Di sebuah kafe kecil di sudut kota, Yeri duduk dengan wajah tertutup masker dan kacamata hitam besar. Tangannya menggenggam ponsel erat, jarinya gemetar bukan karena takut, melainkan amarah yang menggelegak. Di layar ponselnya terpampang sebuah foto. Clara. Wanita itu tampak duduk di sebuah bioskop, berdampingan dengan Briana. Wajahnya memang masih terlihat sedikit kaku, tapi senyumnya nyata. Hidup. Bernapas. Tidak hancur seperti yang Yeri harapkan. Yeri terkekeh pelan, tawa yang terdengar dingin. “Bangkit?” gumamnya. “Berani sekali kamu bangkit.” Ia menggeser layar, membaca komentar-komentar kecil dari akun anonim yang ia ikuti diam-diam. Ada yang memuji Clara, ada yang menulis bahwa isu lama tentang Clara mulai dilupakan. Yeri mengepalkan tangan. “Tidak,” katanya lirih. “Aku tida

