Saat fajar tiba pembersihan dan pengobatan pun sudah selesai. Namun, mereka tidak bisa meninggalkan desa begitu saja dan melanjutkan perjalanan. Sebab mereka harus menunggu para medis perwakilan dari pemerintah datang. Karena ini adalah kali pertama mereka menghadapi hal seperti ini. Mereka memilih untuk memberikan bantuan hingga akhir dan selesai permasalahannya. Sepertinya mereka harus bermalam hingga di sana, untuk memastikan jika desa tersebut memang benar-benar sudah bersih dari para pembelot serta wabah.
Max dan seluruh tim memilih untuk menyusup ke dalam tim medis untuk memastikan jika memang obat yang sudah mereka sebelumnya sudah menunjukkan hasilnya. Mereka menyamar menjadi tim medis, dan menjalankan tugas mereka dengan baik. Tentu saja tim medis yang hadir tersebut mengetahui identitas mereka. Namun, mereka ikut dalam sandiwara tersebut. Serta tidak mengatakan apa pun, dan memilih untuk bekerja sama dengan baik sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh atasan mereka.
Kerja sama terus berlanjut hingga waktu berubah kembali menjadi malam. Begitu langit menggelap, tim medis sebagian memilih untuk kembali ke pusat. Sementara sebagian lagi tinggal untuk berjaga. Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang Max dan Rae rencanakan. Max merasa puas karena Rae benar-benar menjalankan semuanya sesuai dengan apa yang mereka janjikan sebelumnya. Hingga hasil yang mereka dapatkan maksimal. Semuanya sudah selesai, dan tinggal menunggu pemulihan warga dan desa. Max yakin jika semuanya akan bisa diurus oleh Rae dengan baik.
“Kita dirikan tenda di luar desa saja. Apa kalian sudah menemukan tempat yang aman?” tanya Max pada Joe.
“Ada sebuah area yang aman dan leluasa di dalam hutan yang berbatasan langsung dengan desa. Saya rasa, di sana kita bisa mendirikan tenda dan beristirahat untuk memulihkan diri,” jawab Joe.
Max serta timnya sendiri memutuskan untuk bermalam di desa tersebut. Tentu saja tidak di desa secara langsung. Melainkan di area yang tidak tersentuh oleh para warga, dan dihindari karena aura mengerikan yang meliputi area tersebut. Tentu saja tempat tersebut akan cocok untuk menjadi tempat beristirahat mereka. Jelas mereka butuh waktu beristirahat, karena sebelumnya mereka sama sekali belum beristirahat setelah mereka tiba di desa tersebut. Mereka terus menjalankan tugas, tanpa mendapatkan waktu sedikit pun untuk istirahat.
Max melirik pada Dalila, dan membawa Dalila agar bersandar pada dirinya. Berbeda dengan anggota lainnya yang terlihat masih cukup segar. Karena kekuatan mereka yang masih tersisa. Sementara Dalila yang belum sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatannya, sekarang saja sudah merasa sangat kelelahan. Dalila memang memiliki kekuatan yang sangat besar tetapi tubuhnya masih mengingat kebiasaannya sebagai manusia yang harus mendapatkan istirahat yang cukup. Tentu saja tidak tidur setelah lebih dari dua puluh empat jam, membuat Dalila merasa sangat mengantuk. Hingga tidak bisa menahan diri untuk terus menguap.
“Kalau begitu, kita akan beristirahat di sana. Kita dirikan tenda secepat mungkin dan segera beritirahat di sana,” ucap Max memutuskan.
Tim yang dipimpin oleh Max tentu saja segera bergegas untuk menuju tempat yang sebelumnya sudah dibicarakan oleh Joe, dan segera mendirikan tenda. Perapian juga dibuat dalam waktu yang cepat untuk memastikan jika tidak ada hewan liar yang mendekat dan suhu hangat menyebar di area perkemahan tersebut. Max sendiri memilih untuk membangun tenda yang akan ia tempati dengan Dalila. Tentu saja ia harus bergegas agar Dalila bisa beristirahat dalam waktu yang cepat.
Semua perlengkapan berkemah tersebut mereka simpan di penyimpanan sihir. Sehingga mereka tidak merasa terlalu kerepotan saat harus bergerak dengan barang bawaan seperti itu. Saat mereka membutuhkannya, mereka hanya perlu mengucapkan mantra dan semua barang tersebut akan kembali terlihat. Toh, mereka membutuhkan barang-barang seperti ini ketika mereka berada di tempat yang terpencil, dan mereka tidak mendapatkan fasilitas untuk bermalam yang lebih pantas.
“Masuklah,” ucap Max dan meminta Dalila untuk masuk ke dalam tenda.
Di dalam tenda, ternyata sudah tersedia sebuah ranjang dan bak pemandian, yang Dalila tidak mengerti bagaimana bisa Max persiapkan. Dalila lalu menatap Max dan bertanya, “Apa aku mandi di sini?”
“Tentu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Jadi mandilah sebelum makan dan beristirahat,” ucap Max lalu menghela Dalila untuk mendekat pada bak pemandian yang terbuat dari kayu tersebut.
Dalila memang tergoda untuk mandi, tetapi Dalila tidak terlalu senang jika dirinya harus mandi saat Max ada di sana. Meskipun sudah sering tidur bersama dengan Max, dan Max sudah berulang kali melihat tubuh indahnya tanpa pakaian. Namun, tetap saja Dalila merasa malu. Ia tidak akan merasa terbiasa untuk menunjukkan tubuh polosnya di hadapan sang suami. Jadi, pada akhirnya Dalila berkata, “Sekarang keluarlah. Aku ingin mandi sendiri saja.”
Max tentu saja tidak senang dengan pengusiran Dalila tersebut. Namun, ia tidak mau sampai Dalila marah padanya. Mengingat jika Dalila saat ini tengah merasa lelah, jika dirinya kesal sedikit saja, sudah dipastikan jika Max akan mendapatkan marah dari istrinya itu. Jadi, pada akhirnya Max pun berkata, “Aku akan menunggu di luar. Pakaianmu ada di sana. Jika sudah selesai berpakaian, panggil aku. Nanti kita makan bersama.”
Dalila mengangguk. Sebelum pergi, Max sempat-sempatnya mencium bibir Dalila dengan lembut sekilas. Dalila tentu saja berdecak kesal. Namun, tidak bisa menahan senyuman tipis yang tersungging pada wajah cantiknya. Dalila sama sekali tidak membuang waktu untuk membuka pakaiannya yang sudah lebih dari satu hari ia kenakan, dan masuk ke dalam bak mandi berisi air hangat yang sudah disiapkan oleh Max. Dalila membersihkan diri dengan teliti, memastikan jika tidak ada kotoran yang tersisa pada tubuhnya.
Tak lama, Dalila ke luar dari bak mandi tersebut dan mengeringkan tubuhnya. Ia mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Max, dan memanggil suaminya itu. Namun, ternyata Max tidak menyahut sama sekali. Hal itu membuat Dalila mengernyitkan keningnya. Dalila yang mengenakan pakaian yang nyaman untuk tidur tersebut, segera melangkah menuju pintu masuk tenda luas yang memang akan ditempati oleh Dalila dan Max malam ini.
Benar saja, di sana Dalila tidak melihat suaminya sama sekali. Dalila hanya melihat anggota tim yang berada di dekat api unggun. Joe, Julion, Elle, dan Max tidak ada di sana. Membuat Dalila bertanya-tanya apa yang terjadi hingga mereka tidak ada di sana. Pada akhirnya Dalila bertanya, “Kalian tau ke mana suamiku pergi?”
Salah satu dari anggota tim pembasmi itu menjawab, “Tuan Max dan yang lainnya tengah menuju desa. Karena sepertinya ada sedikit masalah mengenai para pasien yang sebelumnya terkena wabah. Para medis membutuhkan sedikit bantuan lagi.”
Dalila menghela napas dan duduk di dekat api unggun bersama para anggota lain. Lalu salah satu dari mereka pun bertanya, “Apa Nyonya ingin makan sesuatu? Sebelumnya Tuan Max memang meminta kami untuk menyiapkan makan malam. Tapi Tuan Max mengatakan jika ia sendiri yang akan menyiapkan makanan untuk Nyonya.”
Mendengar hal itu, Dalila berusaha untuk tidak tersenyum. Sadar, jika Max ingin menyiapkan makanan sebagai bentuk perhatiannya. Hal itu membuat d**a Dalila menghangat karena ketulusan yang ia rasakan. Rasanya hal tersebut sangat menyenangkan bagi Dalila. Jadi pada akhirnya Dalila berkata, “Aku akan menunggu Max saja.”
Para anggota di sana mengangguk. Dalila memutuskan untuk masuk kembali ke dalam tendanya. Namun, belum sempat ia masuk ke dalam tenda, Dalila melihat ke area hutan yang memang mengelilingi area tersebut. Ada banyak kunang-kunang yang terbang dan menarik perhatian Dalila. Sebenarnya Dalila ingin melihat keindahan hutan tersebut, karena kunang-kunang yang ada di sana membuat suasana menjadi tidak terlalu gelap.
Dalila pun bertanya pada para anggota, “Apa hutan ini sudah disisir?”
“Sudah, Nyonya. Tuan Max dan Tuan Julion sendiri yang sudah menyisirnya. Tidak ada hal yang berbahaya di sini. Jadi, Tuan Joe menyarankan untuk kita berkemah di tempat ini,” jawab salah satu dari mereka.
Dalila mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas jawaban yang sudah mereka berikan. Setelah itu, Dalila pun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar sana. Ia akan kembali sebelum Max dan yang lainnya kembali nantinya. Karena Dalila memang hanya ingin menikmati udara malam dan menghirup udara segar. Dalila melangkah perlahan di sana, dan menikmati keindahan malam yang memang sesuai dugaannya. Karena cahaya dari kunang-kunang, Dalila bisa menikmati pesona unik yang sangat khas dari sebuah hutan di desa ketika malam hari. Rasanya Dalila tidak menyesal ke luar dari area berkemah dan berkalan-jalan di sini.
“Tolong, hiks. Tolong.”
Dalila mengernyitkan keningnya dan menghentikan langkah kakinya saat dirinya mendengar helaan napas berat serta permintaan tolong yang begitu putus asa. Dalila seketika merasakan rasa putus asa yang mendalam, dan entah mengapa mencium bau anyir yang samar. Dalila sadar jika ada sesuatu yang salah di sini. Tanpa sadar, Dalila melangkah lebih jauh ke dalam hutan. Lalu ia pun melihat seseorang yang tengah mencekik anak kecil dan berusaha untuk menggigit lehernya.
Saat tulah Dalila tanpa pikir panjang segera menyerang sosok tersebut. Sosok yang ternyata adalah salah satu kaum pembelot yang berasal dari kaum vampire. Mengapa Dalila bisa yakin jika itu adalah kaum pembelot? Karena tidak mungkin kaum immortal yang patuh pada Sang Pencipta, bisa menyerang anak kecil sebrutal itu. Dalila segera berdiri di hadapan anak kecil yang ia selamatkan, untuk melindunginya dari kaum pembelot yang sebelumnya sudah berhasil ia pukul mundur.
“Kau, bagaimana bisa kau masih hidup? Seharusnya kaum pembelot sudah sepenuhnya dibersihkan,” tanya Dalila dengan menatap penuh kewaspadaan pada lawannya.
Untungnya, anak kecil yang berada di belakang punggungnya sudah tidak sadarkan diri. Jadi, Dalila tidak perlu menahan diri untuk melakukan apa yang harus ia lakukan. Pria yang menjadi lawannya sendiri menatapnya dengan bengis sebelum berkata, “Aku sama sekali tidak akan melunak hanya karena kau adalah perempuan.”
Lalu keduanya pun segera terlibat dalam sebuah pertarungan yang sangat sengit. Dalila menggunakan pengalamannya saat menjadi seorang pengawal, dalam pelakukan pertarungan jarak dekat. Selain itu, ia juga menerapkan semua pelajaran yang ia dapat dari Max dan Julion sebelumnya. Dalila menahan napasnya saat merasakan pukulan yang menyakitkan mengenai salah satu bahunya. Namun, Dalila bisa menemukan celah dan segera melakukan serangan balik yang tepat.
“Kau seharusnya tidak pernah menyerang anak kecil,” ucap Dalila lalu melemparkan sebuah pedang kecil yang terbuat dari api tepat pada d**a lawannya.
Lalu lolongan penuh kesakitan terdengar karena pria itu jelas mendapatkan serangan yang sangat menyakitkan dan membuatnya menjemput ajal. Pria itu pun terbakar habis dan berubah menjadi abu, membuat Dalila segera menatap anak kecil tersebut dan meraihnya dengan lembut. Berusaha untuk tidak melukainya. Ia memeluknya dan berniat untuk membawa anak tersebut kembali ke perkemahan. Dalila tidak tahu apakah keputusan tersebut baik, tetapi Dalila yakin jika keputusan tersebut paling tepat untuk anak kecil yang memerlukan pengobatan ini.
Saat melangkah, Dalila merasakan kehadiran orang lain di sana. Ia pun seketika menoleh ke arah yang memang menarik perhatiannya. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Dalila juga pada akhirnya tidak merasakan hawa kehadiran orang lain di sana. Dalila pun beranjak untuk pergi dari sana secepat mungkin. Melewatkan untuk melihat Elle yang berada di sana sejak awal. Karena sebenarnya, Elle lah yang sudah membuat situasi tersebut. Elle sengaja memancing Dalila ke sana, berpikir jika Dalila tidak akan bisa melawan pembelot yang tengah kelaparan itu. Namun, rencananya gagal total. Mengingat Dalila yang bisa dengan mudah mengalahan orang itu.
Begitu Dalila tiba di perkemahan, Max sudah menunggu kepulangannya dengan ekspresi gelapnya. Julion sendiri ada di sana dan terlihat memasang ekspresi yang sangat cemas dan berniat untuk mendekat pada Dalila. Sayangnya, Dalila sama sekali tidak menatap Juion. Ia hanya menatap suaminya, merasa gugup karena berpikir jika dirinya akan mendapatkan kemarahan darinya. Saat ini Max memang marah, karena Dalila pergi dari perkemahan seorang diri di tengah malam seperti ini pula.
Namun, begitu melihat seorang anak manusia yang berada dalam pelukan Dalila, Max segera mengurungkan kemarahannya dan berkata pada Joe, “Ambil alih anak itu dan obati dirinya dengan sebaik mungkin.”
Joe mengambil alih anak dalam pelukan Dalila, dan saat itu pula menggendong Dalila untuk masuk ke dalam tenda mereka. Sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Julion untuk berinteraksi dengan Dalila. Begitu tiba di dalam tenda, Max mendudukkan Dalila di tepi ranjang dan memeriksa keadaan Dalila. Karena Max yakin, Dalila sudah terlibat dengan sebuah pertarungan sebelumnya. “Apa kau terluka?” tanya Max.
Dalila menggeleng. “Tidak. Aku—”
Dalila tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Max sudah lebih dulu memeluknya dengan lembut. Seakan-akan dirinya merasa sangat ketakutan dengan kenyataan bahwa saat dirinya kembali ke perkemahan, Dalila sudah tidak ada dan kembali dengan keadaan kacau seperti ini. Dalila yang merasakan hal itu pun membalas pelukan Max dan berbisik, “Aku sama sekali tidak terluka. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri.”