Dalila menepuk-nepuk pipinya yang memerah. Sungguh, Dalila merasa sangat malu dan mempertanyakan kewarasannya. Mengapa dirinya bisa melakukan hal yang begitu gila. Tadi malam, ia berciuman dengan Max. Benar-benar berciuman! Di mana Dalila sendiri membalas ciuman tersebut dengan senang hati.
Memang benar, sebelumnya Dalila dan Max sudah melakukan hal yang lebih jauh daripada sebuah ciuman. Mereka sudah melakukan hubungan suami istri sebanyak dua kali. Namun, Dalila tidak pernah secara terbuka menerimanya. Sebelumnya, Max selalu membuat Dalila terpaksa takluk di bawah gairahnya. Namun, kali ini berbeda. Max tidak memaksa, Dalila sendiri yang membuka diri.
“Astaga, itu benar-benar memalukan,” gumam Dalila sembari menatap pantulan dirinya pada cermin.
“Nyonya, apa ada masalah? Apa perlu saya bantu?”
Dalila segera bergegas merapikan pakaian yang ia kenakan untuk berlatih dengan Max. Sia sudah bertanya seperti itu, berarti Dalila memang sudah menghabiskan waktu terlalu banyak di dalam kamar madi. Karena itulah, Dalila harus bergegas. Apalagi mengingat jika Max pasti juga sudah menunggunya di area berlatih. Setelah memastikan jika tidak ada yang kurang, Dalila pun ke luar dari walk in closet dan disambut dengan Sia yang segera memeriksa kondisinya.
Rasanya, kini Dalila sama sekali tidak terkejut dengan sikap Sia ini. Dalila sudah lebih dari terbiasa dengan sikap over protektif orang-orang yang berada di sekitarnya. Entah memang karena Dalila adalah istri dari pemimpin mereka, atau memang karena Dalila terhitung adalah orang yang paling lemah di sana. Karena Dalila jelas belum memiliki kemampuan untuk menggunakan kekuatan yang ia miliki.
“Kalau sudah siap, Nyonya harus bergegas. Tuan sudah menunggu di area berlatih,” ucap Sia.
“Iya, aku pergi dulu,” ucap Dalila beranjak dari hadapan Sia dan pelayan yang lainnya.
Sia dan yang lainnya tentu saja memberikan hormat sembari berkata, “Hati-hati saat berlatih, Nyonya. Semoga hari Anda dan Tuan berjalan dengan baik.”
“Kalian juga,” jawab Dalila sembari mempercepat langkahnya.
Dalila yang memang sudah memiliki sikap disiplin sejak kecil, ditambah dulu dirinya adalah atlet dan seorang pengawal elit, tentu saja tidak ingin sampai dirinya terlambat. Dalila pun sampai di area berlatih, dan terkejut karena melihat para omega yang berstatus sebagai prajurit dan bawahan Max, kini tengah bertelanjang d**a. Mereka semua tengah melakukan latihan fisik berupa berlari mengelilingi area berlatih, persis seperti apa yang dilakukan oleh Dalila biasanya.
Sebenarnya, Dalila sudah sangat terbiasa melihat para pria bertelanjang d**a, mengingat jika sebelumnya pun pekerjaan Dalila lekat dengan kegiatan fisik. Di mana sebagian besar rekan kerjanya juga seorang pria. Mereka tidak hanya sekali atau dua kali membuka pakaian mereka di hadapan Dalila, ketika berkeringat banyak. Namun, Dalila belum pernah melihat begitu banyak pria yang tidak mengenakan pakaian atas mereka, dan memiliki bentuk tubuh sebaik ini. Tanpa sadar, Dalila pun mulai menikmati pemandangan indah yang disajikan secara gratis di hadapannya itu.
Dalila pun memutuskan untuk tetap berada di bawah pohon, dan menonton dalam diam. Sebelumnya, Dalila pasti akan merasa jika pemandangan ini adalah pemandangan yang biasa saja. Namun, sepertinya karena terlalu lama sudah tidak berada di tengah-tengah rekan kerjanya dan berinteraksi dengan sikap konyol mereka, Dalila mulai merindukan masa-masa itu. Lalu, secara tiba-tiba Dalila pun merasa jika pemandangan seperti ini terasa sangat indah. Setidaknya, Dalila bisa mencuci matanya.
Namun, tak lama Dalila merasakan seseorang berdiri di belakangnya dan menutupi pandangannya. “Aish,” maki Dalila kesal karena kegiatan menyenangkannya terganggu.
Tentu saja Dalila berusaha untuk melepaskan diri. Semula Dalila tidak tahu siapa yang sudah mengganggunya itu, tetapi kini Dalila sudah mencium aroma yang rasanya tiap hari semakin melekat pada dirinya itu. Benar, itu adalah aroma yang dimiliki oleh Max. Karena mereka tidur di ranjang yang sama, Dalila sudah sangat hafal dengan aroma itu. Aroma yang juga semakin melekat di hidung dan tubuh Dalila.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan Max?” tanya Dalila mulai merasa jengkel.
Dalila berpikir, apa Max tidak bisa sehari saja tidak membuatnya merasa kesal? Padahal, rasanya baru tadi malam mereka berbaikan, dan berjanji untuk saling memahami. Namun, kini Max sudah kembali membuat ulah. Dalila pada akhirnya memilih diam, karena tidak ada gunanya berusaha untuk melepaskan diri. Karena jika Max belum berniat melepaskannya, maka Dalila tidak akan mungkin bisa lepas.
Namun, tak lama Max melempaskan telapak tangannya yang menutupi mata Dalila. Membuat Dalila kembali antusias, tetapi begitu Dalila membuka matanya. Ia tidak melihat satu pun prajurit yang berlatih. Seakan-akan mereka raib begitu saja dalam bebera detik. Tentu saja Dalila kecewa menyadari fakta tersebut. Kekecewaannya terlihat begitu jelas di wajah cantiknya. “Yah,” keluh Dalila jelas-jelas mengeluhkan apa yang terjadi.
Mendengar hal itu, Max pun merasakan pelipisnya berkedut. “Yah? Yah? Apa kau sekarang tengah kecewa hanya karena mereka sudah berhenti berlatih?” tanya Max tidak percaya.
Dalila yang mendengarnya pun mengangguk. “Ya. Aku tidak bisa menikmati pemandangan indah itu lebih lama. Siapa pun pasti akan merasa kecewa,” keluh Dalila membuat ekspresi Max semakin gelap saja.
Namun, sepertinya Dalila masih belum menyadari hal itu. Ia masih saja menggerutu, hingga Max yang tidak sabar pun mengulurkan tangannya dan menarik ikatan rambut Dalila. Membuat helaian rambut Dalila yang sebelumnya diikat rapi menjadi satu, kini tergerai begitu saja. Jatuh dan bergoyang dengan lembutnya bersama angin yang berembus pelan. “Hei,” protes Dalila.
Hanya saja, Max tidak mempedulikan keluhan Dalila itu. Ia meraih helaian rambut Dalila dan menciumnya. Hal yang sungguh mengejutkan bagi Dalila. Membuat Dalila tanpa sadar mundur dan membuat kepalanya membentur batang pohon yang memang menjadi tempat di mana dirinya berteduh dari sinar matahari. Max menatap Dalila dengan netra keemasan yang rasanya selalu terlihat memukau.
“Dalila, apa kau tidak sadar?” tanya Max membuat Dalila berdeham, mencari suaranya yang entah menghilang ke mana.
Sungguh, Dalila tidak mengerti mengapa dirinya bisa merasa segugup ini. Dalila merasa jika dirinya sangat konyol. Seakan-akan dirinya adalah seorang remaja yang tengah merasa gugup di hadapan cinta pertamanya. Dalila yang sudha menemukan suaranya segera bertanya, “A, Apa? Sadar mengenai apa yang kau maksud?”
Max kembali mendekat, membuat Dalila semakin terpojok. Kini, Max dengan kuasa dan pesonanya mengurung Dalila di antar tubuh kekarnya dan batang pohon di belakang punggung Dalila. Situasi dan posisi yang jelas akan membuat siapa pun yang melihatnya berpikiran macam-macam. Jangankan orang lain, saat ini saja Dalila sudah berpikiran macam-macam. Ia pun segera menoleh ke sana ke mari. Seakan-akan mencoba untuk mencari celah melarikan diri dari suaminya itu.
“Kau sibuk mengagumi tubuh pria lain, saat kau sendiri memiliki suami yang memiliki tubuh sempurna dan menjadi pujaan ratusan wanita di luar sana. Jadi, jika bukan tidak sadar, harus seperti apa aku menyebut kondisimu saat ini? Ah, apa kusebut saja sebagai bodoh?” tanya Max dengan nada dingin, tetapi dari netra keemasannya, jelas ada binar penuh goda yang samar-samar.
Dalila yang mendengar hal itu mengernyitkan keningnya dalam-dalam. “Apa kau bilang? Bodoh?” tanya Dalila dengan nada tidak senang yang begitu jelas.
“Ya. Jika kau tidak bodoh, aku yakin saat ini kau masih mengingat malam-malam yang pernah kita lewati bersama. Memang tidak sering, tetapi aku rasa, dua kesempatan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu mengingat betapa indahnya tubuh suamimu. Seharusnya, itu juga sudah cukup membuatmu tidak akan merasa tertarik pada pria lain yang jelas-jelas berada di bawah level suamimu ini,” ucap Max berulang kali menekankan kata suami dari perkataannya.
Lalu, tanpa bisa ditahan ternyata kenangan mengenai malam-malam panas yang sebenarnya sudah dilupakan oleh Dalila, kembali teringat dan memenuhi kepalanya. Dalam waktu singkat, pipi Dalila pun memerah dengan cantiknya. Membuat Max yang melihatnya tidak bisa berhenti di sana. Ia tergoda untuk melihat seberapa merah wajah Dalila nantinya.
Max pun munduk dan berbisik tepat di dekat telinga Dalila, “Sepertinya kau tidak mengingat dengan jelas bagaimana bentuk tubuh suamimu ini. Wah, aku harus bagaimana? Apa mungkin, lebih baik kita sekarang kembali ke kamar? Aku akan menunjukan tubuhku hingga kau bisa mengingatnya dengan sedetail mungkin.”
Dalila sadar jika Max benar-benar tengah menggodanya. Dengan sekuat tenaga Dalila berusaha untuk mendorong Max menjauh darinya, dan berkata, “Menjauh dariku, dasar m***m!”
Max pun mengalah dan menjauh dari istrinya. Tidak sepenuhnya menjauh. Ia hanya memberikan sedikit ruang di antara tubuh mereka. Lalu Max berkata, “Tidak salah bersikap m***m pada istriku sendiri. Lagi pula, tindakanku ini tidak m***m. Hal wajar di antara suami istri untuk melemparkan godaan dan candaan seperti itu.”
“Candaan itu harus lucu. Tapi candaanmu ini sama sekali tidak lucu. Malah terasa sangat menyebalkan bagiku,” ucap Dalila.
“Memang. Ini bukan candaan yang lucu, tetapi candaan yang membuatku terhibur. Bagaimana? Apa kau tertarik dengan penawaranku? Kita bisa kembali ke kamar, dan aku akan menunjukan tubuhku saat ini juga,” ucap Max lagi-lagi melemparkan perkataan yang membuat Dalila merasa sangat malu. Padahal, bukan Dalila yang mengatakan hal-hal yang memalukan seperti itu.
“Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu dengan ekpresi datarmu itu. Karena itu menjadi lebih menyebalkan,” ucap Dalila.
Max menghela napas. Karena reaksi Dalila masih saja seperti itu. Rasanya, Max benar-benar frustasi. Harus seperti apa dirinya bersikap di hadapan istrinya ini. Max pun kembali meraih helaian rambut cokelat Dalila dan berkata, “Kau melewatkan poin pentingnya, Dalila.”
Dalila terdiam. Seakan-akan tersihir dengan sikap Max yang memang berbeda daripada biasanya. Melihat jika Dalila membiarkannya untuk melanjutkan perkataannya, maka Max pun berkata, “Aku memintamu untuk tidak meletakkan pandanganmu pada pria lain. Karena itu benar-benar tidak menyenangkan bagiku. Jika kau ingin, aku bisa seharian menunjukan tubuhku padamu. Asalkan kau tidak mengalihkan pandanganmu ke arah lain. Sebagaimana yang aku lakukan terhadapmu. Karena bagiku, hanya kau yang berhak untuk menjadi pusat dari perhatianku.”
Untuk kesekian kalinya, Dalila dibuat malu oleh tingkah suaminya ini. “He, Hentikan omong kosongmu ini, Max. Kau membuatku merinding dengan perkataan konyomu itu,” ucap Dalila.
Max menyeringai tipis. “Aku tidak tau, jika seseorang yang merinding karena perkataan konyol, bisa memerah seperti ini,” ucap Max sembari menyentuh dan mengusap pipi Dalila yang memang memerah dengan cantiknya.
“Kau benar-benar! Menjauh dariku! Lalu, cepatlah mulai latihannya, bukankah kau memintaku untuk fokus pada latihan?” tanya Dalila sembari berniat untuk mengikat rambutnya lagi.
Namun, Max mengambil alih hal yang akan dilakukan oleh Dalila tersebut. “Kali ini apa lagi yang akan kau lakukan?” tanya Dalila mulai merasa lelah dengan tingkah Max yang benar-benar tidak terduga ini.
“Apalagi jika bukan membantu istriku untuk mengikat rambutnya? Bukankah ini hal wajar dilakukan oleh seorang suami?” tanya Max balik sembari mengikat rambut Dalila dengan terampil.
Dalila pun bertanya, “Apa kau salah minum obat? Kenapa kau bertingkah sangat aneh hari ini?”
Max menghela napas untuk ke sekian kalinya. Setelah berhasil mengikat rambut Dalila dengan benar, Max pun menunduk dan mencium leher Dalila yang terpampang dengan bebas. Tentu saja kecupan tersebut membuat Dalila berjengit terkejut. Dalila menoleh dengan tatapan tajam dan menyentuh bekas kecupan Max. “Kau!” Dalila benar-benar kehabisan kata untuk memaki suaminya itu.
“Kecupan itu untuk memberimu semangat. Bukankah wajar bagi seorang suami memberikan semangat untuk istrinya? Sekarang, mulailah berlatih. Selamat berlatih, istriku,” ucap Max dengan sebuah senyuman tipis yang memukau.
Dalila pun tidak bisa menahan diri untuk melemparkan makian, “Dasar gila!”