Firasat 1

1972 Kata
Dalila menatap makanan di atas piringnya dengan tidak berselera. Padahal itu jelas-jelas makanan yang hanya disajikan di restoran bintang lima. Makanan mewah yang dibuat oleh tangan-tangan penuh keahlian seorang koki yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun. Selain rasanya yang terjamin lezat, penampilannya juga terlihat sangat menggiurkan. Namun, sayangnya kali ini Dalila seakan-akan tidak memiliki selera sedikit pun untu menyantap makanan yang disajikan tersebut. Sia yang mengamati Dalila, tentu saja menyadari hal itu pun bertanya, “Nyonya, apa saya perlu mengganti menunya dengan menu yang lain?” “Tidak perlu,” ucap Dalila sembari menggeleng. Ia pun memulai acara sarapan menjelang makan siangnya sembari melirik pada kursi yang biasanya ditempati oleh Max. Sejak pulang berkencan, mereka memang belum bertemu lagi. Entah memang Max menghindarinya, atau Max tidak memiliki waktu untuk menemuinya. Dalila menatap kursi Max dalam diam. Sebenarnya, Dalila tidak merasa keberatan makan sendiri, atau  tidak bertemu dengan Max. Hanya saja, sebelumnya Dalila sudah terbiasa makan bersama dengan Max. Ketika kini Max tidak ada, Dalila merasa jika da yang berubah. Padahal, sebelumnya Dalila sudah terbiasa makan sendiri sepeninggal ayahnya. Ia jauh lebih lama makan sendiri, daripada makan bersama dengan Max. Namun, entah mengapa bisa lebih membekas seperti ini padanya. Dalila merasa sangat aneh dan gelisah dengan situasi yang terasa tidak nyaman ini. Menyadari jika sang nyonya mungkin saja tengah merasa gelisah, Sia pun berkata, “Tuan dan Dante memang tidak berada di rumah. Keduanya pergi pagi-pagi sekali. Tapi Nyonya tidak perlu cemas. Kemungkinan besar, Tuan akan pulang dan makan malam bersama Nyonya nanti malam.” Mendenga hal itu, Dalila pun tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Mereka pergi ke mana?” Sia pun menjawab, “Mereka pergi untuk menghadiri rapat oleh pemimpin klan, Nyonya.” “Rapat pemimpin klan? Apa mungkin ada masalah yang tengah terjadi?” tanya Dalila. Entah mengapa dirinya memiliki firasat yang aneh. Sia yang mendenga rpertanyaan itu pun terdiam. Ia sepertinya mempertimbangkan, apakah dirinya memang harus menjawab pertanyaan tersebut atau tidak. Pada akhirnya, Sia pun menjawab, “Saya tidak mengetahui detail dari apa yang terjadi. Namun, yang saya dengar, saat ini memang tengah ada masalah yang berkaitan dengan kekacauan yang diperbuat oleh kaum pembelot.” Dalila yang mendengar hal itu terkejut. “Kaum Pembelot?” tanya Dalila. Merasa jika pembicaraan ini mulai menarik. Dalila tidak mungkin membiarkan pembicaraan ini berlalu begitu saja. Ini kesempatan bagi Dalila untuk mendapatkan informasi yang memang ia inginkan. Kesempatan yang perlu dimanfaatkan sebaik mungkin. “Kekacauan seperti apa yang mereka lakukan?” tanya Dalila lagi. “Menurut kabar yang saya dengar, ada beberapa penyerangan yang terjadi di dunia manusia. Sepertinya, skala kekacauan tersebut cukup besar. Karena beberapa pasukan bantuan sudah dikirim, dan penjagaan perbatasan diperketat. Tanda jika memang situasi saat ini tengah benar-benar genting. Namun, saya tidak mengetahuinya lebih lanjut. Jika Nyonya ingin mengetahui detailnya, mungkin Nyonya bisa menanyakannya pada Tuan,” ucap Sia menjelaskan. Jika memang situasi segmenting itu, maka wajar saja Max sampai tidak memiliki waktu untuk menemuinya. Atau lebih tepatnya, Max memiliki alasan lebih banyak alasan untuk tidak menemuinya. Dalila menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk fokus. Ia seharusnya tidak memikirkan hal tersebut. Dalila pun bertanya, “Apa dia akan pulang nanti malam?” “Saya rasa, iya. Tuan biasanya akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang. Namun, karena kali ini ada Nyonya, saya yakin jika Tuan akan pulang tepat waktu, sesibuk apa pun dirinya,” jawab Sia membuat kening Dalila mengernyit dalam. Dalila rasa, dirinya tidak berada dalam situasi seperti itu dengan Max. Rasanya dirinya sama sekali tidak memiliki nilai yang sangat spesial seperti yang dipikirkan oleh Sia dan orang-orang. Kini, Dalila dan Max saja tengah berada dalam situasi yang canggung setelah perdebatan mereka. Dalila pun menghela napas dan bertanya, “Entahlah. Kalau begitu hari ini aku libur latihan. Em, aku ingin membaca buku. Apa aku bisa mendapatkannya?” “Tentu saja, Nyonya. Setelah Nyonya menghabiskan sarapan Nyonya, saya akan mengantarkan Anda ke ruang baca yang menyatu dengan perpustakaan. Ada banyak buku yang bisa Nyonya pilih dan baca di sana untuk mengisi waktu luang Nyonya,” ucap Sia menekankan bahwa Dalila harus menghabiskan makanannya. Dalila merasa jika dirinya saat ini tengah diperlakukan seperti anak kecil oleh Sia. Namun, pada akhirnya Dalila pun memilih untuk menghabiskan makanannya. Toh, ia tidak bisa melawan Sia. Meskipun dirinya terbilang sebagai nyonya di sana, tetapi Sia memegang kuasa untuk mengatur Dalila agar mematuhi peraturan yang memang sudah ditetapkan oleh Max. Salah satunya adalah harus memastikan jika Dalila menghabiskan makanannya sebelum melakukan aktivitas lain. Tentu saja Sia harus memastikan bahwa hal itu terjadi. Mengingat ini juga berkaitan dengan masalah kesehatan sang nyonya besar. Sia harus memastikan jika tubuh Dalila sehat dan kuat untuk mengandung seorang calon penerus. Mengandung bukanlah hal yang mudah, karena itulah Sia harus memastikan bahwa tubuh Dalila sudah siap untuk mengandung. Setelah Dalila menyelesaikan makanannya, Sia pun mengarahkan Dalila menuju ruang baca yang sebelumnya sudah ia bicarakan. Begitu tiba di sana, Dalila dibuat takjub dengan rak-rak buku yang menjulang dan ribuan buku yang ada di sana. Sepertinya, Dalila bisa menemukan apa pun yang ia inginkan jika mencarinya dengan teliti. Saat Dalila mulai memilih buku yang akan i abaca, Sia pun bertanya, “Apa Nyonya membutuhkan teh untuk menikmati acara membaca buku?” “Ya, tapi aku ingin teh dingin, alih-alih the panas,” jawab Dalila menatap Sia sebelum kembali sibuk memilih buku-buku yang kemungkinan akan menyenangkan untuk ia baca. “Baik, Nyonya,” jawab Sia lalu beranjak untuk melaksanakan tugasnya. Sia tidak merasa cemas meninggalkan Dalila sendiri, karena ini adalah bangunan utama. Di mana pusat dari klan manusia serigala yang memiliki penjagaan berlapis. Jelas Dalila akan aman di dalam sana walaupun harus ditinggal sendirian. Begitu ditinggal sendirian, Dalila pun memilih beberapa buku yang menarik perhatiannya. Buku-buku itu tak lain adalah buku yang berkaitan dengan sejarah kaum serigala dan kaum vampire. Jujur saja, Dalila merasa penasaran mengenai hubungan Max dan Julion. Hal apa yang terjadi, hingga keduanya memiliki hubungan yang buruk seperti itu. Padahal, hubungan Max dengan pemimpin klan vampire yang menjadi tetua, tidak terlihat buruk, walaupun tidak terlihat akrab pula. Dalila pun memulainya dengan membuka buku tentang kau serigala. Penjelasan umum, dan khusus mengenai kaum serigala menyambut Dalila. Biasanya Dalila akan cepat merasa bosan jika membaca buku seperti ini. Namun, entah mengapa kali ini berbeda. Dalila jelas-jelas terlarut dan tenggelam dalam pembahasan buku tersebut. Hingga, Dalila pun tiba ke halamannya yang menunjukan silsilah keluarga dari pemimpin kaum serigala yang disebut sebagai Alpha dan Luna. Di sana, Dalila melihat silsilah keluarga Max dan terkejut karena ternyata nenek moyang dari Max ternyata memiliki garis keturunan darah biru. “Selain kaya, ternyata suamiku juga seorang bangsawan?” tanya Dalila pada dirinya sendiri. Namun, ternyata Sia yang sudah kembali menyahut, “Tuan Max memang memiliki kekerabatan dengan keluarga bangsawan, Nyonya. Jadi, bisa dikatakan jika Tuan Max sendiri memanglah seorang bangsawan. Secara garis besar, keturunan Alpha memanglah memiliki garis keturunan bangsawan. Mengingat kasta seorang Alpha adalah kasta yang terbaik di antara kami semua kaum manusia serigala.” Dalila pun mengamati Sia yang mulai mengatur minuman teh dan camilannya di atas meja yang tengah ditempati oleh Dalila. “Lalu, apa kau tau alasan mengenai buruknya hubungan Julion dan Max?” tanya Dalila membuat gerakan Sia terhenti. Terlihat dengan jelas bahwa Sia terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dalila tersebut. Namun, Sia bisa mengendalikan dirinya lalu berkata, “Secara turun temurun, kaum seriga dan kaum vampire memang tidak memiliki hubungan yang baik. Itu adalah hal umum dan menjadi rahasia yang sebenarnya tidak perlu dirahasiakan lagi. Saya rasa, Nyonya juga mengetahui hal tersebut dari film dan novel yang dibuat oleh bangsa manusia mengenai kami.” Dalila bukan orang yang bodoh. Jelas-jelas saat ini Sia menyembunyikan sesuatu darinya. Sia pasti mengetahui alasan sesungguhnya dari hal yang membuat hubungan Max dan Julion memburuk. Karena jika memang alasan yang disebutkan oleh Sia adalah penyebabnya, maka alasan itu tidak bisa menjelaskan mengapa hubungan Max dengan Arfel—pemimpin kaum vampire saat ini—baik-baik saja. Seperti yang Dalila katakan sebelumnya. Keduanya tidak terlihat bermusuhan, tetapi juga tidak terlihat terlalu akrab. Namun, Dalila tidak mempertanyakan hal itu lebih jauh. Karena Dalila sadar itu hanyalah hal yang sia-sia. Mengingat Sia saat ini saja sudah berusaha untuk merahasiakannya. Itu artinya, Dalila memang tidak boleh mengetahui hal tersebut. Entah memang Dalila tidak boleh mengetahuinya sama sekali, atau ini memang belum waktunya bagi Dalila untuk mengetahui rahasia tersebut. Dalila pun menghela napas dan memilih untuk menatap buku mengenai kaum vampire yang berada di atas meja. Entah mengapa, saat itu Dalila teringat dengan mimpi mengerikannya tadi malam. Hal itu membuat tangan Dalila bergetar, dan wajah Dalila pucat pasi. Sia yang menyadari hal itu tentu saja merasa cemas. “Nyonya, ada apa? Apakah ada yang salah?” tanya Sia tidak menyembunyikan rasa cemasnya terhadap kondisi sang nyonya. “Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa,” jawab Dalila lebih seperti tengah meyakinkan dirinya sendiri.           **         Dalila duduk bersandar dengan sebuah buku yang berada di atas pangkuannya. Dalila memang membawa beberapa buku dari perpustakaan. Karena sebelumnya Dalila belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Sia atas pertanyaannya, maka Dalila bertekad untuk menemukan jawabannya sendiri. Namun, dalam buku-buku yang Dalila baca, ternyata ada satu pun yang Dalila temukan. Hal yang Dalila temukan hanyalah apa yang sebelumnya Sia jelaskan. Menurut buku yang sudah Dalila baca, ternyata hubungan buruk kaum manusia serigala dan kaum vampire terjadi sejak mereka diciptakan. Mereka berselisih mengenai siapa yang memiliki kekuatan yang lebih besar di antara keduanya. Ada berbagai hal yang memantik buruknya hubungan antara keduanya. Dalila tidak bisa menemukan jawaban yang memuaskan atas rasa penasarannya. “Aku yakin, ada alasan spesifik mengenai penyebab buruknya hubungan keduanya,” ucap Dalila pada akhirnya memilih untuk berbaring di atas ranjangnya. Ranjang luas yang terasa sangat sepi di ruangan yang terasa sangat luas dan mewah tersebut. Dalila lalu meraih sebuah buku mengenai sejarah kaun pembelot. “Salah satu dari pembentuk kaum Pembelot adalah kaum vampire. Apa mungkin, ini alasannya?” tanya Dalila pada dirinya sendiri. Dalila memang sudah selesai membaca buku tersebut dan menyimpulkan jika kaum pembelot benar-benar di luar batas. Mereka sudah diberikan berkat kekuatan yang luar biasa oleh Sang Pencipta, dan mendapatkan sebuah tugas untuk menjaga kedamaian dengan para manusia. Namun, sepertinya sudah menjadi sifat dasar semua makhluk bahwa secara naruliah ingin untuk melanggar peraturan yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta. “Ternyata bukan hanya manusia yang memiliki nafsu untuk melawan perintah Sang Pencipta,” ucap Dalila. Lalu tanpa sadar Dalila pun jatuh tertidur. Mungkin, itu terjadi karena tadi malam Dalila tidak tidur dengan lelap. Namun, tidur siang Dalila tidak berjalan dengan mulus. Tidurnya yang semula nyenyak, berubah menjadi sangat tidak menyenangkan. Karena ternyata mimpi mengerikan tadi malam, secara mengejutkan terulang. Entah hanya perasaan Dalila atau benar adanya, tidur yang dihampiri oleh mimpi buruk itu ternyata berjalan cukup lama. Untungnya, suara Sia di luar pintu kamar membangunkan Dalila. Menyelamatkan dirinya dari sebuah mimpi yang mengerikan. Namun, kondisi Dalila sama sekali tidak baik. Ia berkeringat dingin, dan telapak tangan serta telapak kakinya terasa begitu dingin. Jelas, Dalila merasa sangat ketakutan karena mimpinya itu. Dalila menyentuh lehernya, rasanya cekikan yang ia dapatkan di dalam mimpi, seakan-akan terasa begitu nyata. “Nyonya, Anda tidak apa-apa? Apa saya boleh masuk?” Terdengar suara Sia lagi. Pelayan pribadinya itu terdengar cemas. Dalila berusaha untuk mengendalikan rasa terkejut dan takutnya. Jujur saja, setelah mendapatkan mimpi yang sama seperti itu, Dalila merasakan firasat yang sangat buruk. Entah mengapa, Dalila merasa seakan-akan ada hal besat yang akan terjadi di masa depan. Hal yang sangat buruk, yang bahkan tidak pernah Dalila bayangkan sebelumnya. Dalila rasa, ia tidak bisa menyimpan hal ini sendiri lagi. Dalila perlu membicarakannya dengan Max. Karena Dalila yakin, hanya pria itu yang bisa membantunya. Namun, untuk kali ini Dalila harus berusaha untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Sayangnya, sepertinya hal itu terlalu sulit untuk dilakukan sendiri oleh Dalila. Tangannya masih terlihat bergetar dan terasa semakin dingin saja dari waktu ke waktu. “Masuklah, Sia. Aku perlu bantuanmu,” ucap Dalila memerintah Sia untuk kali pertama. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN