Setelah ketegangan di rumah Clara perlahan mereda, Jevian mengambil keputusan cepat. Wajah Clara masih terlihat lelah, namun ia sudah tidak lagi menangis. Jevian memegang tangan Clara dengan hati-hati, seolah takut membuatnya terkejut. “Clara,” ucap Jevian lembut, “kamu mau ikut aku keluar sebentar? Udara di luar lebih baik daripada kamu terus mengunci diri di dalam rumah.” Clara mengusap ujung matanya. “Ke mana?” “Aku ajak kamu makan,” kata Jevian dengan senyum kecil. “Nggak jauh, kok. Di sekitar taman. Makan di gerobak. Yang sederhana, yang enak, dan yang kamu suka.” Clara terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Oke.” Jevian tersenyum lega. “Ayo.” --- Di perjalanan menuju taman, suasana masih sedikit canggung. Clara beberapa kali menatap ke luar jendela mobil, sementara

