu sempat mengintip dari balik jendela mencibir tak jelas. "Cciihhh, sekali penjahat. Tetap saja penjahat. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari mereka," lirih Rani pada diri sendiri dengan geram. "Rani ... tutup semua jendela dan tirainya ya nak. Sudah mau Maghrib." Suara lantang Darminah terdengar hingga ke ujung ruang depan. Rani tak lagi mengintip, karena mereka semua sudah mulai menjauh. Ia menutup tirai lalu menjawab perintah Ibunya. "Nggeh, Bu. Rani tutup jendelanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN