Sudah dua Minggu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Elegi. Entah takdir belum mempertemukan kami lagi atau dia yang berusaha menghindar. Padahal, aku sudah sangat percaya bahwa aku dan dia memang berjodoh.
Ketika aku sedang tidak bersemangat untuk bekerja menggantikan temanku di tempat pengisian bahan bakar umum. Tiba-tiba, aku melihat mobil seseorang yang sangat aku kenali. Yah, seseorang itu adalah Elegi. Meskipun pemilik mobil itu berusaha menyamar agar aku tidak mengenalinya. Namun, aku bisa dengan mudah mengetahui karena aku sudah hafal betul mobilnya.
Aku sengaja bersikap seolah aku tidak mengenalinya. Kemudian, aku sengaja mengambil kesempatan dengan memegangi tangannya ketika dia berusaha membayar.
Jujur, hanya dengan memegang tangannya saja, mampu mengembalikan semangat bekerjaku yang sempat hilang karena dua Minggu tidak melihatnya. Aku itu seperti handphone dengan daya yang hanya tersisa lima persen dan Elegi seperti charger pengisi daya. Kehadirannya mampu meningkatkan semangatku secara drastis.
Di akhir pertemuanku dan Elegi kali ini. Aku sengaja mengatakan sesuatu yang bisa membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk menghindar. Aku berharap, dia akan memikirkan kata-kataku baik-baik dan kami bisa terus bertemu. Ya, meskipun seperti saat ini yang tidak disengaja.
Sepertinya, aku harus berhenti menggantikan temanku. Setidaknya, agar aku bisa memiliki sedikit waktu untuk mendekati Elegi. Jika aku terus mempercayakan hubunganku dan Elegi pada takdir, tanpa berusaha untuk mewujudkannya. Bisa-bisa aku kecolongan dan Elegi bisa direbut pria lain. Jadi, sebelum hal itu terjadi, aku harus bergerak cepat.
"Udah mau pulang?" tanya rekanku.
"Seperti yang kamu lihat." Aku hanya mengedikkan bahuku mengiyakan, "Oh, iya. Sepertinya, hari ini akan menjadi hari terakhirku menggantikan Ramon. Jadi, sampai bertemu lain waktu."
"Loh! Eemangnya kenapa?" tanyanya.
"Aku butuh istirahat, Brother. Aku juga butuh waktu untuk berkencan," balasku sambil mengedipkan sebelah mataku.
"Oke, semoga kencanmu berjalan lancar." Aku hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman.
Lancar apanya? Baru mendekat saja Elegi sudah mencak-mencak seperti induk ayam yang baru saja menetaskan telurnya. Tapi, di situlah menariknya. Usaha keras tidak akan menipu hasilnya seperti pepatah yang selalu orang katakan. Jadi, aku bertaruh pada diriku sendiri. Apakah usaha kerasku nanti akan berhasil atau justru hasilnya akan menghianatiku.
Akhirnya, aku pulang dan bergegas membersihkan diri. Seperti apa yang aku katakan pada rekanku tadi. Aku akan pergi kencan. Ya, meskipun aku tetap tidak bisa merubah wajahku agar lebih tampan sesuai kriteria pria idaman Elegi. Setidaknya, penampilanku harus lebih bersih dan wangi.
Beberapa jam sebelum waktu manggung tiba. Aku pergi ke apartemen Elegi. Beruntung saat itu aku menggantikan temanku bekerja membersihkan rumah. Jika tidak, mungkin aku tidak akan pernah bisa tahu di mana Elegi tinggal.
Saat ini, aku sudah berada tepat di depan pintu apartemen Elegi. Dan beruntungnya lagi, wanita itu memesan makanan pesan antar. Ini kesempatanku untuk mengambil alih dan menjadi petugas pengiriman.
"Mas pemilik rumah ini?" tanya petugas pengiriman. Mungkin dia menganggapku pemilik rumah karena aku berdiri tepat di depan pintu.
"Bukan, Mas. Saya pacar pemilik apartemen ini. Apa pacar saya yang memesan?" Halu aja dulu. Suatu saat nanti baru mewujudkannya.
"Elegi, Mas, namanya." Petugas pengiriman melihat nama yang memesan di ponselnya.
Takdir memang selalu ada di pihakku. Haruskah aku melompat dan berteriak karena aku memiliki ide gila agar bisa masuk ke dalam sana? Sepertinya, tidak. Apa yang akan petugas pengiriman pikirkan tentangku, jika aku benar-benar melakukannya? Oke. Sekarang waktunya bagi seorang Kalingga untuk melangsungkan rencana dadakan.
"Oke. Jadi gini, Mas. Pacar saya hari ini ulang tahun dan saya ingin memberinya kejutan. Kalau misal saya pinjam seragam Mas dulu boleh nggak?" Akan lebih meyakinkan, jika aku juga memakai seragam makanan pesan antar itu.
"Maaf, Mas, nggak bisa. Saya harus mengirim pesanan lain dan saya tetap harus memakai seragam ini. Saya sangat menyesal karena saya tidak bisa membantu." Dengan raut menyesal petugas pengiriman itu menolak permintaanku.
Ternyata tidak semulus yang aku pikirkan. Tapi, tidak apa. Aku masih bisa menyamar karena saat ini aku memakai topi. Nanti setelah memencet bel, aku akan menunduk sambil menyembunyikan wajahku menggunakan topi. Jadi, dia tidak akan melihat wajahku. Setelah pintu terbuka, aku akan langsung masuk ke dalam dan mengejutkannya. Oke. Itu bagus Kalingga.
"Tidak masalah. Tapi, ini sudah dibayar atau belum?" Kalau belum, aku berencana untuk membayarnya.
"Belum, Mas."
"Totalnya berapa, biar saya yang bayar?"
"Lima ratus empat puluh lima ribu, Mas," jawabnya sambil menyodorkan billing.
Aku mengambil dompet di saku celana dan bergegas membayarnya. Lalu, mengambil tiga tumpuk pizza dengan satu botol minuman bersoda. Setelah itu, aku bersiap-siap untuk memencet bel. Dalam hitungan detik, terdengar suara pintu terbuka. Sepertinya, Elegi memang sudah menunggu pesanannya sejak tadi. Jadi setelah mendengar bel, wanita itu langsung membuka pintu.
"Masuklah!" kata Elegi. Wanita itu benar-benar tidak memperhatikan siapa yang mengantar dan memakai seragam atau tidak. Hal itu terjadi karena posisi wanita itu saat ini sedang melakukan panggilan. Jadi, tidak fokus dengan apa yang ada di depannya.
"Kalau udah di sini, kenapa lama banget nggak sampe-sampe? Harusnya kalian berdua udah sampe dari tadi."
Sepertinya Elegi dan teman-temannya sudah memiliki janji untuk bertemu. Aku sudah tidak sabar menunggu mereka datang. Karena dengan adanya mereka, aku berkesempatan untuk berada di sini ikut bergabung bersama mereka. Tentu saja karena Rea orangnya cukup asik. Aku hanya perlu mengedip-ngedipkan mataku dan aku yakin dia akan langsung memahami maksudku dan mau membantuku.
"Letakkan di situ saja," kata Elegi sambil menunjuk ke arah meja. Lalu, mengambil dompetnya di sofa dan bertanya, "Totalnya berapa, Mas?"
"Lima ratus empat puluh lima ribu, Mbak," jawabku masih dengan posisi menunduk sama seperti ketika pertama kali aku masuk. Bahkan, saat ini suaraku dibuat ala-ala orang Jawa yang medok. Setidaknya, aku tidak ingin ketahuan sebelum ada penyelamat yang datang. Maksudku, Rea dan Jasmin, hihihi.
Sebelum Elegi membayar, aku membuat alasan ingin meminjam kamar mandi atau lebih tepatnya untuk mengulur waktu. "Maaf, Mbak. Saya boleh numpang kamar mandinya sebentar, nggak? Dari tadi saya kebelet, tapi saya tahan. Dan sekarang, saya sudah tidak tahan lagi takut mengompol."
Elegi sempat terkejut dan melirik sambil mengerutkan keningnya. Aku buru-buru menunduk dan menyembunyikan wajahku dengan topi.
"Kamar mandinya ada di sebelah sana, tapi kamu nggak boleh lama-lama. Karena sebentar lagi, teman-temanku akan datang," balasnya sambil menunjuk ke arah di mana kamar mandi berada. Padahal, aku sudah tahu di mana letak kamar mandinya.
"Baik, Mbak."
Oke. Aku tidak boleh berlama-lama berada di dekatnya dan memancing kecurigaan. Bisa-bisa aku ditendang keluar oleh singa kelaparan itu.
Belum lama aku masuk kamar mandi, aku mendengar suara ramai-ramai dari depan. Itu artinya, Rea dan Jasmin sudah datang. Jadi, setelah ini aku tidak perlu menyamar lagi. Aku berdiri di depan cermin dan merapikan penampilanku. Setelah itu, aku keluar tanpa menundukkan kepalaku lagi.
"Lingga?" Jasmin terkejut melihatku yang saat ini baru setengah perjalanan menuju ruang tamu.
"Kalian udah jadian?" tanya Rea.
Sontak, Elegi menoleh ke belakang dengan tatapan terbelalak. "Ba-bagaimana bi-bisa kamu ada di sini?" tanya Elegi terbata seolah tidak mempercayai keberadaanku.