"Ya! Aku punya rencana besok kita pergi ke arah timur," ucap Cleon sembari menunjuk ke arah yang dituju.
"Kenapa kamu yakin? Memang ada petunjuk apa?" cecar Lily berusaha mematahkan pendapat Cleon.
"Kamu percaya aku ndak? Kalau iya, ya jalan. Kalau gamau yaudah."
Lily terdiam sejenak. Sesekali menundukkan kepala. Dipikirkannya baik-baik apa yang ditawarkan laki-laki asing di depannya itu.
Bagaimana mungkin semudah ini harus percaya petunjuknya? Bahkan, hutan ini benar-benar tercemar atau tidak, itu juga masih tanda tanya.
Sejauh mata memandang, tak ditemukan tanda-tanda hutan yang rusak. Pepohonan masih tumbuh menjulang. Bahkan, beberapanya seolah menutupi hutan. Langit membuat tak kelihatan.
"Gimana? Cepetan!" tegas Cleon.
"Aku ikut!" seru Rosy.
"Rosy? Kamu yakin?"
"Ya. Apa boleh buat. Tak ada pilihan lain. Kita sudah sampai di sini. Tak ada yang bisa kita lakukan selain mengikutinya. Ya 'kan?"
Cleon hanya memandang sekilas.
"Lebih baik kita segera bertindak. Selesaikan misi dan segera kembali. Bukankah sesimple itu?"
"Apa kau mau mati kelaparan di hutan belantara ini, hah?!"
Lily menggelengkan kepala. "Aku capek. Bisakah kita istirahat sebentar?" pinta Lily.
"Capek?!"
Lily menganggukkan kepala.
"Yasudah, kita istirahat di sana!" Cleon menunjuk sebuah pohon rimbun.
"Kenapa harus di sana? Disini kan juga bisa."
"Bisa nggak sekali ini gak protes? Aku lebih tahu tempat ini! Mau percaya apa ndak?!"
"Ish! Menyebalkan!!"
Lily pun akhirnya pasrah saja mengikuti arah yang ditunjukkan Cleon. Seperti biasa, Cleon sejenak menundukkan wajah sembari menyembunyikan senyuman sekilas itu. Seolah begitu bahagia melihat Lily kesal.
Sayang sekali, Lily tak memerhatikan gerak Cleon. Ia hanya berfokus pada kekesalannya saja.
"Sudah. Ini tempatnya. Kamu lapar?"
"Heh! Aku bertanya padamu!" pekik Cleon.
"Biasa aja ngomongnya dong! Gausah sok galak!"
"Bukannya saat pertama kali kita bertemu, kamu yang galak? Hum?"
"Jadi, kamu balas dendam?!"
"Sudah. Jangan banyak omong. Duduklah. Bersandarlah pada pohon ini. Tempat ini aman. Aku akan pergi sebentar," tutur Cleon pamit.
"Heh! Mau kemana?! Kau meninggalkan kami di sini? Tidak sedang menjebak kan?"
"Heh!!"
"Sudahlah. Kita istirahat saja. Mungkin, dia mau carikan kita makanan. Bukankah dari tadi perutmu bunyi?" ucap Rosy.
"Aih, iyakah?" Lily menahan malu.
Semilir angin masih bisa dirasakan di daerah yang ditunjuk Cleon. Sejenak, Lily pun duduk di bawah pohon.
Menyandarkan kepalanya sejenak, menikmati semilir angin yang begitu menyejukkan segala angan dan ingin.
Ia membuka kuncir rambutnya. Membiarkan rambutnya terurai, agar tak menghalangi kepalanya bersandar pada batang pohon itu.
Beberapa saat kemudian, matanya terpejam. Barangkali, lapar juga jadi bahan terbaik seseorang ingin tidur. Lily pun sudah terpejam hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
"Aih, anak bawel itu, bisa juga diem!" gumam Rosy.
Dari arah samping Lily, seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berjaket wol itu membawakan sesuatu. Ya, aneka buah-buahan segar di kedua tangannya.
Ia memerhatikan Lily dari kejauhan. Entah, apa yang dirasakan laki-laki itu, ia melepaskan sejenak jaketnya.
Kembali berjalan perlahan mendekati Lily. Ia taruh dengan penuh hati-hati aneka buah-buahan yang ia bawa.
"Manis sekali," gumamnya melihat Lily tidur.
Gerimis dan angin kencang tiba-tiba mulai terasa. Cuaca dalam hutan memang tak tertebak. Mungkin, hal itulah yang membuat Cleon berjaga-jaga.
Ia lepaskan sepenuhnya jaket yang tadi hanya dilepas resletingnya. Kini, jaket yang ia kenakan, ia selimutkan pada perempuan yang masih terlelap dalam tidurnya itu. Tak lain tak bukan adalah Lily.
Tak jauh dari tempat tidur Lily, Rosy melihatnya. Ia tak bereaksi apapun. Seperti biasa, wajahnya seolah kehilangan semangat untuk berekspresi.
"Heh! Apa kamu deket-deket?!" pekik Lily tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
"Kamu ngorok!! Makanya aku cek masih hidup apa nggak!" ucap Cleon refleks begitu saja.
"Aku? Aku gak mungkin ngorok! Bohong!!"
"Sudah, gausah bawel! Aku cuma gatega lihat kamu ketimpa gerimis," tutur Cleon.
"Gerimis?"
"Iya. Tadi gerimis dan angin kencang tiba-tiba datang. Kamunya aja yang tidur apa pingsan!"
"Heh, makasih." Ucap Lily pasrah.
"Makan dan lekaslah! Kita harus jalan lagi!!" Seru Cleon.
"Ini untukku?"
"Ya."
"Kamu yang mencarinya tadi?!"
"Sudah. Makanlah. Perutmu harus terisi, biar gak berisik kayak orangnya!"
"Ish!"
"Yasudah. Cepetan!!"
Merasa seperti terpojokkan dan tak punya pilihan, sesaat setelahnya, Lily akhirnya kembali ikut.
"Kamu yakin ini hutan yang rusak? Aku tak melihat tanda hutan ini tercemar. Semua pohonnya masih rindang," ucap Lily mengawali perjalanan mereka bertiga.
"Nanti kutunjukkan yang mengerikan!"
"Hah? Mengerikan? Apa ada monster disana?"
"Lebih dari sekadar monster!!"
"Apa maksudmu?!"
"Sudah!! Gausah kebanyakan bicara! Ikuti saja aku!" Seru Cleon berlagak angkuh. Meski diam-diam, ia kerap kali tersenyum mendengar protes dari Lily.
"Mana? Kita hampir satu jam! Kau membohongi kami?!" Protes Lily.
Celon hanya terdiam dan terus melangkah. Lily dan Rosy berjalan di belakangnya.
Setelah sekitar satu jam perjalanan, kini mulai tampak mata. Jalan yang mereka lalui mulai berbeda.
Tanahnya tak seperti semula. Lebih terasa gersang. Suara burung-burung mulai tak terdengar telinga. Di atasnya, hanya tumbuh pohon yang kering kerontang.
Sepertinya, seseorang telah menebangnya begitu saja. Tapi, siapa yang melakukannya? Beberapa warna tanah hitam. Agaknya, bekas suatu kebakaran. Ah, tunggu sebentar. Kebakaran atau pembakaran?
"Apa ini? Inikah yang kau maksud, Cleon?"
Cleon berbalik arah dan menghadap Lily dan Rosy.
"Ya. Lihat 'kan? Sangat jauh berbeda dari tempat kita semula. Semuanya kering kerontang. Tanah mulai gersang," tutur Cleon mulai menjelaskan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Lily berkata dengan mata yang mulai berkaca.
"Siapa yang tega melakukan ini? Apakah disini ada manusia lain?" Cecar Lily.
"Ya."
"Lalu? Apa yang harus kita lakukan?!"
"Aku sebenarnya tak tahu. Aku sudah mencoba melawannya, tapi sepertinya energiku tak cukup."
"Lalu? Kau mau ajak kami kemana? Melawan mereka? Dimana mereka? Disini terlihat sepi!" Protes Lily.
"Aku akan mengajak kalian ke kakekku di sana!"
Cleon menunjukkan sebuah gubug tak jauh dari mereka berdiri.
"Kakek? Kau punya kakek di sini?"
"Sebenernya bukan kakekku. Tapi kupanggil kakek. Beliau bilang suatu hari aku akan bertemu kawan dari dimensi manusia yang akan membantuku," jelas Cleon.
"Mungkin itu kalian."
"Maksudnya? Kita harus melakukan bersama?"
"Entahlah. Lebih baik kita langsung pergi ke gubug kakek. Kita minta penjelasannya. Ok?"
"Yasudah. Aku tak punya pilihan lain."
"Tumben, langsung setuju," gumam Cleon.
"Apa kamu bilang? Aku denger!" Seru Lily.
"Tidak, ko. Tak apa. Sudah, cepat! Kepalaku bisa sakit denger kamu cerewet!"
"Awas, ya!"
Pertengkaran kecil kembali mulai terjadi antara Cleon dan Lily. Sementara, Rosy hanya mengikuti saja kemana arah Cleon melangkahkan kaki.
Apa yang sebenarnya akan dikatakan kakek di gubug itu? Benarkah itu akan jadi petunjuk mereka bertiga agar selamat dan kembali ke dunia nyata?