Chapter 5

1715 Kata
Nicole's POV... Aku terbangun sekitar jam 8 pagi. Aku melihat bahwa Ken tidak ada di samping ku, dan berasumsi bahwa dia mungkin sedang sarapan di luar atau mungkin melakukan sesuatu yang lain. Kemarin malam ternyata....luar biasa. Ken adalah orang yang lembut, dan dia benar-benar membuat ku merasa nyaman selama sesi tersebut. Oke, cukup dengan itu! Aku harus berhenti memikirkan semua nafsu di antara kita ini. Lagipula, aku hanya teman tidur di matanya. Satu-satunya alasan aku tidur di tempat tidurnya sekarang adalah karena aku menyamar. Saatnya memulai hari! Aku bangun dari tempat tidur dan mengenakan kaos dan celana pendekku, sebelum berjalan keluar dari kamar tidur. Saat aku berjalan ke dapur, Hanna memberitahuku bahwa sarapan sudah siap, dan Ken ada di kantornya melakukan beberapa pekerjaan. Aku ingin tahu pekerjaan macam apa yang dia lakukan? Aku menduga itu mungkin bisnis ayahnya dan dia adalah pewarisnya. Tunggu..dipikir-pikir..Daniel tidak pulang tadi malam.. Setelah menyelesaikan sarapan, aku memutuskan untuk memeriksa telepon saya setelah. Aku mendapat beberapa pesan dari Ralph, menanyakan tentang informasi apa yang saya dapatkan sejauh ini. Aku mengatakan kepadanya bahwa Daniel tidak pulang tadi malam, dan Ken sibuk di ruang kantornya melakukan pekerjaan. Setelah itu, aku memutuskan untuk mandi. Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian baru, aku berjalan keluar ruangan, dan melewati kantor Ken. Lucu ... dia sudah ada di sana selama berjam-jam. Mungkin saya harus mencoba mengetuk? Siapa tahu..aku bisa mendapatkan beberapa informasi baru di sana. Aku mengetuk pintu, di mana dia mengizinkan saya masuk. Dia tidak tahu itu saya dari balik pintu. Dia hanya menyuruhku masuk. "Hai!" kataku saat memasuki kantornya. Aku menutup pintu. Ken menatapku dan tersenyum. "Bagaimana sarapannya?" dia bertanya padaku, sebelum dia melanjutkan memilah-milah beberapa kertas. "Enak. Apakah kamu tadi memasak?" aku bertanya kepadanya. Aku sedang duduk di kursi dekat meja kerjanya. "Ya," dia menjawab, tidak mengalihkan pandangannya dari kertas. Aku melihat dia terus menyortir kertas-kertas di atas meja. Aku memperhatikan di sampingnya, ada foto seorang anak laki-laki dengan seorang wanita. Anak laki-laki itu mirip Ken. Aku menganggap wanita itu adalah mendiang Susan Walter. Aku pikir keadaan menjadi canggung di antara kami, jadi aku memutuskan untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Tentu saja, aku harus membuatnya percaya kepada ku jika aku ngin tahu tentang keluarganya. "Jadi..pasta salmon panggang pagi ini sangat enak," kataku padanya sambil melihatnya masih memilah-milah kertas. "Terima kasih. Itu juga salah satu favoritku," katanya. "Sebenarnya, aku sedikit terkejut ketika aku tahu kamu bisa memasak," kataku, sebelum tertawa kecil. "Haha.. Kenapa begitu?" dia bertanya padaku, sambil meletakkan kertas-kertas itu di folder. “Mungkin karena selama ini saya belum pernah bertemu dengan laki-laki yang pandai memasak. Di keluarga saya, biasanya ibu saya yang memasak, karena ayah saya tidak tahu banyak tentang hal dapur,” aku berkata kepadanya, yang sebenarnya benar. Aku ingat bagaimana Jenny dan saya dulu mendambakan makaroni dan keju khas ibu. "Di keluargaku, kami dulu memiliki koki pribadi yang melakukan semua masakan," katanya sambil meletakkan tangannya di bawah dagunya. "Yah.. itu.." dia tidak menyelesaikan kalimatnya dan berhenti. Aku menunggunya untuk melanjutkan, tapi dia tidak melakukannya. "Itu adalah..?" tanyaku bingung. Dia terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Sebelum ibuku meninggal," katanya dengan suara rendah. Aku terdiam beberapa saat sebelum mengatakan sesuatu. "Oh...maaf," Kataku dengan suara rendah. "Tidak apa-apa. Kami tidak benar-benar tahu mengapa dia meracuninya," katanya. Aku tidak tahu ibunya meninggal karena diracuni oleh koki pribadi mereka. "Apa yang terjadi?" aku bertanya kepadanya. "Koki itu akhirnya berada di balik jeruji besi. Setelah itu, ayah saya menyewa koki baru, tetapi saya mulai belajar memasak sejak saya berusia 15 tahun," katanya sambil melihat ke bawah. "Tapi saya benar-benar menjadi jauh lebih baik selama masa Universitas. Saya banyak memasak di sana, dan meningkat pesat. Sejak saat itu, saya mulai memasak untuk diri saya sendiri," dia menyelesaikan kalimatnya sebelum menatapku. Mata hijaunya berbinar saat aku menoleh ke belakang. Matanya benar-benar indah! Dia memberiku senyuman kecil, membuatku kembali ke kenyataan. Apa aku baru saja melamun di matanya? Dia tersenyum padaku, sebelum terganggu oleh dering yang datang dari teleponnya. Ia melihat ponselnya sebelum mengangkatnya. Itu ayahnya, Daniel Jameson. "Maaf, aku harus mengangkat ini," dia berkata kepadaku sebelum mengangkat telepon dan meninggalkan ruangan. Aku melihat bahwa dia telah meletakkan folder di atas meja. Di folder itu, ada logo kecil bertuliskan "Empire Hills Hotel". Dari apa yang saya dengar, ayahnya memiliki 70% saham, sedangkan 30% lainnya dimiliki oleh Wayne Hudson, seorang pria yang dikenal sebagai teman lama Daniel. Wayne juga terkenal di dunia mafia. Dia memiliki banyak klub malam di LA, dan dikenal sebagai putra seorang pembunuh bayaran. Ken kembali ke ruang dan duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat sedikit frustasi. Apakah dia bertengkar dengan ayahnya di telepon? Dia menatap mataku. Dengan menjaga kontak mata selama 10 detik, sebelum dia memalingkan muka. Dia mengambil nafas dalam-dalam. "Hari ini adalah hari ulang tahun ayahku," katanya sambil menarik nafas dalam-dalam lagi. "Dia mengadakan pesta di Boulevard Night Club," lanjutnya. "Saya ingin kau menemaniku malam ini." dia menyelesaikan kalimatnya sebelum kembali menatapku. Aku menatap matanya, sebelum menjawab "oke". Dia tersenyum padaku, sebelum secara mengejutkan menarikku ke dalam ciuman, yang akhirnya berubah menjadi sesi b******u. Setelah itu, aku mengatakan kepadanya bahwa aku akan keluar untuk minum kopi. Aku berjalan ke kedai kopi terdekat yang bisa ku temukan di sekitar situ. Seperti biasa, aku memesan milkshake, dan memutuskan untuk menelepon Ralph, karena saya keluar dari mansion, dan tidak ada kamera keamanan. "Halo! Nicole, kamu dimana?" Ralph bertanya melalui telepon. "Aku di kedai kopi, tapi selain itu, malam ini aku akan pergi ke Boulevard Night Club untuk merayakan ulang tahun Daniel," kataku pada Ralph, sebelum menyesap milkshake-ku. "Cukup baik. Mudah-mudahan kamu bisa menemukan lebih banyak informasi,." kata Ralph. "Yah, kuharap begitu. Bagaimana dengan Kate?" aku bertanya kepadanya. "Kate saat ini mencoba melacak beberapa PSK lama Daniel. Dia sekarang berada di Paris, karena beberapa dari mereka diketahui melarikan diri dari Amerika, dan terlibat dalam jaringan lainnya," kata Ralph. "Oke, saya akan memberi tahu Anda ketika saya mendapat informasi lebih lanjut. Sampai jumpa, Pak Ralph," ku berkata. Setelah itu, aku menghabiskan milkshake ku dan kembali ke mansion. Aku harus bersiap untuk malam ini. Untung aku benar-benar membawa gaun bagus dari apartemen lamaku. Ken memberitahuku bahwa kami akan berangkat jam 10:45 malam, jadi kurasa aku tidak perlu panik untuk bersiap-siap lebih awal. Sekarang baru pukul 14:15, dan aku menonton TV di ruang tamu. Ken memasuki ruangan dan memutuskan untuk duduk di sebelahku. Dia tidak menyentuhku, melainkan hanya ingin duduk di sebelahku. Dia kemudian mulai menatapku, seolah-olah dia sedang mengamatiku. Aku menatapnya dengan tatapan bingung. "Karena malam ini adalah pesta besar, aku ingin kita berdua berpenampilan terbaik," katanya sambil tersenyum kecil. "Dan dengan itu, kamu perlu menata rambut dan rias wajahmu secara profesional," katanya, memberiku senyum lagi. "Aku menelepon penata rias pribadi keluarga Jameson, Olivia Sanchez, untuk merawat penampilanmu malam ini," dia menyelesaikan kalimatnya. Aku hanya mengangguk dengan senyuman sebagai jawaban. Aku tidak tahu bahwa keluarga Jameson memiliki penata rias sendiri. Waktu berlalu dan Olivia datang untuk menata penampilan ku untuk malam ini. Ken memperkenalkan ku sebagai pacarnya, dan aku hanya ikut bermain peran. Olivia mulai menata rambut dan merias wajahku di ruang ganti, sementara Ken sedang mempersiapkan diri di kamarnya. "Sudah berapa lama kamu mengenal Ken Jameson?" Olivia bertanya padaku sambil terus menggambar alisku. "Tidak terlalu lama," aku menjawab. Dalam keadaan ini, aku dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya tanpa membuatnya merasa curiga. "Bagaimana dengan kamu, Olivia? Sudah berapa lama Anda menjadi penata rias pribadi keluarga Jameson?" “5 tahun sebenarnya, tapi biasanya aku jarang mendapat telepon,” katanya, sambil berpindah ke alisku yang satu lagi. Yah, tidak mengherankan dia tidak mendapat banyak telepon. Aku berasumsi keluarga Jameson hanya meneleponnya ketika ada seorang wanita di rumah. "Begitu. Jadi kamu juga merias wajah Francesca Lopez? Maksudku, aku ingin terlihat secantik dia," kataku, berusaha mendengar lebih banyak darinya. "Ya, aku sudah berkali-kali merias wajah Nona Lopez. Sebelum dia meninggal. Sungguh menyedihkan dia harus meninggal di usia muda," ujarnya. "Ya, sayang sekali," kataku padanya. "Kami sebenarnya cukup dekat saat itu," katanya, sebelum mewarnai mata ku dengan eyeshadows smokey. "Seperti, seberapa dekat?" aku bertanya padanya. Dia diam sebentar sebelum memberitahuku untuk tidak menceritakan ini kepada keluarga Peterson, dan aku mengangguk. "Francesca sering mendapat kekerasan oleh Daniel beberapa kali selama pernikahannya. Sering kali saya melihat memar di lengannya, dan dia mengatakan kepada saya bahwa dia telah dilecehkan. Beberapa hari sebelum dia meninggal dalam kecelakaan mobil, dia mengatakan kepada saya bahwa dia berencana untuk bercerai darinya," katanya, membuatku kaget. "Bagaimana dengan para wanita sebelum Francesca? Apakah kamu dekat dengan mereka?" aku bertanya pada Olivia saat dia hampir selesai dengan mataku. "Hanya sedikit, tapi tidak sedekat Francesca," kata Olivia kepadaku. "Hati-hati dengan keluarga Jameson. Mereka cukup berbahaya," Olivia berkata padaku seolah dia khawatir. Aku tahu dari tatapannya sepertinya dia takut aku akan berakhir seperti wanita-wanita mati itu. Mendengar hal-hal tersebut, aku sangat membutuhkan informasi lebih lanjut tentang Daniel. Olivia akhirnya menyelesaikan rambut dan make-up ku. Aku melihat ke cermin dan aku kagum. Olivia melakukan pekerjaan yang cukup bagus pada aku! Dia jelas seorang penata rias profesional. Aku berterima kasih padanya, sebelum berganti pakaian. Aku mengenakan gaun hitam yang jatuh di atas lutut, dipadukan dengan sepasang sepatu hak hitam. Aku keluar dari ruang ganti untuk melihat Ken sudah menunggu di ruang tamu. Ken berterima kasih kepada Olivia sebelum dia pergi, dan sebelum kami berdua berangkat ke pesta. Klub Malam Boulevard, 23:00.... Jam 11 malam dan kami baru saja tiba di klub. Kami masuk ke dalam dengan pemandangan orang-orang merokok dan mabuk bersama. Itu adalah salah satu malam di mana orang hanya ingin bermimpi dibawa lampu disko. Tempatnya cukup ramai. Aku berasumsi Daniel telah mengundang banyak temannya. Ken akhirnya memperkenalkan aku kepada Daniel, yang sedang duduk dengan seorang gadis yang sepertinya baru berusia 18 tahun. Gadis itu mengenakan rok yang sangat pendek, dipadukan dengan tank top berwarna kuning, dan sepatu boots tinggi. Sepertinya dia adalah salah satu dari wanita penghibur Daniel. Setelah Daniel menyapa kami, dia terus duduk di sebelah gadis itu. Salah satu lengannya melingkari tubuhnya yang ramping. Kudengar dia memanggilnya Macey, yang kuduga adalah namanya. Terlihat Ken todak terlalu suka berada di tengah keramaian, jadi aku dan dia memutuskan untuk berkumpul tidak di dekat area ramai, tempat Daniel dan teman-temannya berpesta. Kami memutuskan untuk minum anggur di sudut, ketika suara laki-laki mendekati kami. "Ken! Sudah lama," kata seorang pria dengan rambut pirang. "Saya lihat Anda punya gadis baru?" tanya seorang pria yang berdiri di sampingnya dengan rambut cokelat. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN