Dua Minggu berlalu, aku mulai bosan dengan aktivitasku yang begini-begini saja. Apalagi jika keluar rumah yang hanya akan membuatku bertemu dengan si Kali Krukut.
Sebenarnya aku heran sekali. Kenapa setiap aku keluar rumah harus selalu bertemu dengan pria itu? Padahal, aku selalu mengunjungi tempat yang berbeda. Dan anehnya, entah itu kebetulan atau bukan. Kami selalu dipertemukan di tempat di mana pria itu bekerja.
Pertama di club, kedua di restoran, ketiga di apartemenku sendiri, keempat di pengisian bahan bakar umum, dan kelima di cafe. Entah akan sampai berapa kali dan di tempat dia bekerja apalagi, aku harus selalu bertemu dengannya. Jujur, aku merasa risih karena pria itu tidak seperti pria pada umumnya. Dia itu benar-benar pria tidak tahu malu yang menyebalkan.
Untuk pertama kalinya aku berpikir bagaimana caranya untuk menjauhi seseorang. Apa aku meminta pekerjaan saja sama Papa? Barangkali saja bisa membuat pertemuan tidak sengaja dengan Kali Krukut akan berkurang.
Aku mulai mencari kontak Papa dan menghubunginya.
"Papa di mana sekarang?"
"Papa di rumah, Sayang. Sudah dua Minggu kamu tidak pulang ke rumah. Memangnya kamu tidak rindu sama papa Mama?"
"Tentu saja, Rindu. Nanti agak siangan Egi pulang ya, Pa. Sekarang Egi siap-siap dulu."
"Oke, Sayang."
Setelah mengakhiri panggilan, aku bergegas bersiap-siap. Aku sudah tidak sabar ingin meminta pekerjaan pada Papa. Aku janji, apa pun posisinya aku akan terima. Tidak harus di posisi atas, tapi juga tidak di posisi bawah. Pokoknya yang sedang-sedang saja.
Satu jam kemudian, aku meluncur ke rumah di mana aku tinggal bersama kedua orang tuaku dulu. Sampai di depan pintu gerbang, terlihat Papa dan Mama sudah menunggu di depan pintu. Sepertinya, kedatanganku benar-benar ditunggu oleh keduanya.
"Ya ampun, Sayang. Kamu ini benar-benar tega ya sama mama," kata Mama sambil melipat kedua tangannya di depan. Aku yang baru turun dari mobil langsung menghampiri Mama dan memeluknya.
"Maaf, Ma, Egi lupa, hehehe." Aku hanya bisa terkekeh saja.
"Bisa-bisanya kamu lupa sama mama. Sudah tidak pernah menelepon atau mengirim pesan. Tidak pernah menjenguk mama. Ih, bener-bener deh anak mama satu ini." Sambil memeluk dan mengusap punggungku, Mama tidak berhenti mengoceh.
Ini memang salahku yang terlalu sibuk menjelajahi tempat-tempat keramaian. Tapi, semua itu sudah tidak membuatku tertarik lagi karena kemunculan Kalingga si Kali Krukut. Pria itu benar-benar merusak hariku.
"Sudah, Ma, sudah. Yang penting 'kan Egi sudah pulang," protes Papa.
"Apa, sih, Pa? Papa enak sebelum Egi pulang Papa dulu yang dihubungi. Sedangkan mama, boro-boro," sungut Mama melirik sinis ke arah Papa.
Aku tidak menyangka hal sepele itu bisa membuat Mama merasa iri. Padahal maksud dan tujuanku menghubungi Papa hanya karena masalah pekerjaan. "Baiklah, baiklah. Mulai besok, Egi akan menghubungi Mama dulu sebelum pulang. Bagaimana?"
"Janji, ya?" pinta Mama.
"Iya, Egi janji," jawabku.
"Kita ngobrolnya di dalem aja, yuk. Masa iya ngobrol di luar sambil berdiri seperti ini," kata Papa.
"Masuk yuk, Sayang!" ajak Mama.
Aku berjalan masuk ke dalam dirangkul Mama. Papa juga berjalan di belakang kami bak pengawal.
Sampai di dalam, Papa langsung bertanya padaku. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"
"Memangnya apalagi? Egi pulang karena merindukan kita dan merindukan rumah. Pakai ditanya lagi," timpal Mama ketus.
"Apa yang Mama katakan memang benar, tapi Egi juga ada tujuan lain," sahutku sambil menatap Mama dan Papa bergantian.
"Apa itu? Bilang sama Papa, apa ada sesuatu yang kau inginkan atau butuhkan?" Seperti inilah Papa sejak dulu. Selalu mengerti tanpa harus diberitahu. Selalu memberikan segala keinginan dan kebutuhanku.
"Egi bosan tidak melakukan aktivitas apa pun, Pa. Apa Papa bisa memberi Egi pekerjaan di kantor?"
"Kalau kamu bosan, kamu bisa pulang dan menemani mama di rumah, Sayang. Untuk apa bekerja selagi Papa masih mampu menghidupimu?"
"Mama! Mama apa-apaan, sih? Bukannya mendukung niat baik Egi malah begini. Harusnya Mama senang Egi mau bekerja. Memangnya Mama pikir Papa bisa selalu sehat? Bisa saja tiba-tiba Papa mati besok. Terus siapa yang akan meneruskan mengurus perusahaan? Kalau bukan Egi putri kita siapa lagi? Masa iya diberikan pada orang lain?" murka Papa.
Aku tahu, kasih sayang Mama dan Papa padaku sama besarnya. Akan tetapi, dari kata-kata Papa yang panjang kali lebar dan kali tinggi ini. Aku bisa menilai bahwa kepedulian Papa lebih jauh terhadap masa depanku. Sedangkan Mama peduli hanya untuk hari ini saja.
Seandainya apa yang Papa katakan benar. Sebenarnya amit-amit, sih, karena aku ingin Papa hidup umur panjang. Ini hanya seandainya saja.
Jika aku dan Mama tidak bisa mengurus perusahaan dan Papa tiada. Maka, aku tidak tahu bagaimana kehidupanku nanti di masa depan. Perusahaan pasti akan direbut oleh orang berkuasa lain di perusahaan. Jadi, mungkin kehidupanku dan Mama nanti akan terlunta-lunta di jalanan.
Tidak mungkin 'kan jika aku minta tolong pada Shalom dan Kanagara? Ya, meskipun hubungan kami sudah membaik. Tapi, tetap saja aku yang malu sendiri.
Jadi, mulai hari ini aku bertekad untuk mempelajari tentang perusahaan agar aku bisa menggantikan Papa suatu hari nanti.
Aku mengedipkan mataku memberi isyarat pada Papa agar lebih tenang. "Apa yang Papa katakan benar, Ma. Egi juga sudah memutuskan untuk belajar tentang perusahaan.
Egi akan masuk ke perusahaan dan posisi apa pun yang akan Papa berikan, Egi akan menerimanya dengan senang hati. Egi akan mempelajari semuanya mulai dari nol." Setidaknya dengan adanya penjelasan dariku, Papa dan Mama tidak akan berdebat.
"Tapi, kalau kamu cape gimana? Mama tidak ingin kamu kecapekan dan sakit, Sayang," tanya Mama sendu.
"Mama ini gimana, sih? Egi sudah besar, sudah dewasa loh, Ma. Umur Egi saja sudah tiga puluh tahun. Jadi, capek tidaknya memang sudah waktunya Egi bekerja. Egi malu kalau harus selalu meminta uang pada Mama dan Papa. Jadi, Egi mohon dukung keputusan Egi kali ini juga, seperti biasanya."
"Kenapa harus malu, Sayang? Tanpa diminta pun Mama dan Papa akan dengan senang hati memberikannya padamu."
Mama cukup keras kepala untuk melepasku menjadi wanita mandiri. Mama menganggap bahwa sampai kapan pun, aku tetap anak kecil di matanya.
"Cukup, Ma! Biar Egi menentukan pilihannya sendiri. Seharusnya, Mama senang bukannya malah bersikap seperti ini," protes Papa sudah tidak tahan lagi.
"Ya sudah iya. Papa nih kayak tidak tahu Mama saja," sungut Mama.
"Jadi, kapan Egi bisa mulai bekerja?" Bola mataku nyaris seperti bola mata kartun yang berbinar mengeluarkan cahaya. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin mulai bekerja.
"Nanti, Sayang. Kau harus mempelajari seluk-beluk perusahaan terlebih dahulu. Setelah itu, Papa akan meletakkanmu di bagian yang tidak terlalu mencolok. Anggap saja, kau ini karyawan biasa. Bagaimana?"
"Boleh. Ini justru akan lebih menantang."
Aku penasaran akan seperti apa rasanya bekerja di perusahaan ayahku sendiri. Tapi, tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa aku adalah anak dari pemilik perusahaan itu sendiri. Pasti akan sangat menyenangkan bukan?
"Apalagi ini, Pa? Kenapa Papa memberikan putri kita posisi yang bagus? Misalnya seperti direktur, wakil direktur, atau posisi bagus lainnya. Masa iya, putri pemilik perusahaan bekerja sebagai karyawan biasa. Mau ditaruh di mana muka Papa?" tanya Mama tidak percaya.
Mama pikir, keputusan Papa itu hanya akan mempermalukan diri Papa sendiri. Namun, tidak seperti itu yang Papa maksud. Aku bekerja menjadi karyawan biasa tanpa mengungkapkan identitasku. Jadi, hanya aku dan Papa yang tahu.
"Astaga, Egi! Mamamu ini benar-benar bikin Papa gemas tahu nggak, sih. Bisakah kamu bantu papa untuk menjelaskannya?"
Aku mengangguk dan beralih pada Mama. "Jadi gini, Ma. Egi bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan tanpa ada orang yang tahu kalo Egi ini putri Papa. Jadi, tidak akan membuat Papa malu. Lagi pula, ini hanya proses belajar.
Nantinya juga Egi akan menggantikan posisi Papa. Jadi, Mama tidak perlu khawatir karena ini hanya proses belajar Egi saja sebelum tiba waktunya menggantikan posisi Papa." Aku berharap penjelasannku bisa membuat Mama mengerti dan mau mendukung keputusanku.
"Baiklah, mama akan mendukungmu secara penuh. Demi masa depanmu yang cerah," balas Mama lesu. Terlihat sekali bahwa Mama tidak rela aku bekerja dan kelelahan.
Aku juga jadi merasa lega karena Mama tidak lagi keberatan dengan keputusanku. Aku seperti ini juga bukan demi orang lain melainkan demi diri aku sendiri. Aku sudah merasa cukup, dulu selalu hidup foya-foya.
Sudah cukup juga sembilan tahun meratapi perbuatanku di penjara. Dan sekarang, sudah saatnya aku berubah. Karena jika bukan dari diri aku sendiri yang memiliki niat itu. Lalu, siapa lagi?