Satu

1444 Kata
(Peringatan! Konten Sensitif!) Lilian mengerjapkan mata, merasakan pening bukan main terasa di kepalanya. Ia tak begitu yakin apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Apa yang ia ingat adalah, bagaimana bis umum yang ia naiki untuk kembali ke kontrakannya mengalami sebuah kecelakaan. Cukup parah, sampai kendaraan itu berguling-guling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di tengah jalan. Sebuah dia kehilangan kesadaran, Lilian yang tersengal-sengal menahan sakit bisa melihat sendiri bagaimana matanya mulai merasa silau. Menyaksikan truk menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi sebelum ia hilang kesadaran sepenuhnya. Aneh, kalau yang biasanya ia baca di novel-novel. Harusnya saat ini bau semerbak antiseptik mulai terhidu, atau mungkin bau anyir darah yang pasti keluar dari tubuhnya yang terluka. Namun apa yang terhirup adalah bau menyengat sesuatu yang ia tidak tau apa. Lilian semakin dibuat mengernyitkan dahi, alih-alih mendapati langit-langit rumah sakit yang biasanya tercat putih. Apa yang ia lihat adalah langit-langit ruangan berwarna pink lembut. Perlahan Lilian mencoba mengangkat tangannya, mengira bahwa dia akan merasakan nyeri di sana tapi lagi-lagi dia tidak merasakan apa-apa. Begitupun di kakinya. Sadar bahwa dia tidak merasakan apa pun di seluruh tubuhnya. Bergegas Lilian bangkit dengan cepat. Membuat selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher tadi terjatuh begitu saja dan berkumpul di pinggangnya. Menampakkan pemandangan yang tidak ia sangka. “AAAAA!!!” Teriakan itu menggema begitu kencang, cukup kencang hingga pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok dua perempuan muda berpakaian seperti seragam berwarna hitam masuk dengan tergopoh-gopoh. “Nyonya! Nyonya ada apa?!” Memegangi selimut erat, supaya kain putih tebal itu menutupi bagian dadanya yang ‘terbuka’. Mata Lilian membulat, menatap horor dua perempuan asing di depannya sebelum kembali berteriak. “Kalian siapa?!” ”Nyo-nyonya ini saya…” gumam perempuan berambut pendek dengan takut-takut, menunjuk dirinya sendiri. “Saya Widya pelayan pribadi Nyonya.” ”Saya juga pelayan Nyonya, saya Vita.” Dahi Lilian semakin mengernyit. Apa-apaan sih orang ini, dia sedang dikerjai ya? Temannya yang mana sehabis dia terkena kecelakaan memutuskan untuk mengerjainya seperti ini, sampai menyewa orang asing yang ia akui aktingnya bagus sekali. “Kalian dikirim siapa sih? Mbak Sri? Nadia? Atau Asa? Udah deh, berhenti ngerjain guenya! Gue nih baru kecelakaan loh, malah dikerjain begini gak lucu tau gak. Mana gue pake segala dibikin telanjang.” Kedua perempuan itu bertukar pandang. Sama-sama kebingungan harus membalas apa. “Nyo-nyonya ngomong apa? Kecelakaan? Nyonya gak habis kecelakaan. Semalam Nyonya bahkan habis-“ ”Duh sayang, kenapa sih masih pagi udah berisik begini?” Suara berat seorang pria dan tangan besar yang mendarat di atas pinggangnya membuat Lilian merasa merinding. Bergegas menoleh ke samping dan mendapati seorang pria berkulit kecoklatan dengan d**a terbuka berbaring di sebelahnya. Belum sempat Lilian bisa kembali bersuara, pria itu justru mendadak mengukungnya. Menekan apa yang ‘tegak’ di bawah sana ke lipatan pahanya. Lilian menggertakkan gigi, bergegas mengigit tangan pria yang mengukungnya itu lantas menendangnya keluar dari selimut. Sampai pria itu terjatuh dari ranjang. ”BAWA DIA KELUAR!!” ”Ba-baik Nyonya.” Pria yang baru saja tersungkur itu mengernyitkan dahi, tampak sekali dikuasai oleh amarah. “Eh kamu apaan sih? Kok tiba-tiba kasar sama aku? Kamu marah karena aku main kasar semalam, atau marah karena diam-diam aku keluar dalam kamu?” Mau Lilian berpikir sejernih apa pun dia tidak bisa memahami konteks lain dalam kalimat pria aneh itu selain ke arah ‘sana’. “Lo gila tau gak! Orang pasti marah kalau disentuh tanpa izin gitu. b******n ya lo, bercandaan kalian semua udah kelewatan!” ”Nyonya Hera, penjaga keamanan rumah akan segera datang. Tolong anda segera berpakaian.” Vita mendadak datang, menyorongkan jubah tidur satin berwarna merah muda. ”Gue Lili—Tunggu, lo manggil gue apa barusan?” Mendengar nama yang tak asing itu, Lilian membulatkan mata lantas mencengkram kuat tangan Vita yang menyodorkan jubah tidur padanya. “Lo panggil gue apa?” ”Ny-nyonya Hera,” jawab Vita setengah meringis akibat cengkraman Lilian yang terlalu kuat pada tangannya. Kebingungan yang ada membuat Lilian bahkan tak sadar bahwa kuku-kukunya terpasang kuku palsu dengan ujung teramat runcing. Sesuatu yang jelas tidak pernah dia pakai seumur hidup. Menghempas tangan Vita dengan gemetar, Lilian perlahan menyentuh wajahnya. Merasakan seluruh fitur yang ada di wajahnya saat ini. Jerawat yang pagi tadi tumbuh di ujung hidungnya, tidak terasa. Selain itu dia bisa merasakan bagaimana tulang hidungnya terasa lebih runcing dan mancung dari yang biasanya. “C-cermin.” Takut Lilian lagi-lagi mencengkram tangannya, Vita bergegas menyambar cermin tangan yang ada di atas meja rias. Memberikannya pada Lilian dengan tangan gemetar. Tangan sang puan yang sama bergetar, mulai bergerak mengangkat cermin itu ke depan wajah. ”Perempuan itu berambut hitam legam dengan panjang sepunggung, wajahnya bak pahatan patung terindah yang pernah terukir. Kulitnya seputih s**u, namun itu tidak membuatnya terlihat bak mayat hidup. Bibir yang merah merona menjadi daya pikat para kaum adam, namun tatapan dari matanya yang berbentuk almond membuat para kaum adam selalu gemetar untuk mendekat. Mengira bahwa sang puan tidak akan menyambut mereka ramah, padahal dia akan selalu menyambut kaum adam dengan rupa rupawan manapun dengan tangan terbuka. Kecuali satu orang, yaitu Leiden. Dia adalah perempuan yang menjadi pemilik pria paling sempurna yang pernah Nayla temui ini, namanya Hera.” ”Gak mungkin,” gumam Lilian lirih menyentuh wajah yang persis dengan paragraf pembuka deskriptif yang dituliskan sang penulis dari cerita ‘Asmara Tuan Leiden’. Paragraf yang memperkenalkan tokoh utama antagonis di cerita, yang membuat pembaca manapun selalu merasa gregetan. Perempuan yang kematiannya disambut sorak sorai dari pembaca di akhir cerita. Hera Wijaya. *** ”Nyonya.” Lilian berdecak, mulai muak akan panggilan ‘Nyonya’ yang dipakai oleh semua orang di rumah ini untuk memanggilnya. ‘Pria aneh’ yang berhasil di depak keluar dari kamar itu, menurut Widya adalah satu dari beberapa pria yang kerap dibawa sang nyonya kembali untuk menemaninya di kasur. Sebuah fakta yang membuat Lilian merasa semakin mual, begitu mual hingga dia tidak bisa melihat wajahnya sendiri di depan cermin. Mengharuskan Widya dan Vita menutupi cermin-cermin yang menutupi kamar mandi dengan kain-kain tebal. Sadar bahwa decakannya barusan, membuat dua pelayan pribadi Hera berjengit ketakutan. Lilian menghela napas berat, lantas berbicara dengan nada lebih lembut. “Apa?” ”Nyonya mau saya panggilkan dokter?” Mungkin menyadari bahwa ada yang berbeda dari sang nyonya sejak pagi, Vita menawarkan sebuah solusi yang paling masuk akal untuk Lilian saat ini. Meski tawaran itu disuarakan dengan takut-takut, Lilian bisa menangkap sedikit kekhawatiran di sana. ”Memangnya bisa?” Widya dan Vita saling bertukar pandang, sampai Widya yang menyahut kembali. “Nyonya memang diberi dokter pribadi dari keluarga anda, tapi mungkin baru bisa datang besok karena yang punya kontaknya adalah Bu Rika. Beliau baru tiba besok.” Kalau memang benar saat ini Lilian sedang merasuki sang antagonis Hera, itu berarti tawaran yang diberikan oleh Widya ataupun Vita sama saja membawakan musibah untuk dirinya sendiri. Secara kalau dia tidak salah ingat, dokter pribadi dari keluarga pria ini merupakan perpanjangan tangan dari kedua orang tuanya. Membiarkan dokter itu mengetahui bahwa Hera hidup sebebas ini, jelas akan membawa kemurkaan pada kedua orang tuanya. Lilian menghela napas untuk kesekian kali. “Lebih baik tidak usah saja. Tinggalkan saya sendiri.” Untungnya kedua perempuan itu menurut, bergegas meletakkan kembali sisir yang mereka gunakan untuk menyisir rambut Hera yang masih setengah basah. Tepat setelah pintu kamar tertutup rapat, barulah Lilian mengangkat kepalanya. Matanya melirik ke arah cermin di meja rias yang tertutup oleh kain berwarna hitam. Dengan langkah lunglai, sang puan bangkit menghampiri meja rias dan menarik turun kain. Membiarkan kain beludru itu jatuh begitu saja di lantai. Dengan kepala tertunduk, perlahan tapi pasti Lilian mengangkat wajahnya. Memperhatikan wajah cantik yang terpantul di sana, jelas berbeda dari wajah aslinya. Lilian mengigit bibirnya semakin gelisah saat sadar dia tidak berhalusinasi. Ia sungguh masuk ke dalam novel kesukaan yang kerap ia baca setiap hari. Masih segar di dalam kepala Lilian, bagaimana nasib akhir Hera di novel. Tangannya bergerak memegang bahu, area di mana ‘peliharaan’ Leiden pertama kali menyergapnya. Merasa merinding bukan main membayangkan hal itu terjadi padanya. Jika bersinggungan dengan kematian membuat Lilian terjebak dalam dunia ‘mengerikan’ bagi Hera ini. Mungkin sekali lagi bersinggungan dengan kematian akan membuatnya dirinya kembali ke dunia nyata. Lilian menelan ludah, menarik salah satu rak meja rias. Membuka rak paling bawah yang jika sesuai dengan ingatannya, di sanalah kunci melarikan diri dari dunia ini berada. Sebuah botol berisikan obat tidur. Tangan Lilian bergetar, menuang segenggam pil tidur ke tangannya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, jelas merasa takut untuk sekali lagi dengan kematian. Namun, Lilian hanya ingin kembali. Dia tidak mau terjebak dalam novel yang meski kesukaannya tokoh yang dia rasuki adalah karakter paling naas dalam dunia ini. Setelah menelan ludah susah payah, Lilian menguatkan tekad lantas menegak obat-obat tidur itu dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN