rapuh

1053 Kata
Pagi yang cerah dengan cahaya mentari yang menyinari kamar yang masuk dari celah celah jendelanya, seorang gadis yang cantik nan anggun masih terlelap diatas tempat tidur nya yang begitu nyaman. Seakan saat itu mengajak dirinya bergerak, namun mata nya masih terasa begitu berat. Seseorang memasuki kamarnya, sembari membukakan jendela yang menghambat masuknya cahaya terang di pagi hari serta hembusan angin yang membelai alam. "Adek, sayang ayok bangun, sarapan dulu yuk sayang" panggil seorang wanita paruh baya yang tak kalah cantik dengan sang gadis tak lain dan tak bukan melainkan Mama tercintanya Riana, gadis yang masih terlelap dalam tidur nyenyak nya tersebut. Wanita paruh baya itu menggoncang kan sedikit tubuh sang putri bungsu nya, kemudian membelai rambut nya dengan penuh kelembutan. Suara panggilan dan sentuhan tangan tersebut sontak membuat Riana terkejut dan terbangun dari tidur lelap nya. "Hmm, Mama ini masih pagi banget loh Ma. Adek masih ngantuk Ma, bentar lagi yaa Adek bangun nya" rengek Riana dengan suara nya yang khas anak mengkek Mama. "Ini udah hampir siang loh, dek!! Nanti siap makan lanjut tidur lagi deh, ayok Adek makan dulu yaa. Mau adek sakit perut lagi seperti kemarin, haa?" Ujar sang Mama sambil mengangkat kedua alis nya membuat Riana spontan memasangkan ekspresi wajah miris alias takut. Lalu gadis tersebut meringis sambil membayangkan kesakitan yang pernah dia alami sebelumnya. "Baiklah, baiklah ibu kanjeng ratu ku tersayang, tercinta, tercantik sedunia raya. Adek bangun, tapi peluk duluuu" rengek Riana sembari meraih tubuh sang Mama. "Hmmm, manja gaada obat anak mama yang satu ini" ucap wanita paruh baya itu sambil mengusap usap lembut punggung sang putri. Riana menghempaskan selimut nya dan segera menuju ke arah kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, Riana langsung bergegas keluar dari kamar nya menuju ke dapur. Jika Mama nya ada dirumah pasti dia tidak akan pernah merasakan yang namanya telat makan kecuali memang dia saja yang malas makan dan suka bangun kesiangan, sungguh membiasakan kebiasaan yang cukup buruk. "Gak kuliah kau, dek?" Tanya seorang pria yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu sambil menonton televisi, Riana pun langsung menoleh ke arah sumber suara. "Kuliah, nanti siang jam dua. Itupun kalo dosen nya datang, kalo gak yauda bisa berlama-lama lah Adek" Jawab Riana santai dengan ekspresi wajah datar, kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju dapur. Riana mencium bau sedap yang sumber nya itu dari bawah tudung saji yang letak nya diatas meja dapur, gadis itu segera membuka dan dia melihat banyak sekali menu masakan yang sudah siap di sajikan oleh sang Ibunda tercinta. Riana bergegas mengambil piring serta nasi dan lalu dia mengambil semua macam jenis lauk pauk yang ada di atas meja tersebut. Setelah itu, Riana berjalan menuju ke arah ruang tamu, dia duduk di sofa dan tepat di samping Abang nya. "Anak gadis kok duduknya begitu, ga sopan dek. Gabole gitu dek, turunkan kaki mu itu. Gaya makan apa seperti itu haa? Ngikutin gaya siapa kau? Naikin kaki sebelah saat makan, jangan dibiasakan yang tidak baik. Turunkan cepat!!" Tegas Abang Ryan, membuat Riana terkejut dan langsung menurunkan kakinya tersebut, sambil menggerutu di dalam hati. Riana kemudian melanjutkan kegiatan nya, dia menyantap sarapan nya dengan begitu lahap. Nampak nya makanan yang dia makan itu lezat sekali, sampai di suapan terakhir pun dia sampai harus menjilat jari tangan nya. "Enak?" Tanya Abang Ryan yang ternyata sedari tadi memerhatikan sang adik makan, Riana spontan menoleh ke arah sang Abang dan dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Kalau Mama adek yang masak, ga mungkin ga enak, kalo ga enak ya ga mungkin laah" ujar Riana sambil terkekeh kecil, membuat sang Abang menyunggingkan senyumnya. "Heleh, duluan juga jadi Mama Abang itu dek. Kau ini kan anak pungut" sungut Abang Ryan sambil terkekeh geli, sedangkan Riana sudah menatap wajah sang Abang dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menghanyutkan. "Mamaa, Abang katai Adek anak pungut Ma, emang iyaa?" Teriak Riana dengan wajah nya yang sudah memerah. "Abang, mana boleh kek gitu sama adek sendiri, bang" sahut sang Mama dengan suara yang begitu lembut, cara beliau mendidik anak anak nya itu begitu hebat. Ya walaupun terkadang sering sekali terjadi keributan di antara Adek Abang yang satu ini, tapi bukan berarti mereka tidak saling menyayangi satu sama lain kan. "Abang jahat sama Adek, selalu aja bilang kalo Adek ini anak pungut. Abang emang ga sayang sama Adek" lirih Riana, tanpa dia sadari sesuatu yang hangat sudah memenuhi kelopak matanya. Matanya sudah berbinar dan sedikit demi sedikit buliran bening jatuh membasahi pipinya. Air mata tak kuasa ia bendung lagi, meluncur bebas melewati kedua pipinya hingga ke dagu karena begitu kencang nya mengalir. d**a nya terasa sedikit sesak, semakin lama semakin deras, yang tadi nya hanya isakan kecil sekarang malah berubah menjadi sebuah raungan. "Yah, Adek nangis?" Tanya Abang Ryan yang cukup terkejut melihat sang Adek tersayang nya sudah menangis hanya karena sebuah kata-kata yang menyakiti hati sang Adek yang dan membuat ia tersinggung, sedangkan sang Abang hanya menganggap nya sebagai sebuah lelucon tapi Riana yang mudah sekali baper tentu saja hatinya merasa sedih. "Wih, rapuh nya hati Adek Abang ini" ucap Abang Ryan sembari meraih lengan nya Riana, kemudian langsung memeluk nya. "Abang minta maaf sayang, Abang cuma bercanda saja. Mana mungkin Adek ini anak pungut, kalau Adek pungut berarti Abang juga dong. Udah ya, jangan nangis lagi. Maafin Abang ya Adek" ucap sang Abang sambil mengusap usap lembut punggung nya Riana, bukannya berhenti menangis, Riana malah semakin terisak isak. "Kenapa tadi Abang bilang Adek anak pungut?" Tanya Riana, dia terlihat semakin sesenggukan. Riana memang seorang gadis yang terlihat cuek, judes, suka marah marah, kalau untuk membentak orang mah Riana jago nya, tapi giliran dia sendiri yang dibentak orang serasa paling tersakiti di dunia. Dasar gadis kecil judes, hatinya memang cukup rapuh, apalagi ada perkataan yang tidak enak di dengar oleh nya tak lama pasti air mata akan berbicara. "Abang cuma bercanda saja, dek. Janganlah Adek merajuk, minta maaf nya Abang sama Adek" pinta sang Abang dengan penuh ketulusan, sedangkan Riana hanya terdiam sambil sedikit tersedu-sedu. "Gabisa lagi Abang minta maaf sama Adek?" tanya Abang Ryan sambil menangkup wajah nya Riana dengan kedua tangannya. "Marah besar Adek sama Abang?" lanjut nya. "Abang" rengek Riana sambil menunduk kan wajahnya, dia tidak ingin menatap wajah siapapun jika sedang menangis. Sang Abang benar benar merasa sangat bersalah, niat hanya untuk bercanda tapi dia malah tidak sengaja sudah melukai hati gadis kecil nya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN