Saat memberikan helm kepada Ayla, Regal baru menyadari pakaian yang dikenakan Ayla, cewek itu memakai setelan baju tidur dengan gambar boneka di tengah bajunya, dan hanya dibalut cardigan tipis berwarna hitam. Regal tau, Ayla biasa keluar dengan pakaian seperti itu jika ia mengajaknya untuk mencari makan malam-malam di Jakarta. Tapi, ini Bandung. Kalo di Jakarta Regal harus menghidupkan AC sampai 16° celcius, di kota ini ia membutuhkan tiga lapis selimut tebal.
“Lo ngapain pake cardigan sih, Ay?” protes Regal sambil memberikan helmnya.
“Emang kenapa?”
“Gak berasa apa ini dingin banget. Gue gak bakal minjemin jaket gue, ya!”
“Siapa juga yang mau minjem jaket lo.” Ayla menjawab santai, sambil naik ke boncengan motor Regal.
“Atau lo emang niat mau peluk-peluk gue yaa di jalan?”
“Cepet jalan! Gue laper.”
Regal tak berkomentar lagi, biarkan sajalah Ayla merasakan dinginnya malam hari di Bandung. Motor Regal melaju di jalanan Bandung yang dipenuhi gemerlap lampu jalan. Ayla memperhatikan sekelilingnya, ini adalah kali pertama ia berada di Bandung, tentunya ini juga kali pertama ia melihat suasana Bandung di malam hari. Ayla memang nyaris tidak pernah jalan-jalan ke luar kota, karena tidak ada yang mengajak, serta tidak ada uang lebih untuk liburan yang sudah pasti buang-buang uang.
Ayla kini melipat kedua tangannya, karena mulai merasa kedinginan. Ia tidak tau tujuan Regal kemana, bahkan ia tidak tau saat ini sedang berada dimana. Semakin lama udara semakin terasa dingin. Ternyata benar ucapan Regal.
Regal melirik Ayla dari spionnya. Dapat dilihat Ayla yang beberapa kali menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Cewek ini memang keras kepala, dia benar-benar tidak meminta jaket yang Regal gunakan, dia juga enggan untuk memeluk Regal –bukannya Regal pengen banget sih, tapi seenggaknya jaket Regal ada sakunya untuk memasukan tangan Ayla, jadi tidak terlalu dingin.
Tiba-tiba motor Regal menepi dipinggir jalan, membuat Ayla bingung, karena disana tidak ada tukang dagang apapun.
“Kok berhenti?”
Regal menggaruk tengguknya, lalu kemudian menjawab. “Kayaknya kita nyasar deh, Ay.”
“Hah? Emang lo gak tau jalan? Mau kemana sih?” nada suara Ayla kini meninggi. Sepertinya cewek itu belum pernah tersesat, apalagi di tempat yang belum pernah dikunjunginya.
“Niatnya mau ke Dago. Disana banyak tempat makan. Tapi lupa lewat mana.”
Ayla berdecak. Kalo Regal yang sok tau saja lupa, apalagi Ayla, yang baru pertama kali ke tempat ini.
Regal melihat ke seberang jalan, ada warung tenda yang berjualan nasi timbel. Meski niatnya ia mau mengajak Ayla ke tempat-tempat yang terkenal dengan interiornya bagus, tapi sepertinya Ayla lebih suka warung tenda di seberang. Mengingat Regal pernah mampir ke starbuck setelah mereka nonton di mall, dan Ayla melongo melihat daftar harga kopi di tempat itu. Meskipun yang membayar tagihannya Regal, tapi tetap saja Ayla mengoceh, harga segelas kopi disana dua kali lipat dari uang jajan sekolahnya, yang berarti Ayla harus pulang-pergi ke sekolah berjalan kaki, dan puasa dua hari demi beli kopi disana. Iya. Memang pakai uang Regal. Tapi tetap saja, bagi Ayla, itu pemborosan.
Tidak salah Regal sangat tertarik dengan Ayla. Ayla yang realistis. Bukan matrealistis.
"Nasi timbel di depan aja yuk, Ay." Ajak Regal, kemudian cowok itu membuka jaket berwarna abu-abu yang dipakainya. "Pake nih." Katanya, sambil memberikan jaketnya ke belakang.
"Katanya lo gak mau minjemin jaket."
"Anggep aja gue terlalu murah hati dan gak tegaan. Daripada lo hipotermia dan tau-tau mati pas lagi sama gue, gak banget kan."
"Karena lo murah hati, makasih." Ayla menerima jaket Regal dan memakainya.
Regal berdecak. Ucapan Terima Kasih Ayla tidak pernah lupa. Ayla memang menerapkan nilai etika dan sopan santun, namun dengan catatan sebatas kewajiban, tidak dengan tulus menerapkan. Itu yang Regal pahami setelah beberapa bulan dekat dengan Ayla.
Motor Regal kembali melaju, mencari putar balik untuk menuju ke tenda di seberang. Sesampainya disana ia memarkirkan motor disamping tenda. Ayla turun terlebih dahulu, memberikan helmnya pada Regal, lalu disusul Regal. Mereka berjalam beriringan memasuki warung tenda dengan menu nasi timbel.
Regal memesan makanannya pasa Ibu yang kini sedang sibuk menggoreng lauk-pauk, sementara Ayla duduk di meja yang kosong. Warung tenda itu tampak ramai di malam hari. Ayla masih asik mengamati saat Regal sudah duduk di hadapannya.
"Cewek lo gak nyariin? Tar heboh lagi, dicariin gak ada, telpon gak diangkat, chat gak dibales." Ayla membuka pembicaraan, membahas ucapan Lita siang tadi.
Regal tertawa, mendengar pengucapan Ayla yang tanpa ekspresi namun mengikuti kata-kata Lita.
"Gak dong. Anak manis kayak Lita mah jam segini udah tidur. Jadwal makan, tidur, bangun, belajar, semuanya tuh terjadwal rapi. Kayaknya waktu pacaran juga di jadwalin deh. Soalnya gue cuma jalan sama dia pas malem minggu, selalu berangkat jam setengah tujuh dan pulang jam sepuluh."
Ayla hanya mengangguk mendengarkan ocehan Regal. Ayla memang bukan pendengar yang baik. Setidaknya cukup baik dibanding Chica yang hobi menyela ucapan orang sebelum selesai.
"Tapi lo juga manis kok, Ay."
Ayla mendengus mendengar lanjutan ucapan Regal. Reaksi tidak wajar untuk seorang cewek saat dipuji. Tapi sangat wajar mengingat Ayla yang melakukannya. Justru jika Ayla blushing karena rayuan receh Regal, itu baru tidak wajar.
Tak lama nasi timbel yang dipesan Regal datang dengan minum teh manis hangat. Mereka menunggu beberapa saat sebelum memakan nasinya yang masih panas.
Moment satu malam di kota Bandung yang tidak ada istimewa-istimewanya. Namun siapa yang tau, di kemudian hari, hal itu adalah kenangan yang tersimpan manis dalam ingatan, atau pun yang berusaha di buang mati-matian oleh Regal ataupun Ayla.
***
Pagi-pagi sekali para siswa sudah kembali berkumpul di ballroom hotel untuk menikmati sarapan yang sudah disediakan. Agenda hari ini, yang merupakan hari terakhir, adalah kunjungan industri ke beberapa tempat yang ada di Bandung. Tidak lagi memakai pakaian formal, para siswa kini menggunakan seragam putih abu berikut blazer sekolahnya.
Pukul delapan lewat lima belas menit, seluruh siswa telah berada di dalam bus. Motor Regal dinaikan ke dalam bus setelah mendapat ijin dari kepala jurusan Pemasaran.
Beberapa siswa tampak mengeluh karena keberadaan motor Regal yang mempersempit ruang gerak di dalam bus, lantaran motor tersebut benar benar berada di atas bus, bukan di bagasi. Karena bus pariwisata ini tidak mempunyai bagasi yang luas untuk menampung sebuah motor, sehingga motor Regal harus di bawa naik ke atas bus, dan di taruh di tengah tengah ruang kosong yang seharusnya bisa menjadi tempat melintas bagi para siswa yang ingin berjalan jalan di dalam bus untuk mengunjungi kursi lain.
Regal tak terlalu ambil pusing, dan tetap memasang wajah tak bersalah. Ia tetap bisa duduk di bangku bus dengan nyaman meski banyak orang yang mengeluh dengan keberadaan motornya itu. Ia hanya membalas : “Yee, bilang aja lo ngiri kan, semalem gak bisa jalan jalan jauh karena gak ada kendaraan? Gue mah bisa keliling Bandung karena bawa motor.”
Dan sahutan tersebut sukses memancing emosi anak anak lain.
Ayla tak terlalu menanggapi huru hara yang di buat Regal dan motornya itu, ia memilih untuk tidak terlibat sama sekali, karena para siswa pun tidak terlalu memperhitungkan keberadaannya. Dalam satu bus ini memang berisi satu jurusan, sehingga dua kelas di gabung ke dalam satu bus. Dan Regal memang mengenal semua siswa di jurusan pemasaran meski tidak pernah sekelas sekali pun. Tidak seperti Ayla, yang meski sekelas pun tidak terlalu kenal.
Kunjungan pertama adalah Pasar Cihampelas dan Cibaduyut, Pasar yang pernah berjaya dimasanya. Para siswa dibiarkan berkeliling sekaligus mencari tau, mengapa kedua pasar yang dahulu digemari masyarakat Bandung atau wisatawan, kini sudah tidak terlalu ramai. Hasil dari penelitian mereka harus dikumpulkan dua minggu setelah hari ini.
Ayla berjalan dengan teman temannya, ada Chica, Azrial, Satrya, Fahlan, serta Regal yang turut mengikutnya. Setelah cowok itu bersama Lita tentunya, baru lah ia bergabung dengan Ayla dan kawan kawan.
Tugas kali ini memang di bebaskan untuk berkeliling dengan siapa saja, tanpa perlu di bentuk kelompok kelompok dari guru. Sehingga mereka bisa berkeliling bersama sama tanpa pusing harus sekelompok dengan siswa yang tidak akrab akrab amat dengan mereka.
“Gak bareng cewek lo, Re?” tanya Fahlan, saat Regal baru saja bergabung dengan mereka, dan mengekor di samping Ayla.
“Barusan dari sana, mau haha hihi sama temen temennya dulu, jadi gue cabut aja deh. Temen Lita ciwi ciwi ambis semua, yang di haha hihi in pun isinya tugas semua, keburu ngebul gue.” Regal mengeluh, menceritakan tentang pacarnya itu yang merupakan siswa akuntansi yang terkenal sebagai juruan yang isinya anak anak pintar. Sedangkan pemasaran adalah kebalikannya.
“Capek banget liat Regal gampang nempel ke cewek satu, loncat ke cewek lainnya. Gue yang baik hati dan setia mau nyari satu aja susah banget.” Azrial berkomentar tentang Regal yang mudah untuk dekat dengan cewek cewek di sekolahnya, atau pun di sekolah lain.
Cewek cewek yang di dekatinya juga seolah tidak sadar atau menerima saja dengan reputasi Regal yang mudah nemplok ke sana sini, buktinya mereka mau jalan dengan Regal. Azrial membandingkan dengan dirinya yang tidak banyak tingkah, tapi tidak banyak juga cewek yang bisa ia dekati.
“Emang lo nyari, Yal? Perasaan lo nemplok mulu sama Satrya.” Ayla menyahuti ucapan Azrial, yang di setujui oleh teman temannya dengan riuh, lantaran topik Azrial Satrya yang memang selalu menarik untuk di bicarakan karena kedekatan mereka yang selalu membuat orang orang salah paham.
“Diem lo, La! Masa gue nyari cewek laporan sama lo sih!” Azrial yang tidak terima segera membantah ucapan Ayla dengan nada emosi.
“Kasihan sih gue sama Satrya, ganteng sih, tapi cewek cewek jadi takut kan mau deketinnya. Kareana di kira gak normal, soalnya bareng bareng terus sama Azrial.” Chica turut menambahkan ucapan Ayla, dengen memperkeruh suasana.
“Bilang aja lo mau deketin gue, iya kan, Ca?” Satrya kini menyahuti ucapan Chica dengan melemparkan umpan pada cewek itu.
Chica menatap Satrya dengan tatapan seolah Satrya aneh sekali. Lalu cewek itu berkata, “Idih! Yaudah ayuk, pacaran deh yuk.” Kata Chica semakin menggoda Satrya yang memang terkenal sebagai cowok paling ganteng di genk mereka.