Nicole's POV...
Setelah hening sejenak, Brad kembali menatap mataku lagi. Aku paham, dia merasa tidak enak untuk menjelaskan ini.
"Hubungan kita sampai di sini." akhirnya dia mengatakan kata-kata yang paling membuat ku takut. Kata-kata yang tidak kuharapkan akan kudengar saat ini. Aku pikir aku akan mengecewakannya dengan berita bahwa aku akan menyamar sebagai teman tidur. Tapi dia benar-benar orang yang mengecewakanku dengan ini? Aku terkejut. Aku bisa merasakan air mata mulai keluar dari mata ku, namun aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Aku tidak bisa menangis di depannya. Aku akan menangis sebagai pasangan ranjang dalam beberapa hari dan sekarang aku harus menangisi ini dulu? Aku tidak bisa! Namun apa daya, aku tidak bisa menahan diri untuk menanyakan alasannya. Yah, setidaknya sebelum aku pulang sambil menangis, aku harus mendengar alasannya terlebih dahulu.
"Mengapa, Brad? Apakah karena misi?" aku bertanya padanya, berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata yang mulai keluar dari mataku.
"Tidak. Aku bahkan tidak ikut misi itu. Aku memutuskan untuk berhenti di sini," Brad berkata, membuatku semakin terkejut sekarang. Brad bukan agen lagi?
"Mantan saya telah kembali setelah menyelesaikan gelar masternya di London. Sejujurnya, alasan kami putus adalah karena tidak ada diantara kami yang bisa menjalankan hubungan jarak jauh. Sekarang setelah ia kembali, saya hanya ingin bersamanya lagi," kata Brad. Aku benar-benar gagal menahan air mataku. Aku terkejut sekaligus terluka.
"Apakah Ralph sudah memberitahumu?" tanyaku padanya. Berpikir apakah dia sudah tahu bahwa aku akan menjadi teman tidur.
"Ya," Brad berkata, sambil menatap mataku. "Dan dengan itu, kupikir ini adalah saat yang tepat. Tidak mungkin kita bisa mempertahankan hubungan ini, ketika aku tau bahwa kamu akan tidur dengan orang lain," Brad berkata, melihat kembali ke meja. Air mata terus mengalir dari mata ku. Yang ingin aku lakukan hanyalah meninggalkan tempat ini dan melupakan semua rasa sakit.
"Oke, saya mengerti. Terima kasih atas waktunya," aku berkata ke Brad, sebelum memanggil pelayan untuk membayar makan malam aku, namun dia menghentikan aku dengan mengatakan bahwa ia yang akan membayarnya, mengingat ini akan menjadi makan malam terakhir kami bersama. Aku tidak tahu apakah kita masih akan menjadi teman setelah ini.
Setelah itu, aku memutuskan untuk pulang. Hatiku terasa hancur berkeping-keping, membuat ku merasa hanya ingin lari dari kenyataan pahit ini.
Setelah tiba di apartemenku, aku hanya berbaring di kasurku, menyembunyikan wajahku dengan bantal. Aku terus menangis, tidak peduli riasanku akan m*****i bantal putihku. Hidupku sudah berantakan! Aku pikir aku selalu bisa kembali ke orang tua di New York, tetapi aku benar-benar tidak ingin menambah beban mereka. Cukup sudah mereka sibuk dengan Jenny yang penuh prestasi. Betapa beruntungnya orang tua saya memiliki anak perempuan seperti dirinya.
Aku menangis untuk waktu yang terasa seperti satu jam. Aku bahkan tidak tahu berapa lama tepatnya aku menangis, tapi akhirnya aku bangun dan mengambil ponselku. Aku menelepon Ralph, berharap dia belum tidur. Aku hanya ingin berbicara dengannya.
"Halo? Ada apa, Nicole?" dia bertanya melalui telepon.
"Beritahu Tristan aku siap besok," aku katakan padanya. Sekarang, keinginan ku hanya ingin ini berakhir lebih cepat dengan berharap jika aku memulainya lebih awal.
"Apa? Kamu sudah siap? Bagaimana dengan Brad?" Ralph bertanya padaku.
"Bukankah kamu sudah memberitahunya? Mari kita selesaikan saja! Hidupku sudah berantakan," aku berkata dengan kesal. Ralph menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, ia menyuruhku mengepak barang-barangku, sebab Tristan akan menjemputku besok pagi.
Aku mengakhiri panggilan dan memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mengepak barang-barang ku.
07:45...
Aku terbangun jam 6:30 pagi. Tristan menelepon ku dan mengatakan bahwa dia akan tiba sekitar jam 8 pagi. Sementara itu, aku baru saja selesai mengepak beberapa barang yang lain. Tristan akhirnya tiba, dan aku duduk di kursi belakang, dengan semua barangku diletakkan di bagasi.
"Maaf tentang ini," Tristan meminta maaf padaku seolah itu salahnya.
"Tidak perlu minta maaf. Ini tugasku, dan ini bukan salahmu," aku berkata, berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar dan tetap tenang. Kalau dipikir-pikir, aku bahkan tidak tahu seperti apa Ken Jameson. Aku pikir aku harus menanyakan beberapa informasi tentang dia dari Tristan.
"Ngomong-ngomong, ceritakan aku tentang Ken Jameson. Selain fakta bahwa ayahnya adalah mafia besar," aku berkata. Yah jelas, saya ingin mengetahui informasi tentang orang yang akan saya tiduri.
"Ken adalah anak pertama dan satu-satunya dari Daniel Jameson. Ibunya adalah Susan Walter, yang seperti kita ketahui, sudah lama meninggal ketika dia baru berusia 2 tahun. Dia berusia 24 tahun dan baru saja menyelesaikan gelar masternya di Universitas Harvard. Dari yang saya lihat, dia tidak terlalu dekat dengan ayahnya, seolah-olah ada sesuatu yang berusaha disembunyikan ayahnya darinya," kata Tristan padaku. 24 tahun dengan gelar master di Harvard? Anak ini terdengar cukup keren. Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang mafia besar, dimana ia menyebabkan kematian banyak wanita secara rahasia. Oh, dan Ken lebih muda dari ku? Oke, ku rasa ini cukup menantang.
Tak lama, kami tiba di rumah Jameson. Aku terkejut melihat betapa besar dan mewah rumah tersebut. Tristan membimbingku ke dalam, sebelum memanggil salah satu pelayan untuk memanggil Ken. Saatnya bertemu dengan putra sang target.
Tidak butuh waktu lama, seorang pria tinggi dengan rambut cokelat dan mata hijau datang, berdiri di depanku dan Tristan. Harus kuakui, pria ini terlihat sangat seksi! Dia jauh lebih tinggi dariku, memiliki rambut cokelat yang agak berantakan, mata hijau yang menawan, dan senyum mematikan yang diam-diam membuat hati ku berdebar. Dia mengulurkan tangannya kepadaku, dan kami berjabat tangan.
"Apakabar? Saya Kennedy Jameson." Pria muda itu memperkenalkan dirinya. Oh, jadi ini anak dari mafia paling kejam di masyarakat, dan aku benar-benar akan menghabiskan waktu bersamanya entah berapa lama? Aku tidak menyangka dia akan setampan ini.
"Halo, saya Nicole." aku memperkenalkan diri ku kepadanya. Aku tidak memperkenalkan nama lengkap saya karena sebagai seorang agen rahasia, aku harus ingat aturan 1: Jangan pernah memberikan nama lengkap Anda kepada siapa pun. Tapi tetap saja, membuat nama palsu tidak diperlukan saat ini. Selain itu, dia hanya ingin tahu dia akan memanggilku apa. Kenapa aku harus memberinya nama lengkapku?
"Saya serahkan dia pada Anda, Pak Jameson," kata Tristan sambil membungkuk.
"Ya, terima kasih Tristan. Kamu boleh pergi," kata Ken dengan senyuman kecil. Senyumnya sebenarnya cukup menawan.
Begitu Tristan meninggalkan rumah, Ken mulai mengajakku berkeliling rumah. Saya sedikit bertanya-tanya.. mengapa dia tidak meminta salah satu pelayannya untuk mengajak saya berkeliling? Mungkin dia hanya ingin menghabiskan waktu bersamaku?
"Dan ini kamar kita," kata Ken, menunjuk ke kamar besar di depan kami. Ruangan ini sangat besar! Interiornya sangat profesional, dengan ranjang berukuran king size terletak ditengah ruangan. Tidak hanya kamar tidur, tapi kamar mandi di dalam kamar tersebut juga sangat besar!
"Oh bagus," aku berkata dengan nada biasa, seolah aku tak terpesona dengan ruangan ini. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku terpesona dengan kamarnya, atau haruskah aku katakan ... kamar kami.
"Kamu menyukai ini?" dia bertanya padaku sambil tersenyum.
Aku menatapnya dan tersenyum. "Ya."
"Bagus. Karena di sinilah kita akan tidur," ia berkata, sebelum berjalan pergi, meninggalkan ku berdiri di sini.
Ken berkata bahwa dia ingin menunjukkan kepada aku beberapa barang yang dia beli untuk aku. Kata-katanya hanya mengingatkanku bahwa aku hanya menyamar sebagai teman tidurnya. Kenyataan membangunkan aku. Walaupun dia tampan, tapi bukan berarti aku merasa nyaman dengan gelar teman tidur. Jelas dia hanya ingin bermain-main dengan ku, karena bermain-main dengan wanita lain terkadang bisa rumit. Dia akhirnya berjalan kembali dengan sebuah kantong merah besar.
Kami memasuki kamar kami bersama dan meletakkan tas di atas meja.
"Apa ini?" aku bertanya.
"Coba kamu lihat," dia berkata padaku. Aku memperhatikan dia tersenyum kecil.
Aku memeriksa apa yang ada di dalamnya, dan menemukan banyak pakaian dalam di kantong tersebut. Serius? Aku harus memakai ini? Aku menatapnya dengan bingung, namun ia hanya menatap balik dengan tatapan penuh godaan.
"Kamu tidak harus memakai ini setiap saat. Pakai saja saat kita bersama di malam hari. Aku ingin melihat betapa cantiknya kamu memakai ini," dia menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya tersenyum kecil, namun tatapannya berkata lain. Tatapan tersebut adalah tatapan menggoda. Meski aku merasa agak malu, aku mencoba menutupinya dengan tersenyum. Yah..setidaknya saya tidak harus memakai ini sepanjang waktu.
"Kita akan berangkat makan siang beberapa jam lagi. Sementara itu, lakukan apa pun yang kamu mau! Beristirahatlah. Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerjaku," katanya, di mana aku hanya tersenyum.
"Oh dan ngomong-ngomong.. bersiaplah untuk malam ini," katanya sebelum meninggalkan ruangan. Kalimat terakhirnya membuat ku sedikit gugup. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bersambung...