Clara berdiri cukup lama di depan meja makan, menatap kotak makan yang sudah ia siapkan sejak pagi. Isinya sederhana tapi ia tahu Jevian pasti suka. Nasi hangat, lauk yang tidak terlalu berat, dan sup bening yang aromanya masih tipis mengepul ketika tutupnya dibuka sedikit. Ia sengaja memasaknya sendiri, pelan-pelan, sambil sesekali duduk karena tubuhnya akhir-akhir ini cepat lelah. Siang ini rencananya sudah jelas di kepalanya. Ia ingin ke perusahaan Jevian, makan siang bersama suaminya, sekadar duduk berhadapan tanpa agenda apa pun selain makan dan berbincang. Sudah beberapa hari Jevian pulang larut, dan Clara rindu menatap wajah suaminya di siang hari, saat pikirannya belum terlalu penuh. Clara mengangkat kotak makan itu, memastikan tutupnya rapat, lalu meletakkannya kembali. Ia melir

