Part 4 - The Secret Book

1008 Kata
"Buku apa ini? The Secret Book?" ucap Lily. Melihat ada sesuatu yang baru, Rosy mendekati Lily. Ia turut melihat buku yang sedang dipegang oleh Lily. Lily membukanya. Namun, begitu ia membuka halaman-halaman selanjutnya, ia dan Rosy tiba-tiba tersedot ke dalam buku itu. Tak berapa lama kemudian, Lily dan Rosy sudah berada di alam yang berbeda. Lebih aneh lagi, mereka jatuh di depan seorang laki-laki yang sedang tertidur pulas. Dialah Cleon. Lelaki tampan itu. Mereka sangat bingung dengan keadaannya sekarang ini. Kini, mereka mulai merasa takut. "Aku dimana? Ini berbeda dengan hutan yang aku masuki. Sebenanarnya ini dimana? Dan kamu siapa?" Lily bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan terkaget melihat ada laki-laki yang tidur pulas di hadapannya. "Ah, s**l!" Ucap Rosy. Mata Lily memandangi ke atas dan sekeliling. Tempatnya memang sama seperti hutan, tapi perbedaan sangat mencolok dari hutan yang ia masuki. Hutan kala itu terlihat sangat gersang. Banyak sekali pohon-pohon tumbang. Tak sedikit pula tanaman bekas terbakar. "Siapa yang melakukan ini? Ah, sebenarnya ini dimana? Aku takut sendirian ya Tuhan. Aku dimana sebenarnya?" Lily sangat cemas. Ia mencoba mencari jalan keluar. Lily berjalan kemana saja kakinya melangkah. Sesekali matanya memastikan keadaan sekitar. Langit dengan sinar matahari begitu terik. Tak ada gelap pepohonan yang menutupi hutan. Sebuah bayangan gelap menghantuinya dari belakang. Lily merasa tambah takut. Ia balikkan tubuhnya ke belakang. "Siapa itu? Hey!! Siapa?" teriaknya. "Berhenti teriak, cerewet!!" Ucap Rosy. "Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia orang jahat? Apa yang harus aku lakukan?" "Hello!!! Apa ada orang di sini?" Lily mencoba memanggil ke seluruh hutan, tapi tak ada jawaban satu pun. "Percuma saja kamu memanggil orang di sini!" ucap Rosy kesal. Teriakan Lily membangunkan Cleon. Karena terkejut, Lily melanjutkan berjalan. Ia berjalan dengan penuh kehati-hatian. Sebuah ranting jatuh hampir mengenai tubuhnya. Ia terkejut dan sangat kaget. Lily dan Rosy pun berlari sekencang-kencangnya. "Hei, tunggu!!" Ucap Cleon. Wajah Lily panik. Ia melihat sekelilingya kembali. Namun, tak ada siapapun yang memperhatikannya. Kecuali Rosy di sampingnya. Lily mencoba bangkit kembali. Merapikan bajunya. Tak luput, merapikan ikat rambutnya. "Aku harus keluar dari tempat ini! Ya, harus keluar! Aku akan cari tahu sendiri jalan keluarnya!" Lily mulai sedikit berlari. Rosy meskipun terlihat kesal, ia mengikuti Lily. Lily melihat sekelilingnya. Sebuah sungai yang sangat kotor. Baunya pun mulai menyengat. Sangat tidak nyaman untuk hidungnya. Sungai itu mengalir tak begitu deras. Lily merasa tambah bingung. Bagaimana mungkin tempat ini begitu sangat menyedihkan? Hutan dengan pohon-pohon yang tumbang? Tumbuhan yang terbakar dan mati layu? Sungai yang sangat bau? Sebenarnya tempat apa ini? "Kenapa tempat ini sangat menyedihkan, padahal tak ada siapapun di sini?" "Tak mungkin tempat ini menjadi rusak, kalau tak ada manusia di sini. Ya! Aku harus cari tahu!" Lily mulai bertekad dan sedikit merasa lebih baik. Meskipun ia terkenal dengan gadis yang sangat tomboi, sebenarnya ia memiliki hati yang lembut. Lily sangat tidak suka dengan sesuatu yang dirusak tanpa sebab. Apalagi alam ini. Ia sangat mencintai pohon-pohon dan masih belajar agar tak membenci manusia. Lily mengalihkan pandangannya dari sungai yang sangat bau itu. Matanya melihat ke sisi kiri dari sungai itu. "Rumah? Ada rumah di sana! Aku akan coba bertanya padanya. Pasti ada orang!" Ucap Lily. Tak perlu menunggu waktu yang lama, Lily segera berlari menuju rumah itu. "Apakah ini sama seperti rumah tua kecil yang kutemui di hutan? Tapi tampaknya ini lebih terawat. Aku harus bertanya tentang semua ini." Tekad Lily. Ia mengetuk pintu rumah itu. Sampai tiga kali ketukan, tapi tak ada jawaban dari siapa pun. Lily melihat ke kanan dan kiri. Memastikan apakah ada orang lain di sekitarnya. "Rosy... coba kamu yang mengetuk." Pinta Lily. Rosy pun mengikuti arahan Lily. Ia mengetuk pintu sampai tiga kali, tapi tak ada jawaban. Sebuah bayangan hitam melesat jauh di belakangnya. Lily langsung menengok ke belakang. Namun, tak ada apa-apa di belakangnya. Saat ia kembali menatap ke depan, ia jatuh seketika. Seekor ular muncul tiba-tiba dan hampir menggigitnya dari depan. Tak disadari, ia sudah pingsan di depan rumah itu. Lily dibawa Rosy dan seseorang yang tiba-tiba datang menolongnya. Mereka bertiga pun masuk ke rumah itu. Lily masih belum sadar juga. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rosy mulai kesal dan membangunkannya secara paksa. "Hei! Bangun!! Bangun gadis payah!!" Ucapnya membangunkan Lily dengan sedikit menendangnya perlahan. Lily belum juga sadar. Rosy mencipratkan air dan aroma herbal yang sangat menyengat di dekat hidung Lily. Akhirnya, Lily sadar juga. "Siapa kamu?" Refleks, Lily kaget melihat seorang laki-laki berpakaian hitam dan bertopeng itu. "Hey! Siapa kamu?!" Pekik Lily kembali. Lelaki di depannya hanya diam. Tubuhnya tinggi semampai. Dagunya tegas. Wajahnya juga memiliki rahang tegas yang cukup menawan siapa saja yang melihatnya. Lily dengan wajah yang cemas terus saja menghardiknya. Seakan tak peduli apakah laki-laki di depannya itu laki-laki yang jahat atau justru sebaliknya. "Hey!! Aku bertanya padamu. Siapa kamu, hah?! Kenapa tiba-tiba ada di sini?!!" pekik Lily. "Heh!! Jawab!! Aku bertanya padamu!!" Karena merasa tak mendapat jawaban, Lily yang sedang emosi, memukul lengan laki-laki itu. Bugg!!" "Aww!!" Dia hanya merintih sebentar, dan kembali terdiam menatap Lily. "Hallo!!! Apa kamu tak mendengar suaraku?!" "Sudahlah, Ly... aku pikir dia bukan laki-laki jahat. Lihat saja wajahnya," sanggah Rosy. Sejenak, Lily mencoba mendengarkan perkataan Rosy. Matanya kembali memerhatikan laki-laki di depannya itu dari atas sampai bawah. Seolah-olah Lily ingin benar-benar memastikan laki-laki di depannya adalah laki-laki yang baik. Laki-laki yang tak patut dicurigai kejahatannya, setidaknya. Lily perhatikan dari tatanan rambutnya, baju yang dikenakannya, hingga sandal yang juga sangat lusuh. "Ehm, iya sih. Ndak meyakinkan juga kalau ada tokoh jahat sepertimu," gumam Lily. "Sudahlah. Kau bersikap biasa saja dengannya," saran Rosy. "Tunggu!! Bagaimana kalau dia menyamar, Ros?" "Bisa saja dia pura-pura berpenampilan seperti ini agar orang lain tak percaya dia laki-laki yang jahat?" cecar Lily. "Gimana? Penjahat yang hebat katanya akan dikenali sebagai bukan penjahat. Alias orang biasa saja. Bisa jadi 'kan?" Rosy mendengus sebal. Ia tak sampai ingin membantah Lily kembali. Akhirnya, ia memilih diam dan mengucapkan kata yang membuat Lily juga diam. "Yasudahlah, terserah kau!" Ucap Rosy. "Ros, aku cuma kawatir, Ros. Aku cuma ingin pastikan saja dia gak macam-macam. Apa itu salah?" "Heh! Lagian kamu ditanya siapa kenapa diam saja, hah?!" Pekik Lily sebal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN