Di rumah, Sherry menghabiskan waktu nersama Sammy dengan memasak. Wanita itu sengaja memasangkan topi koki yang dulunya merupakan miliknya di atas kepala Sammy. Sudah berjam-jam mereka berada di meja dapur mengaduk adonan dan mencetak kue kering di atas loyang. Karena mejamya cukup tinggi, Sammy terpaksa berdiri di atas kursi kayu. Hanya tawa yang terdengar keluar dari bibir mungiknga. Selama ini memasak bersama pembantinya tak semenyenangkan ketika bersama Sherry. “Aku suka makan kue,” kata Sammy senang, “manis.” “Pantas kau pun juga manis sekali, Sammy.” “Mommy juga bilang begitu, Mommy biasanya membelikan kue untukku kalau pulang. Aku menyukainya.” “Kau sangat menyukai Mommy-mu ya?” “Aku menyukaimu, oh, apa aku serius boleh memanggilmu Mommy?” “Tentu, Sayang. Kau benar-benar bole

