“Apa kau mendengarkan apa yang sudah kukatakan?” tanya Max memastikan.
Dalila yang berada di hadapan Max menghela napas dan berkata, “Aku mendengar dan memahaminya, Max.” Dalila tampak begitu jengah dengan apa yang dikatakan oleh Max.
Max tengah meminta Dalila untuk tidak lagi melakukan hal berbahaya yang terakhir ia lakukan. Hal tersebut tak lain adalah bergerak seorang diri, di tengah arena yang sebelumnya sudah dibersihkan, dan di tengah malah seperti terakhir kali. Karena bisa saja hal yang dialami oleh Dalila, kembali terjadi. Di mana ada kaum pembelot yang berhasil untuk menghindari pembersihan yang dilakukan oleh Max serta timnya. Apa yang terjadi malam itu tentu saja terasa sangat memalukan, dan sangat membuat Max cemas.
Memalukan karena ternyata Max dan timnya tidak membersihkan dengan sempurna, karena ada seorang pembelot yang bisa menghindari pembersihan. Bahkan bersembunyi lebih dari satu hari, sebelum ketahuan. Cemas, karena Dalila yang menangkap basah kaum pembelot itu ketika tengah menjalankan aksinya menyerang anak manusia untuk mengurangi rasa laparnya. Menghadapi kaum pembelot bukanlah hal yang mudah, mereka sudah terlalu liar karena niat yang mereka miliki. Niatan untuk menguasai dunia manusia dan menjadikan manusia sebagai b***k mereka.
Dalila yang belum memiliki pengalaman untuk menghadapi mereka, tentu saja sangat riskan ketika harus berhadapan langsung dengan mereka. Karena nyawa yang dipertaruhkan dalam pertarungan tersebut. Jelas, hal itu berbeda dengan latihan pertarungan yang biasanya dilakukan oleh Dalila dan guru-gurunya. Max tidak mau sampai kemungkinan terburuk terjadi, dan membuat Dalila terluka. Rasanya, memikirkannya saja sudah membuat Max merasa sangat kesal.
“Bisakah kau berhenti membicarakan hal ini? Aku hampir merasa muak,” ucap Dalila sembari meletakkan sendoknya.
Dalila dan Max memang tengah menikmati makan malam mereka. Kini, keduanya—atau lebih tepatnya seluruh tim khusus yang dipimpin oleh Max tengah berada di sebuah pesawat yang akan membawa mereka menuju destinasi selanjutnya. Yaitu, Italia. Penyebaran wabah di sana sangat besar dan luas, membuat tim harus bergegas secepat mungkin untuk mencapai tempat tersebut. Karena itulah, pihak pemerintah mengirimkan pesawat khusus yang membawa tim Max untuk segera tiba di negara mereka.
Max mengulurkan tangannya dan menyeka sedikit noda makanan yang mengotori sudut bibir Dalila dengan begitu alami. Membuat siapa pun yang melihatnya terkejut. Para anggota tim yang berasal dari berbagai kaum tentu saja merasa sangat terkejut. Namun, mereka berusaha untuk mengendalikan diri mereka. Berbeda dengan Julion yang memang sudah mengamati mereka, dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat. Seakan-akan Julion ingin memisahkan mereka saat ini juga. Sayangnya, Julion harus menahan diri. Mengingat jika dirinya harus lebih berhati-hati dalam bertindak.
Julion pun mengambil beberapa potong buah dan mendekat pada Dalila. Ia pun meletakkannya di atas meja Dalila dan berkata, “Kemampuanmu pasti sudah sangat membaik. Hingga kau berhasil mengalahkan kaum pembelot dengan mudah, tanpa mendapatkan bantuan dari siapa pun.”
Dalila yang mendapatkan pujian tentu saja merasa sangat senang. Ia bahkan tersenyum, dan berniat untuk mengatakan sesuatu pada Julion. Namun, Max segera menangkup wajah Dalila dengan lembut. Mencegah Dalila memandang orang lain, terutama Julion yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan baik dengan Max. Dalila menatap suaminya itu dengan lekat, begitu pun sebaliknya. Dalila pun sadar, jika kini suasana hati Max sama sekali tidak baik. Ia pun mencoba berpikir, menelaah hal apa yang membuat suasana hati Max bisa berubah memburuk seperti ini.
“Aku senang kau memiliki kemajuan yang pesat dan bisa mempraktikan semua pelajaran yang sudah kau terima. Tapi, aku sama sekali tidak senang jika kau bertindak gegabah seperti terakhir kali. Apa kau mengerti dengan apa yang kumaksud?” tanya Max dengan penuh penekanan.
Dalila tidak memiliki pilihan lain, selain mengangguk. “Aku paham. Aku akan mengingatnya dengan baik-baik. Jadi, berhentilah cemas,” ucap Dalila membuat Max menghela napas dan mengangguk dengan berat hati.
Julion yang masih berada di sana tentu saja merasa sangat kesal. Ia yakin, jika Max dengan sangat sengaja bertingkah seperti itu di hadapannya. Max ingin membuat dirinya marah. Namun, Julion tidak akan kalah. Ia juga akan memberikan sebuah serangan yang jelas, akan memberikan dampak besar pada emosi Max. Julion pun duduk di kursi yang berada di samping Dalila. Tampak tidak peduli dengan ekspresi tidak senang yang ditunjukkan oleh Max padanya.
Julion pun menatap Dalila dengan penuh perhatian dan bertanya, “Apa ada hal tertentu yang kau sadari ketika bertarung dengan kaum pembelot? Ada yang ingin kau diskusikan denganku mengenai pertarungan sesungguhnya itu?”
Lalu secara alami, Dalila dan Julion terlibat dalam pembicaraan mengenai penggunaan sihir kaum pembelot yang sepertinya sagat seru. “Sepertinya sihir mereka sangat berbeda. Meskipun terlihat mirip dalam teknik dan cara mengguakanannya, tetapi rasanya ada yang aneh dalam sihir tersebut,” ucap Dalila.
“Mereka memang tidak menggunakan sihir murni seperti kita. Karena mereka sudah mengkhianati Sang Pencipta. Kekuatan sihir murni hanya akan menyiksa mereka. Para pembelot memilih melakukan kesepakatan dengan Kegelapan, dan menggunakan kekuatan terlarang. Jadi, sihir yang kau lihat itu adalah sihir gelap yang sangat terlarang,” ucap Julion menjelaskan dengan begitu detail.
“Ah, begitu. Berarti aku bisa mengenali para pembelot dalam warna sihir mereka?” tanya Dalila menyimpulkan dari apa yang sudah dijelaskan oleh Julion sebelumnya.
Julion yang mendengar kesimpulan tersebut tersenyum lebar. Ia pun mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk menepuk puncak kepala Dalila. Sebagai bentuk dari pujian yang diberikan olehnya pada kerja bagus anak didiknya tersebut. “Kau benar-benar cepat belajar,” puji Julion tulus.
Max yang melihat hal tersebut merasa sangat kesal. Ia pun bangkit dari posisinya lalu menggenggam tangan Dalila dengan lembut sembari menghelanya agar masuk ke dalam dekapan hangatnya. Max menatap anggota timnya dan berkata, “Kalian bisa beristirahat selama perjalan ini. Selamat malam.”
Lalu Max pun menarik Dalila untuk memasuki ruangan di dalam pesawat yang memang disediakan khusus untuk dirinya dan Dalila. Begitu tiba di dalam kamar, Max mengusap-usap puncak kepala Dalila. Seakan-akan berusaha untuk membersihkan jejak tangan Julion sebelumnya. Usapan yang diberikan Max membuat rambut Dalila kacau balau, dan hal itu tentu saja membuatnya merasa sangat kesal. “Ayolah!” seru Dalila sembari menahan tangan Max dengan sangat kesal.
Max menghela napas dan memilih untuk menarik Dalila ke dalam pelukannya. Ia pun menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Dalila, menghirup aroma istrinya dengan begitu rakus. Seakan-akan ingin memastikan jika seluruh ruang pada paru-parunya dipenuhi oleh aroma sang istri yang benar-benar sangat ia sukai itu. Dalila menghela napas saat mendapatkan pelukan erat Max tersebut. Dalila tidak mengerti mengapa Max bertingkah seperti ini.
“Jika terus seperti ini, bisa-bisa aku menjadi gila,” ucap Max mengeluh.
Dalila pun menimpali dengan berkata, “Jika kau terus memelukku seperti ini, bisa-bisa aku tidak bisa bernapas.”
Max yang mendengar hal itu pun sedikit merenggangkan pelukannya. Lalu menangkup wajah Dalila sebelum mencium istrinya itu dalam-dalam. Dalila sendiri tidak menolak ciuman tersebut. Ia menerimanya dengan santai, bahkan melingkarkan kedua tangannya. Memberikan izin dan akses pada Max untuk mencium dirinya lebih dalam dan lebih lama.
Namun, ternyata Max tidak berniat untuk mengakhirinya dengan sebuah ciuman saja. Max menggendong Dalila dan membawanya ke atas ranjang. Tentu saja Dalila berubah panik saat Max mulai berusaha untuk membuka pakaian yang saat ini tengah dikenakan oleh Dalila. Dalila menggeleng dengan tegas dan berkata, “Tidak boleh.”
Max yang mendengar hal itu tentu saja merasa sangat kesal. Namun ia mengekspresikan kekesalannya dengan cara yang menggemaskan. Ia memeluk Dalila dengan erat. Lalu mengerucutkan bibirnya sebelum memprotes, “Kenapa tidak boleh? Aku sudah berpuasa selama beberapa hari. Bukankah sudah wajar aku mendapatkan hal ini?”
“Tidak boleh di sini, Max. Kau tau bukan aku tidak bisa menahan diri? Aku selalu menimbulkan suara-suara aneh. Jangan macam-macam. Sekarang menjauh, dan kita istirahat dengan benar,” ucap Dalila berusaha untuk mendorong Max menjauh.
Namun, ternyata Max tidak mau mengalah begitu saja. Karena seketika Max menyerang Dalila dengan sentuhan penuh goda, yang tentu saja dilawan mati-matian oleh Dalila. Sayangnya, sama seperti Max yang merindukan untuk bersentuhan dengan Dalila, maka Dalila juga merasakan hal yang sama. Ia merindukan semua sentuhan yang memabukan dan membuatnya mendapatkan sebuah sensasi menyenangkan yang rasanya tidak akan pernah bisa ia dapatkan dari orang lain.
Max pun berhasil membuat Dalila menuruti keinginannya. Walaupun Dalila sendiri yang susah payah menahan diri untuk tidak mengerang sedikit pun, karena tidak ingin sampai siapa pun mendengarnya. Padahal, Max sendiri sudah memasang sebuah barrier pelindung yang membuat suara apa pun tidak akan terdengar ke luar ruangan. Namun, Dalila tidak ingin percaya dan melakukan hal yang bodoh dengan mengerang begitu leluasa, padahal hal itu bisa didengar oleh orang di luar.
Meskipun tidak bisa mendengar apa pun, tetapi Julion dan yang lainnya tahu apa yang tengah dilakukan oleh pasangan itu. Jika yang lain memilih untuk beristirahat, maka hal itu berbeda dengan Julion yang masih duduk di kursinya, yang ternyata menghadap tepat pada pintu kamar Dalila dan Max. Tatapan Julion dipenuhi oleh rasa benci yang begitu mendalam. Julion berniat untuk menenggak minuman keras yang sejak tadi ia nikmati. Namun, gelas di tangan Julion direbut begitu saja oleh Joe.
Joe pun duduk di seberang Julion, menghalangi tatapan Julion pada pintu kamar. Hal itu membuat Julion mengernyitkan keningnya dalam-dalam. “Sekarang apa lagi?” tanya Julion tampak begitu enggan untuk berbicara dengan adiknya itu.
Meskipun mereka berada dalam tim yang sama dan sudah melakukan perjalanan selama beberapa hari yang lalu, Julion dan Joe sama sekali belum saling menyapa. Ini adalah kali pertama bagi Juion dan Joe untuk saling menyapa. Joe tidak segera menjawab pertanyaan sang kakak, dan meminum minuman keras yang sebelumnya ia rebut dari sang kakak. Julion yang melihatnya, hanya memicingkan matanya. Julion tahu dengan betul, bahwa Joe sama sekali tidak senang dengan minuman beralkohol seperti itu.
“Aku hanya ingin menemani Kakak minum. Bukankan sekarang Kakak sudah mulai menyadari jika Kakak harusnya mengambil langkah mundur, melihat betapa dekatnya Max dan Dalila?” tanya Joe sembari menuangkan minuman pada gelasnya.
Mendengar hal itu Julion mendengkus. Ternyata adiknya memang benar-benar keras kepala. Membuat Julion sadar bahwa sebenarnya sang adik benar-benar memiliki sifat yang sangat keras kepala, sama seperti dirinya. Julion pun memilih untuk bersikap santai, dan menjawab, “Apa kau pikir aku akan mundur begitu saja? Kau seperti tidak mengerti dengan sifatku saja.”
“Aku rasa, Kakak harus mencoba untuk berhenti. Karena Max sendiri sudah sangat menyadari perasaan yang Kakak miliki. Jika Kakak terus mempertahankan perasaan ini, maka Kakak sendiri yang akan mendapatkan luka,” ucap Joe sembari menatap sang kakak yang hanya mendengkus dan menyesap minumannya.
“Aku sudah terbiasa dengan sebuah luka, Joe. Aku tidak akan berhenti sebelum aku memang tidak lagi memiliki kesempatan,” ucap Julion bersikukuh dengan apa yang sudah ia putuskan.
Joe yang mendengar perkataan kakaknya itu pun menggeleng. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak. “Apa Kakak pikir, saat ini Kakak masih memiliki kesempatan? Dalila dan Max adalah pasangan yang bahkan disatukan oleh takdir soulmate yang sudah punah ratusan tahun yang lalu. Semua orang bahkan mengakui betapa dekatnya hubungan yang keduanya miliki. Apa Kakak tidak melihat interaksi keduanya tadi, dan tidak bisa menebak apa yang tengah mereka lakukan di kamar saat ini?” tanya Joe tajam.
Julion mengernyitkan keningnya. Benar-benar tidak senang dengan apa yang dibicarakan oleh sang adik tersebut. Namun, ternyata Joe belum selesai dengan apa yang ia katakan. Joe pun menambahkan, “Kakak sama sekali tidak memiliki kesempatan. Mereka adalah satu, dan tidak bisa dipisahkan. Tidak ada celah yang bisa Kakak isi di sana.”
Kali ini, Julion tersenyum. Seakan-akan apa yang dikatakan oleh Joe memang patut untuk sedikit ia tertawakan. “Kau salah, Joe. Kesempatan selalu datang di waktu yang tepat. Aku akan menunggu kesempatan itu datang, dan akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin,” ucap Julion dengan penuh percaya diri.