“Kalau begitu, aku minta kecupan lagi,” ucap Max sembari mengerucutkan bibirnya. Memberikan isyarat jika dirinya benar-benar ingin mendapatkan kecupan lagi dari Dalila.
Namun Dalila memberikan tatapan jengkel pada suaminya itu. Tentu saja ia merasa jengkel mengingat jika saat ini rasanya sangat tidak cocok jika Max tiba-tiba meminta kecupan tambahan. Padahal terbilang mereka tengah membicarakan hal yang sangat serius. Pembicaraan dari hati ke hati, yang seharusnya terasa serius dan berbobot hingga akhir. Namun, Max malah dengan bertingkah seperti ini. Membuat Dalila jengkel setengah mati pada suaminya ini.
Dalila menampar pelan bibir Max yang berusaha untuk mendapatkan kecupan darinya. “Apakah kau tidak bisa tenang sedikit saja?” tanya Dalila benar-benar tidak bisa menahan diri untuk menunjukkan rasa kesalnya pada suaminya itu.
Tentu saja Max yang mendengar hal itu seketika mengubah ekspresinya. Tentu saja Dalila agak sedih karena Dalila tidak mau memberikan dirinya kecupan seperti apa yang ia inginkan. Jadi, Max pun berusaha untuk tetap tenang. Max berusaha untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Dalila baik-baik. Karena jelas Dalila ingin dirinya melakukan hal itu.
Max tanpa sadar mengernyitkan keningnya saat dirinya berpikir bahwa Dalila akan kembali memintanya untuk berbaikan dengan Julion. Seperti yang sudah Max katakan sebelumnya, Max sama sekali tidak senang meskipun hanya membayangkan jika dirinya perlu memaafkan Julion. Ia tidak ingin memaafkan Julion yang bahkan tidak merasa bersalah setelah semua yang sudah terjadi. Max merasa marah. Ia berpikir jika kedua orang tuanya mati sia-sia karena Julion.
Julion bahkan tidak terlihat bersalah setelah semua itu. Atau setidaknya berterima kasih atas pengorbanan keduanya. Tentu saja semua itu semakin membuat kebencian yang dimiliki oleh Max membesar dari waktu ke waktu. Semakin benci rasanya Max saat dirinya menyadari jika saat ini pun, Julion mulai menaruh perhatian dan ketertarikan pada Dalila. Julion jelas tertarik pada Dalila, dan ingin memilikinya. Julion seakan-akan ingin merebut semua hal yang sangat berhaga bagi Max, dan tentu saja hal tersebut membuat Max menaruh kebencian yang mendalam padanya.
Dalila yang melihat sorot mata Max yang mengeruh karena emosinya tidak bisa menahan diri untuk mengulurkan tangannya dan mengelus lembut pipi suaminya itu. “Aku tau, semuanya pasti terasa sangat sulit dan menyakitkan. Luka itu masih tetap ada dan terasa semakin menyakitkan dari waktu ke waktu,” ucap Dalila.
Mendengar hal itu tentu saja Max segera mengalihkan pandangannya dan menatap istrinya yang terlihat sangat cantik meskipun tanpa riasan sedikit pun. Dalila pun berkata, “Memaafkan pasti adalah hal yang terasa sangat menyulitkan. Sebab luka yang menganga itu masih belum sembuh dan masih membutuhkan waktu untuk diobati.”
Max terpaku pada sorot mata Dalila yang terlihat lembut. Max sadar, jika Dalila benar-benar memahaminya. Namun, Dalila tidak memaksa Max untuk memaafkan orang-orang yang sudah membuatnya terluka. Jelas, ketakutan Max terpatahkan begitu saja. Dalila benar-benar memahami Max, selayaknya pasangan belahan jiwa yang seharusnya. Tentu saja Max yang menyadari hal tersebut, mau tidak mau merasakan jika hatinya menghangat dibuatnya.
“Aku mengerti, walapun aku tidak bisa merasakan sakit yang sama seperti apa yang kau alami. Tapi maukah kau mendengar satu hal? Akan ada saatnya semua luka itu menemukan obatnya. Mungkin kau tidak tahu, tetapi obat dari semua luka itu hanyalah dua hal, Max,” ucap Dalila.
Tentu saja perkataan tersebut membuat Max secara alami merasa penasaran. Obat seperti apa yang saat ini tengah dibicarakan oleh Dalila. Namun, Max menahan diri untuk tidak menanyakan apa pun. Ia membiarkan Dalila untuk mengatakan semua yang ingin ia katakan. Dalila pun bertanya, “Apa kau penasaran?”
Max mengangguk cepat. Seakan-akan dirinya memang sangat penasaran dengan apa yang tengah dibicarakan oleh Dalila. Melihat sorot penasaran pada mata Max, membuat Dalila tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Tentu saja Dalila merasa lega karena kini Max tidak lagi terlihat marah atau bersedih. Hanya ada sorot yang dipenuhi oleh rasa penasaran dengan apa yang ia katakan, dan itu jelas membuat Max menggemaskan di matanya.
“Obatnya hanya dua, Max. Waktu dan kebahagiaan. Ketika kebahagiaan datang mengisi hari-harimu, jelas semua kebahagiaan itu akan menjadi obat yang paling kuat demi mengobati luka yang selama ini tertoret di dalam hatimu. Biarkan waktu bekerja untuk mengobatinya, Max,” ucap Dalila membuat Max menyadari satu hal.
Benar, Max sadar jika kini waktu sudah mulai bekerja untuk mengobati lukanya. Waktu sudah mempertemukan dirinya dengan Dalila. Sumber dari kebahagiaannya. Waktu dan kebahagiaan yang Dalila katakan sebagai obat dari lukanya, sudah mulai bekerja untuk menyembuhkan luka yang sebenarnya tiap hari menyiksanya dengan rasa sakit yang luar biasa. Entah sejak kapan, semua rasa sakit yang menyiksanya tidak lagi terasa dan mengganggu kesehariannya.
Itu artinya, kedua obat itu memang sudah bekerja sejak lama. Max tidak bisa menahan diri untuk tersenyum tipis. “Terima kasih, Dalila,” ucap Max.
“Terima kasih? Untuk apa?” tanya Dalila tidak mengerti untuk apa Max mengucapkan terima kasih untuk apa.
Max yang mendengar pertanyaan itu tentu saja merasa sangat geli. Dalila rupanya tidak sadar jika dirinya sudah membuat Max menyadari hal yang sangat penting. Hal yang membuat dirinya bisa melangkah untuk mulai meninggalkan bayang-bayang menyakitkan yang membuatnya terikat dengan masa lalu. Max pun berkata, “Terima kasih, karena sudah datang ke dalam hidupku, dan menjadi obat bagi luka yang berada dalam hatiku ini. Terima kasih sudah menjadi sumber dari kebahagiaanku, Dalila.”
Max pun mengecup bibir Dalila dengan lembut, membuat Dalila diperlakukan dengan sangat spesial dan sangat hati-hati. Dalila tersenyum dan berucap, “Kalau begitu, biar aku yang mengobati semua lukamu Max. Biarkan aku menjadi sumber kebahagiaan tanpa batas bagimu.”
Pada akhirnya keduanya pun tidur dengan posisi berpelukan. Saling memberikan kasih sayang dan perlindungan. Kembali, keduanya melangkah lebih jauh, agar menjadi pasangan yang semakin dekat daripada sebelumnya. Dalila dan Max, semakin memahami satu sama lain. Serta semakin menerima satu sama lain. Tanpa sadar, kini mereka sudah benar-benar sudah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.
***
“Apa aku harus membawa ini juga?” tanya Dalila menunjuk barang yang tergeletak di atas ranjangnya.
Dalila kini tengah berkemas keperluannya yang akan ia bawa selama perjalanan menjalankan misi sulit untuk melakukan pembasmian. Tentu saja Sia membantu Dalila dan merapikan semua keperluan sang nyonya besar. Sia saat ini melihat barang yang ditunjuk oleh Dalila. Barang tersebut tak lain adalah pembalut yang tentu saja dibutuhkan oleh para wanita setiap bulannya. Karena Dalila masih muda, tentu saja ia masih membutuhkan benda itu. Apalagi perjalanan ini entah akan berlangsung hingga kapan.
Jadi, Dalila rasa barang tersebut memang dibutuhkan olehnya. Namun, tetap saja, Dalila perlu saran dari Sia. Jelas Sia berpengalaman dalam berkemas seperti ini, dan rasanya ia bisa mengharapkan saran dari Sia tersebut. Sia yang mendengar pertanyaan Dalila pun mengangguk. Lalu Sia menjawab, “Nyonya bisa membawanya. Karena kita tidak tahu akan sampai kapan perjalanan ini berlangsung. Meskipun tidak selamanya Nyonya berada di pelosok, tetapi lebih baik kita berjaga untuk situasi terdesak nantinya.”
Dalila yang mendengar hal itu pun mengangguk. Ia pun merapikan beberapa buah pembalut dan memasukkannya ke dalam tasnya. Tentu saja Sia bergerak dengan terampil untuk melipat pakaian Dalila dan merapikannya di dalam tas milik Dalila. Semuanya sudah selesai, dan rasanya Dalila tidak perlu waktu lama lagi untuk selesai berkemas. Setelah berkemas, rencananya Dalila akan memilih untuk sedikit memanaskan ototnya dengan berlatih.
Karena perjalanan tersebut akan menuntut kemampuan fisik Dalila tetap dalam kondisi terbaik. Tentu saja Dalila perlu memastikan jika dirinya bisa mengikuti pergerakan tim dengn baik. Itu artinya Dalila jelas harus menjaga kondisi fisiknya dengan sempurna. Dalila memang tidak tahu seperti apa perjalanan ini akan berjalan. Namun, Dalila tahu satu hal berdasar pengalaman yang ia miliki bekerja dalam sebuah tim.
Dalila tidak boleh sampai membuat anggota tim lainnya merasa terbebani. Jika tidak bisa memberikan kontribusi, setidaknya Dalila tidak boleh menjadi beban di tim. Karena itulah, Dalila jelas harus menjaga kemampuan fisiknya agar tidak menurun. Ia juga harus melatih kemampuan sihirnya agar tidak memburuk. Itu adalah poin utamanya, mengingat jika dirinya kini menjadi pusat perhatian. Dengan fakta bahwa dialah anak campuran yang sudah diramalkan akan menentukan nasib dunia yang akan hancur oleh para kaum pembelot yang serakah.
“Kau benar-benar pintar berkemas,” ucap Dalila saat melihat hasil kerja Sia yang memang terlihat sangat rapi. Dalila tidak menyangka ternyata Sia benar-benar merapikannya seperti ini. Rasanya Dalila tidak akan bisa meniru dan merapikannya seperti ini lagi.
“Terima kasih, Nyonya,” jawab Sia tersenyum manis saat mendapatkan pujian dari sang nyonya besar.
Dalila sendiri kini mulai memilih barang-barang Max yang akan dibawa. Tentu saja ia harus memilih barang-barang pribadi yang diperlukan oleh Max. Semua ini untuk kondisi dan situasi yang sangat mendesak. Karena mereka jelas tidak selalu berada di kota yang jelas kebutuhan mereka bisa terpenuhi dengan membelinya di toko-toko. Pasti ada saatnya mereka berada di pelosok atau berada di tengah hutan selama perjalanan menjalankan misi pembersihan ini.
Saat Dalila masih sibuk memilih, Max kembali datang. Namun, untuk kali ini Max tidak menghentikan acara berkemas Dalila. Mengingat jika dirinya jelas harus berkemas semua barang yang mereka butuhkan. Sebenarnya tidak ada batasan seberapa banyak barang Dalila yang ingin dibawa dalam perjalanan ini. Sebab Max akan menyimpan semua barang itu di dalam penyimpanan sihirnya yang jelas tidak terlihat atau memberatkan selama perjalanan. Namun, lebih baik memilih barang yang benar-benar ditubuhkan dan sangat penting.
Max tidak peduli dengan barangnya yang saat ini tengah dipilah oleh Dalila, ia malah lebih tertarik pada barang milik Dalila yang masih dirapikan oleh Sia. Max mengernyitkan keningnya saat melihat semua barang Dalila. Ia pun bertanya, “Apa hanya ini barang milikmu?”
Dalila yang mendengar hal itu pun mengangguk. “Iya, itu semua barang yang perlu kubawa,” jawab Dalila yakin.
Sebab Sia membantunya untuk menentukan barang apa saja yang perlu dibawa dalam perjalanan panjang ini. Dalila rasa semua ini sudah lebih dari cukup. Namun, saat melihat ekspresi suaminya, Dalila sadar jika menurut suaminya, ini semua belum cukup. Dalila pun bertanya, “Apa menurutmu ada hal lain yang perlu kubawa?”
Max yang mendengarnya mengangguk. Ia pun tanpa banyak kata beranjak menuju ruang pakaian yang menyatu dengan ruang ganti dan ruang rias. Dalila dan Sia tidak mengikutinya, keduanya memutuskan untuk tetap berada di posisi mereka untuk melihat barang seperti apa yang ingin Max pastikan bahwa Dalila membawanya. Lalu sesaat kemudian Dalila menjerit keras saat Max ke luar dari ruang ganti dengan wajah menggodanya. “Max!” seru Dalila.
“Kenapa kau menjerit seperti itu? Aku ingin kau membawa barang ini turut serta,” ucap Max tanpa tahu malu memberikan beberapa set lingerie pada Sia yang memang tengah menata tas Dalila.
Tentu saja Dalila menggeleng tegas. “Tidak. Aku tidak akan membawa barang itu. Memangnya kau pikir kita akan pergi ke mana, hingga aku perlu membawa barang itu?!” tanya Dalila dengan nada tinggi.
“Jelas kita akan melakukan perjalanan untuk melaksanakan misi pembersihan kaum pembelot,” jawab Max.
Dalila yang geram pun berkata, “Kau ternyata masih sadar dengan tugas yang kita miliki. Apa kau pikir lingerie seperti ini cocok dengan kegiatan yang akan kita lakukan?”
Max mengangguk. “Toh aku akan membuatmu mengenakan lingerie hanya di hadapanku saja. Meskipun kita tengah menjalankan tugas, tetapi kita masih memerlukan waktu istirahat. Tentu saja kita harus memastikan jika kita memanfaatkan waktu istirahat kita sebaik mungkin,” ucap Max sembari mengedip penuh arti.
Dalila dan Sia yang mengerti apa yang dimaksudh oleh Max jelas memerah. Lalu Dalila pun berseru pada Sia, “Jangan pernah masukan barang itu ke dalam tasku!”
Max juga memberikan perintah yang membuat Sia bimbang harus memenuhi perintah yang mana. Karena Max berkata, “Simpan saja, tidak apa. Toh aku yang akan menyimpan ta situ.”
Dalila yang geram pun menyergap Max dan memukul punggung suaminya itu. Namun bukannya menghindar, Max malah memeluk istrinya itu dengan gemas dan mengecupinya berkali-kali hingga Dalila menjerit jengkel, “Max!”
Dalila pun menenangkan Max dan berkata jika luka Max memang sulit untuk disembuhkan tetapi secara perlahan pasti aka nada kebahagiaan yang membuat Max bangkit dari kesedihannya. Lalu Max berterima kasih dan mencium Dalila dengan lembut. Mereka pun tidur dengan berpelukan setelah berbincang banyak hal. Keesokan harinya, Max membantu Dalila untuk berkemas dan menunjukkan beberapa hal menarik berupa penyimpanan sihir yang dimiliki oleh Max. Lalu Max menggoda Dalila dengan memintanya membawa set pakaian dalam seksi atau lingerie. Tentu saja Dalila kesal dengan godaan ax tersebut dan meminta Max pergi. Namun Max berpesan pada Sia untuk memasukkan apa yang ia inginkan pada bawarang-barang yang akan dibawa oleh Dalila nantinya. Hal itu membuat Dalila mengamuk.