Bagian 2

1055 Kata
"Ayo kita menikah,Rumaisha." Rumaisha mematung, begitu pula dengan Nukyar yang baru saja menyampaikan keinginannya untuk menikahi Rumaisha, yang memang seperti nya kurang masuk akal. "Menikah?" Rumaisha buka suara, dirinya bingung harus bahagia atau terluka karna merasa di permainkan. Dirinya di campakkan dan dilamar di waktu yang sama. "Kita masih kelas 2 SMA, dan kamu ngajak nikah?" Nukyar yang merasa sesak dan bingung menyentak dasinya hingga terlepas, serta membuka kancing seragamnya yang berada paling atas, sekarang dirinya merasa sedikit bisa bernapas menghadapi Rumaisha. "Kenapa enggak, kita saling cinta kan?" Rumaisha tersenyum sinis. "Kamu pikir menikah semudah beli cilok di kantin? pesan, ciloknya dikasi, ciloknya di bayar terus dimakan?" Nukyar diam, dirinya tau menikah bukan hal yang mudah. Tapi, itu satu-satunya jalan supaya tidak berpisah dari Rumaisha. "Kita berdua janji buat kuliah bareng di luar negri, bukan nikah dini!" lanjut Rumaisha. "Jadi, kamu lebih mau kita pisah? kamu mau kehilangan aku?" tanya Nukyar kemudian, ada semburat kekecewaan di wajahnya. "Aneh ya kamu. Kamu yang barusan aja mutusin aku, trus tiba-tiba ngelamar aku. Kamu gila?" Nukyar terdiam dan tidak berani menatap wajah Rumaisha. "Atau, ini cara kamu supaya nggak merasa bersalah? supaya aku yang menyesal di kemudian hari karna udah nolak lamaran kamu? pinter ya kamu,Nuk." Nukyar menggeleng cepat, merasa tidak terima dengan spekulasi Rumaisha. "Bukannya gitu, Rumaisha. Aku juga bingung harus gimana. Disatu sisi ,aku sayang banget sama kamu, aku gak bisa jauh dari kamu, kamu jugak tau itu kan?" "Trus kenapa mutusin aku?" tanya Rumaisha cepat, dirinya merasa emosinya sedang di permainkan sekarang. "Tapi aku juga takut akan murka Allah, aku takut Allah marah padaku, membenci dan menjauhi ku. Aku ingin selalu dekat dengan-Nya, menaati semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya." Jelas Nukyar, tapi, tidak berani menatap wajah Rumaisha. "Dan salah satu larangannya, adalah pacaran." Suara Nukyar hampir tercekat, pandangannya kabur. Bukan karna angin, tapi karna air mata yang di tahannya. "Aku tidak ingin melanggar perintah-Nya, dan tidak ingin kehilanganmu." Nukyar menatap kedua bola mata Rumaisha, "maka dari itu, kita menikah saja. Karna pilihan ku tentang hubungan kita hanya dua." "Menghalal kan mu atau meninggalkan mu, Rumaisha." Air mata Rumaisha menetes, dirinya tidak pernah menyangka kisah cinta yang menyenangkan dan penuh kegembiraan akan berakhir kebimbangan dan kesedihan seperti ini. Baginya, dirinya dan Nukyar akan selalu baik-baik saja. Berangkat dan pulang sekolah bersama, bertukar cerita, sesekali bertengkar karna Nukyar yang suka menjahilinya. Dimalam hari pun masih mereka sempat kan main game bersama, telponan sampai larut malam hingga tertidur salah satunya dan siapa yang bangun pagi lebih dulu akan menelpon untuk membangunkan kekasihnya. Biasanya yang bangun lebih awal adalah Nukyar, karna tiap harinya ia melaksanakan kewajibannya, sholat subuh. Rumaisha menyeka air matanya perlahan. "Nuk, kamu ingat kan? awal kamu minta aku jadi pacar mu. Aku sempat nolak karna perbedaan Agama kita, tapi, kamu yakinin aku, kalau kita berdua saling cinta apapun masalahnya kita bisa hadapin bersama. Mulai dari orang tua kita yang awalnya gak setuju, temen-temen yang julitin kita, dan orang-orang yang menganggap hubungan kita cuman main-main." "Dan sampek sekarang, kita berada di titik ini. Keputusan yang kamu ambil buat kita berdua. Aku gak ngerti kenapa di Agama kamu hubungan kita bisa di anggap salah, tapi aku percaya kamu, Nuk. Kamu gak mungkin mainin Agama cuman buat ninggalin aku. Aku yakin kamu udah mikirin ini mateng-mateng dan udah tau resikonya." Jelas Rumaisha, rasanya ia tidak ingin melanjutkan ucapannya. "Jadi, sebaiknya kamu ninggalin aku." Kali ini, air mata Nukyar yang jatuh. Padahal ini pilihannya, tapi ucapan Rumaisha sangat menyakitinya. Nukyar menelan ludahnya susah payah, seperti ada duri ikan berada di kerongkongannya. "Kamu-- gak mau nikah sama aku?" tanya Nukyar lagi dengan suara serak. Sungguh, membayangkan berjauhan dari Rumaisha seakan hal buruk baginya. "Menikah? kamu yakin? usia kita masih 18 tahun, kita masih kelas 2 SMA. Orang tua kita emang ngijinin kita pacaran, tapi buat nikah? kamu yakin? kita juga gak bisa lanjut sekolah kalau udah nikah. Kamu juga terlalu muda untuk jadi kepala keluarga, belum lagi perbedaan keyakinan kita yang memperumit segalanya." Nukyar diam, meng-iyakan semua ucapan Rumaisha didalam hatinya. Inilah salah satu alasan Nukyar begitu mengagumi Rumaisha. Di usianya yang muda dia begitu cepat tanggap dan menyelesaikan segala sesuatunya menggunakan pikirannya. Walaupun Rumaisha wanita manja ketika bersama Nukyar, tapi aslinya dia begitu lincah dan selalu berpikir positif. "Aku minta maaf." Ucap Nukyar, air matanya mengering karna sapuan angin pantai. Rumaisha tersenyum tipis," kamu gak salah, seperti yang kamu bilang tadi. Hubungan kita yang salah, aku mungkin sedih karna keputusan kamu. Tapi, aku gak benci sama kamu kok. Maaf tadi udah bilang aku benci sama kamu ya." Nukyar mengangguk, mengangkat pandangannya menatap Rumaisha. "Tunggu aku ya. Aku janji, kalau nanti aku udah mapan, hal pertama yang aku cari adalah menemuimu dan menikahimu, karna Allah SWT." Ucap Nukyar penuh keyakinan. Rumaisha menggeleng, membuat Nukyar kebingungan dan hampir panik. "Jangan, Nuk. Setelah ini jangan lagi menemui ku. Ini adalah akhir dari hubungan kita, jangan ada lagi dimasa depan." Jawab Rumaisha, menurutnya ini adalah keputusan yang benar. "Kenapa?" tanya Nukyar ragu, pupus sudah harapannya untuk memiliki Rumaisha. "Kita nggak bisa bersatu, Nukyar. Kamu dan aku jelas-jelas berbeda. Dari awal kita sudah mengetahuinya, tapi karna kekerasan kepala kita. Kita membenarkan kesalahan yang kita perbuat." "Di Agamamu, berpacaran saja salah. Apa lagi menikah dengan perbedaan keyakinan." Nukyar merasa tertampar, lupa akan hal tersebut. Lupa bahwa wanita yang ia cintai bukan lah seorang muslim seperti dirinya. Sebenarnya, dari awal disaat perasaannya sudah muncul kepada Rumaisha, Nukyar menerka nerka apa yang akan terjadi pada mereka. Seolah menentang kehendak yang Maha Kuasa, dirinya selalu berkata semua akan baik-baik saja. Bahwa dirinya dan Rumaisha adalah insan yang akan selalu bersama. Tapi tidak, keputusannya untuk meninggalkan Rumaisha sekarang bukan untuk menemui wanita itu di kemudian hari lalu melamarnya. Melainkan, kehilangannya untuk selama-lamanya. "Dari itu, Nukyar. Kita harus mengakhirinya disini, di tempat dimana kita memulai segalanya." Lanjut Rumaisha. Dan ya, pantai ini jualah yang menjadi saksi bisu di saat Nukyar menyatakan cintanya pada Rumaisha dan memintanya menjadi kekasihnya. Nukyar diam mematung, bahkan dirinya tak bergeming saat Rumaisha meninggalkan dirinya dan desiran ombak di tepian pantai. Nukyar patah dan rapuh dengan keputusan yang dipilihnya. Sekarang, dirinya hanya bisa berandai-andai. Andai saja dia tidak memutuskan Rumaisha, andai saja dia mengabaikan larangan Allah SWT dan tetap memilih bersama kekasihnya, andai saja Rumaisha adalah seorang muslim sama seperti dirinya. Atau, andai saja dari sejak awal dirinya tidak meminta Rumaisha untuk menjadi kekasihnya. Andai saja...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN