“Ini untukmu.” Eric menyerahkan sebuah kantong belanjaannya pada Pam. Si gadis pirang itu bahagia menerimanya.
Pam mempersilakan Eric masuk ke dalam motel tempatnya menginap. “Kan? Apa kubilang- istrimu masih bersih.” Ia menutup pintu sembari tertawa terbahak-bahak.
“Bukan urusanmu.”
“Jadi bagaimana rasanya?”
“Rasa apa?”
“Sherry? Apa iya seperti bayanganmu- semanis ceri?”
“Kau pikir kami kemarin ngapain?”
Pam terlompat kaget. “Jangan bilang- kalian tidak melakukan apapun?”
“Aku tidak selera menidurinya setelah tahu.” Eric menghempaskan bokongnya di atas sofa kumal tak jauh dari ranjang.
“Kau gila ya? Kau biasanya paling jago dalam hal menerobos-”
“Ini beda, Sialan.”
“Apa bedanya?”
“Pokoknya beda.”
“Kenapa kau kedengarannya benci? Dia masih perawan- dan kau kelihatan malas? Ada apa dengan kepalamu?”
“Itu membuatku muak.”
“Kalau kau tidak menidurinya, lalu kemarin kau apakan dia?”
“Kutinggalkan. Entah- semenjak pagi aku tidak melihatnya. Aku tidak tahu-”
“Bercanda'kan ini? Selama bertahun-tahun kau menunggu momen ini, dan setelah kalian bersama, kau meninggalkannya di ranjang hanya karena dia masih perawan?”
“Bisa kau diam?”
“Oh, aku tahu, kau merasa bersalah.”
Eric memperhatikan baju tidur Pam yang jelas menerawang. Dia bak melihat gadis itu hanya memakai celana dalam saja. Lalu mengalihkan pembicaraan, “kau sebaiknya memperbaiki selera berpakaianmu. Kau bukan gadis panggilan lagi, Pam.”
Pam malah memamerkan lekuk tubuhnya yang luar biasa seksi. Dia juga sengaja menunjukkan p****g payudaranya yang jelas membentuk di balik selembar kain tipis. “Aku tidak masalah membukanya di depanmu loh, Eric~”
“Awas saja kau membuat dirimu kembali menjadi w************n-” Ancaman Eric terdengar serius. Dia tidak bernafsu sama sekali dengan lekuk tubuh adiknya. Pikirannya terlalu pusing akibat malam pengantin yang gagal. Lebih dari gagal, kemarin itu membuatnya frustasi berat.
Bagaimana bisa Sherry Saunders tidak pernah disentuh pria lain? Tidak mungkin. Ia yakin ada yang salah.
Tak hanya pusing karena masalah Sherry, aroma tak sedap dari kamar ini membuat mualnya menjadi-jadi.
Ia memperhatikan kamar yang berantakan ini. Sebuah kamar motel murah yang pasti dianggap mewah saat ia miskin dulu. Rasanya dia ingin membakar tempat ini karena terlalu risih. Terlebih lagi aroma bekas kegiatan seksual masih menggantung di udara.
“Sudah kubilang, jangan pernah menyewa tempat seperti ini lagi! Jangan katakan padaku kau kencan dengan pria tua- dan mencuri dompetnya, Pam,” ucapnya dengan sorot mata menyelidik.
Pam mengeryihkan dahi. “Aku tidak punya alasan untuk bercerita masalah seksku denganmu, Eric.”
“Tapi aku harus tahu, kita sudah bukan dari tempat kumuh lagi! Berhenti membuat dirimu seperti jalang liar! Kau hanya akan mempermalukanku!”
“Ayolah, kau sendiri juga tidak mau memperkenalkanku pada semua orang. Kau malu padaku'kan?” ledek Pam memalingkan wajah, “kau harusnya ingat dirimu dulu- sangat mendukungku meniduri pria tua agar kau bisa mencuri jam tangannya.”
“Hentikan.”
“Kau malu mengakui masa lalumu, Eric.”
“Sudah cukup kubilang.” Eric tidak tahan lagi. Dia segera berdiri dan merapikan jasnya. “Cepat ganti baju, aku akan membelikanmu baju yang pantas untuk kau kenakan.”
“Aku bisa memilihnya sendiri.”
“Tidak. Kau pasti mengacaukannya. Aku mau anggota keluargaku tampil anggun dan sopan.”
“Aku harus tampil membosankan?”
“Ini beda, Pam! Ini pesta perkenalanku sebagai warga baru di kawasan Paradise, sekaligus suami Sherry Saunders. Aku seorang pengusaha kaya sekarang.”
Pam menghela napas lelah. “Sherry sudah jadi istrimu, Bodoh. Sampai kapan kau menghukumnya dengan memanggilnya 'Saunders?”
“Well, aku ini pengertian. Aku tahu dia tersiksa dengan nama belakang Bryson, jadi semakin sering kusinggung, semakin aku merasa menang.”
“Keras kepala.”
“Sudah ganti saja bajumu, Sialan!”
Pam hanya mendengus kesal.
*****
Sudah seharian Eric berbelanja dengan Pam. Mereka terlihat dekat layaknya pasangan kekasih. Pasti semua orang akan berpikir demikian. Apalagi saat duduk bersama di kedai kopi paling terkenal di kota. Kedai yang sering dijadikan tempat mampir para kekasih.
Meskipun berpenampilan rapi, Eric memiliki wajah seksi menantang sehingga selalu sukses membuat wanita terpikat. Sementara Pam yang lihai memainkan mata juga tak kalah dalam hal merayu.
“Kau serius membelikanku semua barang mewah ini? Bahkan kalung berlian, aku akan secantik ratu dengan semua ini.” Pam beberapa kali mengintip ke kantong belanja yang berjajar di sisa kursi panjang yang dia duduki.
Eric menyeruput kopi krim. Kamudian memakan donat yang hidangkan. Dia melihat keluar jendela dimana pemandangan parkiran kedai yang ramai. “Dulu dia sering kesini- bersama teman lelakinya. Dan- aku hanya berdiri seperti orang bodoh di luar sana. Berandalan gembel yang tidak boleh menginjakkan sepatu butut di sini.”
Pam tergelak keras. “Ayolah, kita bisa bersenang-senang setelah ini, Eric, jangan biarkan dirimu teringat hal yang menyedihkan.”
“Aku sangat membencinya- aku benci karena dia bersama orang lain bukan aku.”
“Kenapa kau tidak berusaha jujur padanya?”
“Jujur apa?”
“Kalau kau mencintainya?”
“Cinta? Itu tidak mungkin. Setelah apa yang selalu kulihat- dia tidak pantas dicintai, orang bermuka dua.”
“Kau terlalu sadis, Eric.”
Eric tertawa palsu. Dia meremas tangan Pam dengan penuh makna. “Kalau boleh jujur, dari dulu aku suka wanita yang mirip denganmu- liar di ranjang dan memuaskan, ketimbang sok polos seperti Sherry.”
Mereka saling melontarkan candaan dan tertawa bersama. Semakin dekat dan kian mesra.
Mereka tak sadar kalau ada pengunjung lain yang tanpa sengaja mendengarkan semua ucapan itu. Pengunjung wanita yang duduk sendirian. Gelak tawa Eric dan Pam seolah menjadi suasana di sekitarnya dingin.
Sherry.
Wanita ini tidak ingin melihat suaminya terus berdekatan dengan gadis berambut pirang yang sama. Sama sekali tidak ia sangka akan bertemu Eric di tempat ini setelah apa yang terjadi semalam.
Ia menghampiri meja mereka.
“Apa aku pernah menyakitimu?” tanyanya kepada Eric. Tangannya mengepal penuh amarah. Dia tidak tahan melihat sang suami bermesraan secara terang-terangan di tempat umum.
“Oh Sherry? Ada apa? Kenapa kau ada disini? Kau keluar rumah tanpa ijinku?” tanya balik Eric menyunggingkan senyum culas.
Sherry mengalihkan pandangan pada Pam. Tatapan matanya dipenuhi tanda-tanda kecemburuan berat. Dia sadar diri kalau tidak memiliki daya tarik seperti Pam. Namun dia tidak rela membiarkan Eric takluk kepadanya.
“Namaku Sherry Bryson, aku istri Eric Bryson, apakah kau tahu itu, Miss?” katanya sopan, “kurasa bepergian dengan suami orang itu tidak baik bagimu.”
Eric sedikit terkejut. Pam mendelik.
Tatapan Sherry pada gadis itu makin serius. Dia semakin sakit saat melihat belanjaan gadis itu. “Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri. Eric memakai cincin kawin, dia sudah menikah, kau harusnya tahu dia tidak boleh berjalan denganmu.”
Eric mulai panik karena diperhatikan seperti sedang berselingkuh. Apalagi beberapa pelayan kedai memicingkan mata curiga ke arahnya.
Ia mendorong tubuh Sherry dengan kasar. “Cepat pulang saja sana! Kalau tidak tahu apapun, jangan menghinaku lebih dari ini!”
Pam spontan menarik tangan kakaknya. Dia berbisik, “kau gila ya!”
“Aku hanya ingin tahu kenapa kau meninggalkanku dan tahu-tahu bersama gadis yang sama dengan kemarin disini? Dan kalian membahasku, kau membenciku? Menertawakanku? Kenapa? Apa salahku?” Sherry memandang sendu suaminya sendiri.
Semua pengunjung akhirnya menoleh bersamaan. Mereka tentu penasaran kegaduhan singkat itu.
“Kau selalu saja begini, Sherry, senang mempermalukanku? Lebih baik kau pulang saja karena aku tidak sehina dirimu,” tegas Eric melototi istrinya.
Sherry yang sakit hati langsung pergi. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Ada perasan benci dan malu pada dirinya sendiri. Rasanya tak percaya baru saja melabrak mereka berselingkuh.
Eric menatap semua orang sampai mereka pura-pura kembali bersikap normal. Dadanya terasa sesak bak dipenuhi penyesalan demi penyesalan.
Menyakitkan sekali.
Pam memarahinya, “kau sudah gila? Kejar dia- atau aku sendiri yang menjelaskan karena kau terlalu pengecut?”
“Untuk apa?” Eric mencoba tidak peduli.
“Dia cemburu!”
Eric hanya tertawa.
Pam menggeleng pertanda tak percaya. Dia menghembuskan napas panjang. “Kau akan menyesal nanti.”
Ia hendak mengejar Sherry, tapi Eric memaksanya tetap duduk manis.
“Oh, Please. Bentar lagi juga tahu kalau kau adikku- dan dia akan malu sendiri karena gagal membuatku terhina.”
Pam memperhatikan kakak iparnya yang menaiki salah satu mobil di parkiran depan. “Kau iblis, Eric.”
Eric kembali mengunyah sisa donatnya. Ia mendengus penuh kekesalan. “Aku lebih penasaran, mengapa dia ada disini? Biasanya dia disini jika bertemu seseorang. Pasti dia sedang ingin bertemu kekasih lamanya. Lihat saja nanti kalau itu benar.”
Tiba-tiba ada seorang pria seumuran Eric yang memakai kemeja rapi masuk. Pandangan matanya mengedar kemana-mana mencari seseorang. Karena tidak menemukannya dia keluar lagi sambil menelpon.
Dan Eric- jelas mengenalnya. Dan keemburuan- memuncak seketika.
-----