"Duaarr!!"
Suara tembakan kembali dilayangkan ke langit oleh salah satu laki-laki di depan Bu Ratmi.
Sementara, dalam kejauhan Rosy masih tertegun. Ia menundukkan kepala, seakan menata ingatannya.
"Suara tembakan itu? Kenapa mengingatkanku? Ah, ayah... ayah kenapa pergi?" Gumam Rosy.
Sebelum dunianya menjadi gelap, Rosy remaja yang ceria dan cukup bahagia. Dikelilingi kasih sayang ayah dan ibunya. Namun, semuanya berubah. Kejadian itu bermula dari kepergiannya ke Villa dan ia yang kemudian hilang.
***
Senyum penuh ketulusan terpancar dari Rosy. Putri satu-satunya dari Adiwira Pandhega. Hidup dalam keluarga harmonis, begitu Rosy syukuri. Hari-hari Rosy selalu ceria. Penuh warna. Adi, ayahnya selalu membelikannya buku dan cat warna. Entah mengapa dua benda itu pula yang membuat masa remaja Rosy berwarna.
Ketika Rosy kecil akan tidur, Keira—Ibunya Rosy selalu membacakan dongeng untuknya. Begitu penyabar dan amat penyayangnya ia. Bahkan, suatu saat Rosy tak bisa tidur. Dengan penuh kesabaran, Keira terus membacakan cerita pengantar tidur untuknya. Ia seorang ibu yang lembut, sabar, dan amat menyayangi Rosy. Meskipun, bukan anak kandungnya.
Meski hari ini tak ada lagi dongeng yang dibacakan oleh Ibunya, Rosy tetap menyayanginya. Memang bukan saatnya lagi dibacakan dongeng. Rosy kini menginjak dewasa. Ia berumur enam belas tahun.
"Sebentar lagi kamu sweet seventeen, sayang. Kamu pengin kado apa?" tanya Keira.
"Rosy gak pengin kado apa-apa, Mah"
"Buku? Juga tak mau?"
"Kalau boleh, Rosy kangen didongengin Mamah."
"Ouh... Rosy kangen dongeng Mamah? Hihihi." Ibunya setengah tertawa.
"Pah... lihat anak kita. Sudah besar tapi penginnya didongengin. Ini karena siapa si?" Tanyanya setengah meledek.
"Rosy suka sekali dengan cerita Rapunzel. Rosy pengin diceritain lagi, Mah. Boleh, yah?"
Keira melirik Adi, suaminya. Ia tersenyum.
"Iya, sayang. Boleh. Nanti malam Mamah ceritain."
"Yeeey!! Asiik!"
"Gemesin aja si. Sudah besar juga."
"Gapapa dong."
"Iya... iya."
"Makasih, Mah." Rosy beranjak ke kamarnya.
"Rosy..." ayahnta memanggilnya.
"Iya, Pah? Ada apa?"
"Rosy mau ikut Mamah dan ayah malam ini?"
"Memang ada apa, yah?"
"Lupa, yah? Ini hari spesial."
"Ehm... apa yah. Kok Rosy lupa. Emang apa, Pah?"
"Nanti malam adalah wedding anniversary Mamah dan ayah. Rosy ikut yah?"
"Waaah... maaau. Emang mau kemana, Ayah?"
"Kita ke Villa di puncak. Rosy masih ingat Villa yang pernah kita datengin pas Rosy SD? Sudah lama banget, si. Tapi tenang aja. Papah sudah suruh orang bersihin."
"Yakin, Pah?"
"Iya, dong?"
"Maah?"
"Iya, sayang?"
"Mamah ikut juga 'kan?"
"Iya, dong."
"Yeey!! Yaudah, Rosy mau siap-siap dulu yah."
"Iya, sayang. Istirahat dulu. Tidur siang. Biar nanti fit. Ok?"
"Ok, Ayah."
"Makasih ya, Sayang. Sudah menemaniku selama ini." Ucap lembut Maria pada suaminya.
"Iya, Sayang. Ayah juga ya. Terima kasih sudah tulus menyayangi anak kita, Rosy."
***
Sore menjelang malam, Rosy sudah siap akan pergi ke Villa yang dijanjikan Papahnya. Begitupun juga dengan Mamahnya. Dress warna biru dan outer kimono kesukaanya pun melekat sempuran di tubuh Rosy. Senyum Maria memandangnya penuh kasih.
"Kamu cantik sekali, Nak," ucap Keira.
"Makasih, Mah. Kan Mamah juga cantik. Iya kan, Pah?"
"Iya nggak yah?" Ledek Adi.
"Ih, Ayah."
"Iya-iya. Ayuk berangkat. Keburu malem ntar. Gelap. Di sana sepi."
"Emang sesepi, Yah? Tapi masih aman 'kan?"
"InsyaAllah aman. Ayuk buruan. Mah, Rosy. Kita masuk ke mobil."
"Siap, Yah!"
Rosy berlarian menuju mobil. Menaruh koper kecil untuk beberapa hari menginap di sana. Kebetulan, berdekatan dengan hari Natal. Adi memutuskan merayakan Natal disana.
Dress berwarna burgundy melekat indah pada Keira. Polesan lipstik yang natural, kian menambah keanggunannya.
"Yah, di Villa ada tetangga sih?"
"Ada supermarket ndak? Atau minimarket? Toko buku?"
"Sayang... ini bukan Mall. Tapi Villa. Masak ada toko buku?"
"Ya... kan nanya, Mah. Siapa tau deket sama toko buku. Jadi kalau boring kan keluar ke toko bukunya. Iya gak, Yah?"
"Iya, Nak. Ide bagus. Tapi disana gak ada toko buku. Ada sih... "
"Waah apa, Yah?"
"Kalau kamu bikin sendiri! Hehe."
"Ih, gak lucu ah."
"Lagian, kamu ada-ada aja nanyanya, Nak. Villa itu dulu dibuat Ayah buat menyendiri. Menikmati udara alam yang sejuk. Biar tenang. Makanya jauh dari keramaian."
"Uhmm gitu. Iya, sih. Kebanyakan juga kegitu. Cuman kalau bosen gimana? Buku di rumah udah tak baca semua. Gak ada hiburan lagi."
"Tenang. Sebentar..." Adi mengambil sesuatu dibalik plastik di samping kursinya.
"Naaah, ini dia!"
"Waaah buku baru! Yey! Makasih, Yah."
"Ayah tahu kamu nanti bakal nanya ini. Tapi seneng banget kamu jadi jatuh cinta sama buku."
"Yaiyalah Ayahnya aja suka baca." Sindir istrinya.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki area pegunungan. Deretan rumah-rumah warga yang amat sederhana mulai nampak. Terlihat beberapa warganya tersenyum ramah, saat Rosy membuka kaca jendela sambil melihat sekitarnya.
"Mah, sejuk sekali suasananya. Orang-orangnya juga kayaknya ramah-ramah. Lihat deh, mereka tersenyum ke Alana, Mah."
"Iya, di sini kan masih kental kulturnya. Orangnya pun biasanya ramah-ramah. Jadi nanti kalau Alana mau pergi dulu, tetep harus pamit yah?"
"Ok, Mah. Sudah sampe kah?"
"Belum, kita masih memasuki sekitar sepuluh menitan lagi, Sayang."
Langit berawan abu gelap mulai menyelimuti sore itu. Gerimis mulai datang. Kabut pekat menumpuk di udara kala itu.
"Waah... indah sekali. Kabutnya tebal. Tapi dingin." Celetuk Rosy.
"Pake jaketnya, sayang. Sebentar lagi kita sampai." Perintah Adi.
"Nah... akhirnya sampai."
Tibalah Rosy dan Ibunya di suatu Villa. Dindingnya berawarna putih perpaduan biru. Bangunannya didesain seperi kombinasi khas Belanda dan Jawa.
Selesai mengambil koper di bagasi, Adi mengajak anak dan istrinya masuk.
"Assalamualaikum..."
Diikuti salam juga dari Rosy dan Adi.
"Assalamualaikum.... Subhanallah... indah sekali pemandangannya."
"Oh ya, Pah. Berarti kalau mau ke tetangga di yang Rosy temui tadi yah, Yah?"
"Iya, Nak."
"Wahh lumayan jauh juga."
"Ehmm beneran aman, Ayah?"
Rosy memerhatikan ke sekitar Villa. Pepohonan tinggi besar dan aneka flora tumbuh subur di sekitar Villa. Mata Rosy seolah memerhatikan tiap detail sekitarnya.
"Ayuk, masuk. Nungguin siapa, Alana?"
"Eh, enggak, Pah. Iya, Alana masuk."
Mereka bertiga mulai masuk di Villa itu. Cat warna putih dan perpaduan khas retro, turut menambah nilai estetik bangunan itu.
Kebahagiaan menyelimuti wajah Rosy. Ibunya menemani ia melihat kembali suasana di Villa itu. Tak ada raut sedih sedikitpun. Sampai suatu peristiwa membalikan semua bahagia hari itu.
"Ayah, Mamah siapin dulu yah buat malam nanti."
"Iya, Mah."
"Ayah... Rosy penasaran dengan pemandangan di luar. Boleh nggak Rosy keluar sebentar?"
"Tapi masih kejangkau Villa aja ya, Nak? Papah kawatir kamu tersesat."
"Iya, Yah. Rosy deketan ko. Sambil...baca buku yang dikasih Ayah." Rosy menunjukkan buku yang diberikannya.
"Hati-hati, Nak"
"Iya, Yah. Assalamualaikum."
"Sama Mamah?"
"Sebentar yah. Rosy mau ijin Mamah dulu."
"Mah..."
"Iya, Rosy? Ada yang bisa Mamah bantu?"
"Ehmm...."
"Kenapa, Rosy?"
"Ehmm... Alana mau pamit bentar, Mah."
"Kemana? Cuma diteras deket Villa ko. Rosy penasaran pemandangan di sekitar Vila."
"Yaudah, Nak. Hati-hati, yah. Mau bikinin Mamah juice?"
"Boleh, Mah."
"Alpukat?"
"Iyes. Mamahku sayang."
Rosy pun keluar Villa itu dengan membawa buku hadiah dari Ayahnya. Tidak ada satu rumah atau Villa yang berdekatan. Satu Villa dan lainnya jaraknya cukup jauh. Meski tak sejauh dari warga sekitar yang seperti dilihat Rosy dalam perjalanan.
Sebuah ayunan masih kokoh di halaman Villa itu. Rosy pun duduk dengan tenang disana. Kabut mulai sedikit memudar. Bersamaan dengan gerimis yang mulai tak terasa. Namun, karena Villa ini berada jauh dari kerumunan warga atau Villa lainnya, nuansa pekat cukup bisa terasa.
Adi merebahkan tubuhnya di sofa tamu. Keira yang baru saja membuat minuman menuju ke dekatnya.
"Ini sayang. Kopinya."
"Makasih, yah."
"Alana masih di luar?"
"Iya. Tadi pamit mau baca buku keknya. Biarin lah. Kangen mungkin dia."
"Duduk dulu, Sayang."
"Kenapa, sih Yah?"
"Kangen gak sama Villa ini?"
"Ehm, kangen."
"Papah juga. Ini seperti prasasti tersendiri bagiku. Kalau aku pergi duluan, tetep rawat Villa ini baik-baik yah?"
"Apaan sih, Pah."
"Ini kan Annniversary pernikahan kita. Gapapalah sedikit mengingat hakikat hidup bukankah kembali pada Tuhan 'kan?"
"Iya, Ayah. Mamah juga tahu. Tapi jangan bahas gitu ah."
"Yaudah... yaudah."
"Oh iya, lupa. Jus Alpukat punya Rosy. Sebentar yah, Sayang." Keira beralih ke dapur mengambil jus alpukatnya.
Rosy masih asyik membaca buku. Tak disangka, dua orang tak dikenal mengintainya dari belakang. Salah satu dari orang itu semakin mendekat, dan secepat kilat membius mulut Rosy. Rosy sempat kaget dan ingin meminta tolong. Namun, ia mulai lemas dan tak sadarkan diri.
"Ehmm.. Maaah... Paah... tolong." Suaranya mengecil dan tak terdengar lagi.
"Mah? Denger sesuatu minta tolong gak si?"
"Ehm gak, Pah."
"Seperti suara Alana. Papah keluar dulu, yah."
Saat melihat keluar rumah, di sana hanya ada buku Rosy yang tergeletak di atas rerumputan.
"Rosy?! Kamu dimana, Nak?" Teriak Adi.
"Ada apa, Pah?" Keira menyusulnya dengan jus alpukat di tangannya.
"Rosy, Mas. Rosy ndak ada. Lihat, hanya bukunya yang tergeletak."
"Rosy? Kamu dimana, sayang?" Cemas mulai menggelayuti wajah mereka.