Setelah sesi memberikan arahan pada para anggota, perjalanan pun secara resmi dimulai. Tentu saja para tetua memberikan berkat terlebih dahulu, untuk melindungi para anggota dari pengaruh jahat yang dikeluarkan oleh kegelapan dan jelas sudah menempel pada para pembelot. Kini, mereka pun segera memasuki mobil mereka masing-masing, untuk menuju tempat pertama di mana mereka akan menjalankan tugas mereka untuk membersihkan jejak para pembelot. Tentu saja, Max mengemudikan mobilnya sendiri. Sama sekali tidak ingin waktunya dengan Dalila terganggu selama perjalanan tersebut.
Tentu saja hal tersebut membuat suasana hati Julion semakin memburuk. Sebab Max hingga akhir terus saja memprovokasinya. Dengan jelas menujukkan kedekatannya dengan Dalila yang membuat sesuatu yang terasa menyakitkan menggeliat di dalam hatinya. Jelas Julion merasakan dorongan untuk membuat keduanya terpisah. Sayangnya, Julion jelas harus menahan dirinya untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena jika dirinya bertindak mengikuti perasaannya, semuanya jelas akan menjadi kacau balau.
Julion pun duduk di kursi belakang mobil, berniat untuk menjauh dari percakapan yang bisa membuat suasana hatinya semakin memburuk. Ia memilih untuk memejamkan matanya, dan berniat untuk benar-benar tidur saja selama perjalanan menuju tempat yang mereka tuju. Namun, ternyata niat Julion tidak berjalan dengan lancar. Karena seseorang yang duduk di samping Julion saat ini, berniat untuk mengobrol dengan Julion. Tentu saja, Julion sama sekali tidak bisa mengabaikan orang itu begitu saja. Karena pada dasarnya sudah menjadi sifatnya untuk bersikap ramah pada orang-orang di sekitarnya.
“Aku benar-benar tidak menyangka jika kita bisa melakukan perjalanan seperti ini bersama,” ucap Elle yang memang duduk di samping Julion saat ini.
Julion yang semula sudah menutup matanya, kini kembali membuka matanya dan berkata, “Ya, aku juga tidak menyangka jika akan ada situasi membahayakan seperti ini hingga membuat kita semua harus melaksanakan perjalanan ini.”
Benar, Elle yang sempat menjadi lawan Dalila pada evaluasi, memang terlibat dalam perjalanan tersebut. Elle memang salah satu dari kaum vampire yang memiliki kemampuan terbaik. Jelas, ia terpilih oleh Max, saat Joe memberikan rekomendasi orang-orang yang memang memiliki kemampuan yang sangat baik dari kaum vampire. Jelas, Max sangat mempercayai rekomendasi yang diberikan oleh Joe.
Selama ini, Joe memang menghabiskan waktunya sepenuhnya untuk memimpin kaum vampire. Menggantikan posisi kakaknya. Sebab Julion memang menghabiskan seluruh waktunya di luar area perlindungan, setelah kejadian di mana kedua orang tua Max meninggal. Julion melakukan hal tersebut sesuai dengan apa yang disarankan oleh para tetua. Sebab Max terus saja mencecar Julion, dan jika dilanjutkan hal tersebut akan memancing kekacauan yang sangat mengerikan di antara para kaum. Alhasil, selama bertahun-tahun Julion menghabiskan waktunya di luar daerah perlindungan untuk memimpin para anggota khusus yang memang bertugas untuk memburu para pembelot yang sebelumnya masih belum terlalu berani membuat kekacauan seperti ini.
Elle yang mendengar perkataan Julion pun mengangguk. “Benar. Aku juga tidak menyangka jika para pembelot bisa melakukan hal seberani ini,” ucap Elle tampak tidak percaya dengan semua hal yang sudah dilakukan oleh para pembelot.
Julion yang mendengar hal itu pun menghela napas panjang. “Sama seperti kita yang melakukan banyak penelitian, dan mempelajari banyak hal baru, para pembelot juga pastinya melakukan hal yang sama. Jika mereka tidak melakukan hal tersebut, jelas mereka tidak akan bisa membuat kekacauan sebesar ini,” ucap Julion.
Elle tentu saja setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julion. Jika para pembelot tidak mempersiapkan hal ini sejak lama, mereka jelas tidak akan bisa membuat kekacauan di mana-mana seperti ini. Terlebih dengan membuat para kaum immortal yang bertugas untuk memburu mereka menjadi kekacauan yang luat biasa seperti ini. “Tapi kuharap jika semua kekacauan ini akan berhasil kita tangani,” ucap Elle mengatakan harapannya sembari menatap Julion yang masih menatap lurus ke arah jalanan.
Julion yang tidak menatap Elle, tentu saja tidak bisa melihat rona merah yang sedikit menghiasi pipi pucat Elle. Sebagai seorang vampire, memang sudah sewajarnya Elle memiliki kulit pucat seperti itu. Jadi, ketika dirinya memerah, hal tersebut akan sangat terlihat. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, jika Elle memang menyimpan perasaan yang mendalam pada Julion. Namun, semua orang memilih untuk tidak membicarakan hal itu. Elle juga belum memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya.
Elle merasa jika dirinya perlu untuk tumbuh semakin kuat dan memiliki pengaruh di kaumnya, agar dirinya tidak malu untuk menyatakan cinta pada sosok yang akan menjadi calon pemimpin di masa depan nantinya. Elle berusaha untuk mengendalikan ekspresinya karena tidak ingin sampai Julion mengetahui perasaannya sebelum waktunya tiba nantinya. Hal itu bertepatan dengan Julion yang menatap dirinya dan berkata, “Kuharap seperti itu. Tapi, sepertinya situasi akan lebih sulit daripada yang kita bayangkan.”
Elle yang mendengar hal itu pun mengulum senyum. “Aku rasa tidak akan terlalu sulit, selama kau berada di dalam tim ini. Karena pasti kau akan memberikan kontribusi dan bantuan yang sangat besar,” ucap Elle tampak memuji Julion dengan sepenuh hati.
Julion terkekeh pelan mendengar pujian penuh semangat yang dikatakan oleh Elle terhadapnya. Tentu saja, siapa di sini yang merasa tidak senang ketika mendapatkan sebuah pujian. Julion juga merasa senang. Setidaknya pembicaraan ini membuat suasana hati Julion tidak terlalu buruk. Elle bisa membuat Julion merasa lebih nyaman daripada sebelumnya. Dan suasana di dalam mobil tersebut terasa lebih nyaman daripada sebelumnya.
Joe sendiri berada di dalam mobil yang sama. Adik dari Julion tersebut terlihat tengah memikirkan hal yang sangat serius. Hingga keningnya bahkan terlihat mengernyit sangat dalam. Ia memilih untuk tetap diam di sepanjang perjalanan tersebut. Membuat orang-orang yang menyadari suasana hati Joe, memilih untuk bersikap lebih tenang daripada sebelumnya. Karena jelas, Joe lebih terkenal lebih menakutkan daripada Julion. Sebab Joe akan terlihat lebih menyeramkan daripada biasanya, ketika dirinya tengah dalam kondisi marah besar. Saat ini suasana hati Joe jelas tidak terlalu baik. Karena itulah, berhati-hati dalam bertindak adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.
Jika di dalam mobil para kaum vampire, terasa sangat canggung dengan suasana tegang yang mengudara, maka di mobil yang lain, adala situasi yang berbeda. Ada yang terlihat senang dengan perbincangan mengenai pengalaman baru mereka. Ada yang terlihat sangat bersemangat untuk memulai perjalanan, dan ada pula yang menikmati kebersamaan sebagai pasangan kekasih. Jelas, untuk yang terakhir, hanya berlaku untuk Max dan Dalila yang berdua di dalam mobil yang dikendarai oleh Max secara khusus.
Max melirik pada Dalila yang kini terlihat menikmati udara segar setelah sekian lama. Kini mereka memang sudah ke luar dari area perlindungan, dan tentu saja ada kesan berbeda yang dirasakan oleh Dalila saat menghirup udara saat mobil masih melaju dengan kencangnya. Max pun bertanya, “Apa sekarang kau sudah tidak merasa gugup lagi?”
Dalila yang mendengar pertanyaan tersebut menarik diri dari pemandangan indah yang ia lihat dan melihat suaminya. Dalila pun tersenyum tipis dan menjawab, “Aku sudah cukup tenang. Untuk sekarang, kenyataan bahwa aku ke luar dari area perlindungan dan kembali ke dunia manusia membuatnya merasa sedikit senang.”
Max yang mendengar hal itu, jelas mengangguk merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Setidaknya, kini Dalila tidak merasa gugup lagi dan bisa menikmati suasana di sana. Mereka semua memang menggunakan mobil untuk mengakses tempat pertama untuk menghemat kekuatan yang mereka miliki. Selain itu, saat masih bisa mengakses menggunakan kendaraan, jelas Max akan memilih untuk menggunakan kendaraan. Sebab mereka harus bisa menggunakan waktu dan kekuatan mereka sebaik mungkin. Karena kembali lagi, mereka memang belum tahu akan sepanjang apa perjalanan yang akan mereka lalui ini.
“Syukurlah jika kau memang sudah merasa tenang. Kita juga memang harus menikmati perjalanan ini, agar tidak terlalu terasa berat. Anggap saja kita mendapatkan waktu bulan madu selama menjalankan tugas,” ucap Max berseloroh.
Dalila yang mendengarnya tentu saja terkekeh. “Bagaimana bisa kau memintaku untuk menganggap perjalanan kita ini sebagai bulan madu? Rasanya aku tidak pernah bisa membayangkan jika misi berbahaya ini diartikan sebagai acara bulan madu yang menyenangkan,” ucap Dalila.
Max yang mendengar hal itu pun menyeringai. Ia kembali mengecup punggung tangan Dalila yang masih ia genggam. “Kenapa kau berpikir seperti itu? Bukankah jika kita selalu bersama, suasananya akan terasa berbeda? Jika ada aku, kau pasti akan selalu merasa senang,” ucap Max membuat Dalila mencubit tangan Max.
“Jangan mengatakan omong kosong seperti itu. Fokus saja dengan kemudi,” ucap Dalila meminta Max untuk fokus dengan kemudinya.
Max pun menurut dengan apa yang dikatakan oleh Dalila. Ia pun fokus dengan kemudinya, tetapi tetap dengan tangan yang masih menggenggam tangan sang istri dengan erat. Tidak sampai tiga jam, rombongan pun sampai di sebuah daerah yang jelas tidak bisa sembarangan disambangi oleh orang-orang yang tidak memiliki izin. Karena area tersebut memang dikhususkan oleh pemerintahan setempat untuk digunakan sebagai area tertutup di mana mereka bisa melakukan penelitian dan beberapa hal yang berkaitan erat dengan rahasia negara.
Contohnya saja dalam penanganan wabah yang disebabkan oleh para kaum pembelot yang menebar bibit wabah. Pemerintah tentu saja tidak menyebut jika wabah tersebut sengaja disebar oleh kaum immortal yang berniat untuk menguasai dunia. Karena jelas hal tersebut akan membuat kekacauan besar di dalam negara. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk menyebut jika masalah tersebut adalah disebabkan oleh virus yang berevolusi. Lalu kini pemerintah tengah berupaya untuk menemukan obat, selagi melakukan isolasi pada daerah yang sudah terkontaminasi wabah tersebut.
Namun, pada kenyataannya, mereka bahkan tidak bisa memulai penelitian pada wabah tersebut. Sebab mereka tidak bisa mengenali bibit dari wabah yang tengah menyebar tersebut. Alhasil, mereka sepenuhnya harus menunggu kedatangan dan bantuan dari para utusan kaum immortal yang sudah membuat perjanjian tertulis sejak ratusan tahun yang lalu. Max menghela napas panjang saat dirinya selesai memarkirkan mobil. Max pun berkata, “Ayo turun.”
Kedatangan rombongan Max tentu saja disambut dengan sangat baik oleh orang-orang yang bertugas di daerah khusus tersebut. “Selamat datang. Silakan masuk, lebih baik kalian beristirahat terlebih dahulu, sebelum kita memulai tugas yang harus segera kita selesaikan,” ucap seseorang yang memimpin di sana.
Tentu saja Max mengangguk. Max dan rombongan pun memasuki sebuah gedung khusus yang memang disediakan oleh pemerintah setempat untuk pertemuan pertama mereka. Max dan rombongan akan mendapatkan waktu istirahat selama setengah jam dan makan siang. Setelah itu, mereka akan melakukan pertemuan pertama. Dengan Max yang akan memimpin rapat. Tentu saja mereka pihak kaum immortal dan kaum manusia akan saling berbagi informasi yang mereka miliki.
Saat berada dalam perjalanan menuju kamar yang disediakan khusus untuk Max dan Dalila, Max pun berbisik pada istrinya, “Kira-kira kita habiskan waktu istirahat kita dengan cara apa, Dalila?”
Dalila yang mendengar hal itu tentu saja mengernyitkan keningnya, dan memilih untuk mengabaikan pertanyaan suaimya. Karena jelas Dalila sadar jika saat ini Max tengah menggoda dirinya. Jelas jika dirinya memberikan respons padanya, Max akan semakin menjadi daripada ini. Namun, ternyata Max juga tidak ingin berhenti sampai di sana saja. Sebab setelah itu Max kembali berbisik tepat pada telinga Dalila. “Sepertinya bersenang-senang di dalam kamar terdengar menarik. Kita lakukan gaya cepat saja. Tiga puluh menit akan cukup bagi kita untuk bersenang-senang,” bisik Max lalu meniup daun telinga Dalila.
Tiupan tersebut jelas membuat Dalila berjengit terkejut, dan seketika mencubit pinggang suaminya itu. Sebab reaksi yang ditunjukkan oleh Dalila segera membuat semua orang mengarahkan pandangannya terhadap Dalila. Tentu saja Dalila sadar jika mereka semua kemungkinan mendengar apa yang dibisikkan oleh Max. Namun, Dalila tidak tahu jika Max menggunakan sihir yang membuat apa yang ia katakan hanya bisa didengar oleh Dalila seorang. Pipi Dalila yang memerah membuat dirinya terlihat semakin menawan saja.
Max pun sama sekali tidak bisa menahan diri untuk memeluk pinggang Dalila, memastikan jika istrinya itu tetap berada di sisinya. Kedekatan yang membuat semua orang merasa iri. Dan hanya satu orang yang menatap interaksi keduanya dengan penuh kebencian. Siapa lagi jika bukan Julion. Ia mengutuk Max dengan tatapannya. Karena jelas, ia membenci Max yang dengan sengaja menunjukkan kedekatannya dengan Dalila tepat di hadapannya saat ini.