RANIA

1741 Kata
Rania berjalan ke kampus dengan wajah lelah. Dia baru kembali ke kos kecilnya pukul 5 pagi, dan kini dia terlambat untuk kelas paginya. Gajinya akan di bayar perminggu. Jadi Rania harus bersabar, dia menggunakan sebagian tabungannya dan mencicil pembayaran Uang SKS kuliahnya untuk ujian semester ini. Sabar Rania, ini masih tahun pertama. Kau bisa melaluinya. Rania menyemangati hatinya. Ketika sampai di kelas, ternyata dosen sudah mulai kelasnya. Pria tua yang masih gagah, wajahnya tampan dan terlihat galak, dia memanjangkan janggut putihnya. Memandang tajam Rania yang merutuki dirinya. "Oh, Rania Larasati, apa karena kau penerima beasiswa serta peringkat 1 di kampus ini, kau bisa seenaknya terlambat memasuki kelas ku?!" Rania terkejut akan ucapan dosen itu, dia menunduk meminta maaf. "Bukan seperti itu pak! Maafkan saya!" "Sudah, aku akan memaklumi kamu kali ini, sana duduk! " Tanpa basa basi Rania segera duduk dan tersenyum senang karena di izinkan masuk. Mungkin jika itu murid lain, dosen itu akan mengusirnya. Murid lain berbisik ketika melihat hal tersebut. Gunjingan sudah biasa Rania terima di kampusnya. Namun Rania tetaplah Rania, dia tidak peduli omongan orang lain. Dia terkenal sebagai Junior sombong dan dingin lantaran banyak pria yang dia tolak. Rania hanya peduli pada pendidikannya. Tidak ada yang peduli pada Rania, karena itu dia juga dingin. Selesai kelas, dia melihat Lita mendekatinya. "Ayo ke kantin, aku traktir!" Lita adalah teman sejak dia masih sekolah. Hanya dia yang mengerti Rania, mereka sudah berbagi suka dan duka bersama. Lita pernah terpuruk lantaran orang tuanya bercerai dan dia memiliki kakak Tiri. Keduanya makan siang di kantin dan Rania menceritakan jika dia menerima kerja tambahan saat malam. "Kau pasti lelah, kau harus minum vitamin, lihatlah wajah pucatmu." "Aku bisa melaluinya!" Rania tersenyum tipis, hingga Lita tidak melihatnya. "Kamu juga punya batas, kau pasti akan tumbang jika kau tidak jaga kesehatan kamu!" Lita memberikan botol vitamin yang tadi dia bawa. Rania berterima kasih lagi dan Lita hanya menggeleng. Memang Dea akan selalu mendengarkan keluh kesah Rania dan hanya itu yang di butuhkan wanita itu. *** Ketika Rania sedang berganti pakaian, Azka ada disana dan sedang berdebat dengan Nikko. Dia kemudian mendekati Azka untuk memberi salam. "Ah Rania, besok kau libur kuliah kan?" pertanyaan itu di jawab sekedar anggukan oleh Rania. "Kalau begitu apa kau bisa lembur hingga pagi? Bayarannya akan dobel. Karena hari ini pasti ramai." "Tidak bisa di hubungi." Nikko begitu kesal. "Sudahlah, kau cari saja penggantinya. Dia selalu seenaknya!" Rania memandang keduanya bingung. "Apa yang terjadi?" Azka mendesah. Dia merasa jika terlalu sabar menjadi pemimpin. Harusnya dia memiliki sifat kejam Gilang Mahendra. "Penari yang harusnya hadir tiap minggu tidak datang. Padahal aku sudah mengerti jika dia hanya bisa hadir di akhir pekan meski aku memintanya tampil tiap hari." Rania memandangnya berbinar, "Aku bisa menari!" Azka dan Nikko memandangnya terkejut. *** Rania begitu senang setelah menyelesaikan Ujian Akhir Semester terakhir nya. Musim Dingin membuatnya mengenakan pakaian lebih tebal. Kini dia sudah melunasi cicilan Uang semester tahun ini. Dia akan menabung untuk tahun depan. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya saat Lita menghampirinya dan mengeluh soal beratnya ujian kali ini. "Hey bagaimana kalo kita rayakan hari ini?!" tanya Lita. Namun Lita menggeleng. "Ayolaahh!! Kamu sungguh membosankan!" "Lita, aku ingin tidur! Sudah sebulan aku hanya tidur 10 jam perminggu!" Wajah Rania bisa di bilang sangat mengerikan, meski dia masih terlihat cantik, namun kantung mata hitam terlihat jelas di wajah cantiknya, kulitnya juga semakin memucat, tubuhnya juga begitu kurus meski pantatnya masih aduhai. Lita berpikir sejenak kemudian dia menepuk keras p****t Rania. "Lita!" seru Rania marah namun, Lita hanya tertawa, karena dia sering gemas dengan p****t Rania. "Kita bisa merayakannya di kos kamu! Beli makanan dan minuman, sebelum kamu akan berangkat kerja sore ini kan?" Lita sudah hapal jadwal Rania sekarang. Akhirnya Rania hanya mengangguk antusias, karena Lita pasti membayar semua nya. Memang enak punya teman kaya raya, bisa di manfaatkan! Bahkan Lita suka sekali menginap di kos kecil Rania sekedar mengajaknya mengenakan masker wajah dan perawatan wajah, tidak heran kulit wajah Lita begitu lembut dan cerah. Bahkan Lita sudah menyiapkan masker mata untuk menghilangkan kantung mata Rania meski percuma. Setidaknya merawat Rania adalah hal yang di sukai Lita. Kini keduanya sedang merebahkan diri di kasur Rania sembari memutar lagu Korea kesukaan Rania, keduanya mengenakan masker wajah dan timun menutupi mata. *** Rania memutuskan berhenti dari bekerja di Cafe. Karena gajinya kecil, sementara di Bar Azka, dia mendapat gaji yang besar lantaran Rania kini menjadi Dancer tetap disana. Setiap malam dia akan tampil dan Azka membayarnya dengan uang yang besar. Penampilan Rania kini terkenal di Bar dan banyak yang menantikannya. Setelah tampil Rania akan kembali jadi pelayan biasa. Dia melangkah santai karena dia sudah mulai libur semester dan hanya masuk satu kelas selama liburan, ini akan mempercepat kelulusannya. Dia datang ke Bar dan melihat Azka sedang berbicara dengan Dina. Di sana juga ada pria muda yang pernah Rania layani di Ruang Private bersama Azka. Merasa tidak perlu mengganggu, Rania menuju loker dan melihat penampilannya hari ini dari kaca pintu. Dia mengenakan kemeja biru kotak kotak dan jaket bertudung hitam, khas seorang Street Dancer. Dia kemudian keluar dan memakai masker serta topi dan tudungnya. Dia memang menutup wajahnya jika tampil, karena jika ketahuan dia juga pelayan di Bar, Azka mengatakan itu akan mempersulit Rania, entah apa maksudnya, Rania tidak paham. Dia keluar dan mulai naik ke panggung lalu berjongkok. Azka melihatnya, ini sudah jam buka Bar. Beberapa orang sudah datang. Namun biasanya Rania akan tampil sebelum tengah malam saat Bar lagi ramai ramai nya. Azka memanggilnya dan Rania mendekatinya. Dia sedang duduk di meja bar bersama temannya yang Rania kira ia seorang model. Pria muda itu terlihat lebih tampan dari terakhir Rania lihat. Pria itu sedang menghisap batang rokok dan minum. "Gilang, kenalkan ini Dancerku. Dia juga pegawai disini. Namanya Rania Larasati." Namun Rania tidak membuka masker dan topinya. Dia hanya memandang Gilang dan menunduk. Bahkan Gilang sendiri hanya meliriknya dan mengangguk. "Rania, ini temanku, jadi jika dia datang ke sini, kau harus melayaninya dengan baik." Rania mengangguk dan menunduk untuk menghormati apa perintah Azka. "Baik." Setelahnya Rania kembali ke panggung dan menyiapkan musik yang akan dia putar untuk penampilannya hari ini. Gilang dan Azka beralih pindah ke table yang dekat dengan panggung. Azka ingin memamerkan penampilan Rania pada Gilang, yang membuat Bar miliknya semakin ramai. Rania mulai memutar lagu Usher - Can You Handle It Gilang memperhatikan penampilan Rania dan dia merasa panas melihatnya. Apalagi saat kaki jenjang itu berputar, pinggangnya yang kecil, serta b****g yang seksi. Gilang ingin sekali melihat wajah Rania, membuatnya penasaran. "Bagaimana Gilang? Bukan kah penampilannya menakjubkan? Banyak Pelanggan yang ingin di layani olehnya, bahkan mereka berani membayar mahal, namun aku tidak menerimanya karena Rania masih remaja." Gilang terkejut. "Masih remaja? Kau mempekerjakan anak di bawah umur!?" "Ah tidak, dia sudah lebih dari 18 tahun, hanya saja dia masih kuliah. Aku tidak ingin terjadi apa apa padanya. Dava menitipkan dia padaku." Gilang hanya mengangguk dan masih fokus pada penampilan Rania yang kini dia akan memutar lagu kedua. Namun dia berlari ke belakang panggung, entah apa yang dia persiapkan, membuat para tamu tertawa akan tingkah menggemaskannya. Tidak lama kemudian, dia hanya mengenakan kemeja putih dan kain hitam menutup matanya saat dia melangkah ke tengah panggung. Semua pengunjung baik wanita atau pun pria, terdiam dan lagu mulai berputar. Gilang merasa dia semakin haus melihat wajah wanita itu, meski matanya di tutup kain, semua bisa melihat hidung dan bibir sempurna wanita itu. Ketika dia mulai meliukkan tubuh rampingnya, terlihat tulang kupu kupu indah milik wanita itu, belum lagi leher jenjangnya yang seputih giok. Membuat Gilang begitu haus hingga menenggak habis satu botol Whisky saat melihat penampilan Rania. Dia merasakan hawa begitu panas dan mulutnya terasa kering. Azka mendapat panggilan dari ponselnya dan sebuah pesan muncul, "Gilang aku harus menjemput Dava, apa kau akan disini atau naik ke ruang atas?" "Aku akan ke atas" ujarnya dan Azka pergi keluar dari Bar. Sementara Gilang akhirnya merasa lega dan tak puas ketika wanita itu selesai menari dan membungkuk hormat, kemudian berlari ke belakang panggung. Lagi lagi membuat penonton gemas ingin melepas kain di matanya, kalau bisa sekalian melepas bajunya. Gilang merasa gerah dan memutuskan untuk kembali ke meja Bar dan mendapati Dina sedang sibuk membuat minuman. "Dina, aku akan ke ruang private di atas, tolong bawakan sebotol Vodka." Lalu Gilang naik ke tangga dengan kepala mulai berputar. Namun akhirnya dia berhasil masuk ke dalam ruangan dan mulai menggeletakan tubuhnya. "Ah sial, aku sudah mabuk!" pikirnya gamang. Dia mulai merasa kepalanya berputar. Namun dia masih merasa kesal jika mengingat apa yang terjadi di perusahaan karena Shella. Bahkan Ayah dan Ibunya mulai turun tangan membuatnya makin marah. Tidak lama pintu terbuka dan seseorang masuk ke ruangan membawakan botol Vodka, wanita itu menunduk meletakkan Tray untuk memindahkan botol Vodka dan gelas ke meja. Karena pusingnya kepala Gilang, dia bangkit duduk dan mengambil botol Vodka namun menyenggol gelas hingga jatuh dan pecah. Prang!! "Ah, maafkan aku Tuan!" seru sebuah suara wanita yang Gilang hiraukan, dia memilih menenggak Vodkanya saat melihat wajah wanita itu yang mirip dengan Penari tadi. "Kau, penari itu?" tanya Gilang dan tersenyum senang. "Kau penari itu!" "Tuan, saya akan membersihkan pecahan gelasnya. Tunggu sebentar." Meski bukan Rania yang salah, sebagai pelayan dia haruslah meminta maaf. Kepala Gilang semakin ringan. Dan dia tidak mengingat apa yang terjadi setelahnya. *** Ketika terbangun, dia merasa tubuhnya begitu lengket dan sangat pegal. Bahkan dia melepas kancing kemejanya, menampilkan d**a dan bagian depan tubuhnya yang menakjubkan. Dia begitu berantakan. Kepalanya pusing dan sakit, dia melihat ponselnya, jam menunjukan pukul 6 pagi. Untung saja ini akhir pekan, jadi dia tidak perlu kesiangan ke kantor. Juga ada pesan Azka jika dia tidak bisa kembali ke Bar karena ada urusan dengan Dava. Dia keluar ruangan private dan memakai jaketnya. Dia menuruni tangga dan hanya menemukan Dina serta beberapa pelayan lain. Anehnya, dia merasa ada yang hilang. "Dina, aku akan pulang! Auww! " Ketika dia berseru, sudut bibirnya terasa sakit. Jadi dia memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu. Bibirnya berdarah, seperti di gigit seseorang dan sudut bibirnya lebam seperti habis di hajar. Apa aku menyakiti diriku sendiri? Apa aku jatuh menabrak meja? Gilang dengan bingung membuka kemejanya dan merasakan perih di pundaknya. Ada bekas goresan di sana. Ada tiga garis, jika dia bisa berpikir jernih, itu akan tampak seseorang mencakarnya, namun Gilang yakin jika dia hanya terjatuh dan menabrak meja. Jadi dia memakai kembali kemejanya dan pergi keluar dari Bar. Dia memilih memakai Taksi dan akan menyuruh orang membawa mobilnya. Atau dia bisa mengambilnya lain waktu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN