Curi-curi Pandang

1343 Kata
Ezra tersenyum kikuk ke arah Axel lalu menoleh sekilas ke arah Rayya, dia tahu calon istrinya itu sudah sangat marah padanya tapi Ezra hanya bisa melambaikan tangan ke arah Rayya sebelum pria itu keluar dari mobil. Axel memperhatikan punggung Ezra yang semakin menjauh dari mobil. Setelah Ezra benar-benar sudah masuk ke dalam gedung pencakar langit itu barulah ia kembali menoleh ke arah Rayya yang duduk di belakang dengan wajah datar yang sedang berusaha menahan tangis. "Pindah ke depan! kalau posisi kita seperti ini, aku merasa seperti supir saja!" tegas Axel. "Baik Pak Direktur..." jawab Rayya. Rayya keluar dari mobil lalu pindah ke depan, duduk di sisi Axel. Ia sudah tak punya tenaga lagi untuk membantah sahabat kekasihnya itu sekaligus atasannya kelak. Begitu Rayya duduk di depan, Axel mulai melajukan kendaraan besi itu. Mobil sedan hitam itu terus berjalan membela jalanan. Sesekali Axel melirik ke arah Rayya, dia tahu wanita itu terpaksa mengikuti dirinya. "Wajahmu kenapa? kau sepertinya sangat terpaksa mau membantuku?" tanya Axel. Rayya yang sejak tadi hanya menatap jendela menoleh ke arah Axel. "Mana mungkin saya terpaksa pak Direktur, perintah anda adalah tugas bagi saya," jawab Rayya. Axel terkekeh. "Aku bahkan belum menjadi atasan mu, aku belum di lantik menjadi Direktur, kalau tidak suka kau bisa menolaknya tadi." "Bagaimana mungkin saya bisa menolak kalau Ezra yang atasan saya saja tidak bisa menolak keinginan anda, kalau anda tahu saya tidak suka dengan perintah anda, sebaiknya anda saja yang pengertian," sindir Rayya. Axel menyeringai. "Kau sangat blak-blakan ya..." ucapnya pelan, namun Rayya masih bisa mendengar jelas ucapan Axel. Rayya hanya tersenyum getir lalu kembali menoleh ke arah jendela. Axel berusaha meredam kejengkelannya. Tanpa sadar sesekali ia melirik ke arah Rayya yang memalingkan wajah darinya. Jelas sekali wanita itu berusaha menghindari bertatapan dengannya. Axel dapat melihat wajah Rayya yang tergambar dengan garis-garis lembut yang mengalir tenang. Matanya berbentuk almond, memancarkan cahaya hangat seolah menyimpan seribu cerita yang tak terucap. Alisnya melengkung halus, memberi kesan anggun tanpa berlebihan. Hidungnya kecil dan proporsional, berpadu serasi dengan bibirnya yang tipis namun berwarna lembut, seperti senyum yang baru saja lahir. Kulit wajahnya tampak putih, halus dan bercahaya, seakan disentuh sinar pagi. Poninya jatuh perlahan membingkai wajah, menambah kesan feminin dan menenangkan. Seperti setiap detail wajahnya digambar dengan penuh perhatian, bukan hanya menampilkan kecantikan fisik, tetapi juga menghadirkan aura keanggunan dan keteduhan yang membuat siapa pun ingin menatapnya lebih lama. "Kalau di lihat-lihat, gadis ini memang cantik walaupun menyebalkan, apa karena itu Ezra bertahan dan setia dengannya selama sepuluh tahun, aku jadi iri pada Ezra yang bisa mencintai seorang wanita selama itu." batin Axel. Tanpa sadar Axel terus mencuri-curi pandang ke arah Rayya sampai ia tak fokus dengan jalanan yang ramai. Begitu sadar mobil mereka hampir saja menabrak sepeda motor di depan, dengan cepat Rayya menyadarkan Axel. "Pak Direktur! lihat ke depan pak!" teriak Rayya reflek menggenggam lengan kekar Axel. Citt... Ban mobil berdecit keras saat Axel mengerem mendadak. "Aakkhhh..." Rayya berteriak sekeras mungkin. Syukurnya kepalanya tidak sampai membentur dashboard mobil begitu pula dengan Axel. Jantung Rayya berdebar kencang dan Axel berusaha mengatur napasnya. "Ma-af..." ucapnya pada Rayya. Axel menepikan mobil sembari menenangkan dirinya. "Ada apa dengan anda Pak Axel!!! kenapa anda tidak fokus menatap jalanan! malah terus memperhatikan saya!" bentak Rayya tak lagi dapat menahan kekesalannya. Mata Axel membola. Ternyata sejak tadi Rayya tahu kalau dirinya terus memperhatikan kekasih sahabatnya itu. "I-itu...itu karena kemeja yang kamu pakai tidak cocok dengan warna kulitmu, kau jadi terlihat pucat," ujar Axel beralibi. Rayya mendelik. "An-da memperhatikan hal tidak penting seperti itu, saya tidak menyangka seorang calon direktur memperhatikan penampilan karyawannya seperti itu," ujar Rayya. Tanpa sadar gadis itu bahkan sudah melotot ke arah calon atasannya itu. "Te-tentu saja, kamu akan menjadi pegawai saya, saya ini orangnya perfeksionis, jadi saya selalu memperhatikan hal kecil terutama penampilan," jelas Axel mulai kelimpungan memberi jawaban pada Rayya. Rayya menoleh menatap kemeja yang ia pakai. Menurutnya kemeja berwarna baby pink justru sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih. Ia merasa tidak terlihat pucat justru ia merasa lebih terlihat segar. Tapi ia tak punya alasan lagi untuk menentang ucapan Axel. Rayya menarik napasnya dalam. "Baiklah pak...mulai besok saya akan lebih memperhatikan warna pakaian yang akan saya pakai." "Bagus kalo begitu," ujar Axel bernapas lega karena pada akhirnya Rayya tak lagi menaruh curiga padanya. Axel pun mulai melajukan mobil sedan berwarna hitam itu. Suasana di dalam mobil kembali hening dan Axel tak lagi berani mencuri-curi pandangan ke arah Rayya. Mobil itu akhirnya tiba di salah satu mall yang memiliki banyak butik dari brand ambassador terkenal. Axel memarkirkan mobilnya di basement. Rayya sudah lebih dulu keluar dari mobil seakan-akan wanita itu sudah tak sabar ingin segera berjauhan dari Axel. Sedangkan Axel yang merasa sedikit gerah, membuka jas yang ia kenakan, ia bahkan membuka beberapa kancing kemejanya dan menggulung lengan kemejanya hingga siku. Setelah itu barulah pria itu keluar dari dalam mobil. Tampak Rayya yang terlihat canggung berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di d**a, tubuhnya terus bergoyang seakan-akan memberi kode kalau ia ingin segera menyelesaikan tugasnya. "Ikuti saya!" perintah Axel. Rayya mengangguk lalu mengikuti Axel dari belakang. Pria itu berjalan dengan penuh rasa percaya diri, Rayya tidak bisa memungkiri kalau pesona Axel memang luar biasa, itu terbukti dari tatapan para wanita yang berpapasan dengan mereka. "Sok kegantengan!" umpat Rayya dalam hati. Tetapi ia hanya bisa mengikuti pria itu dan tetap memberi jarak. Tanpa menoleh ke arah Rayya, Axel masuk ke sebuah butik dari brand Channal. Salah satu brand ternama yang merupakan brand favorit sang mama. Rayya melihat sekilas butik tersebut. Dia tahu itu adalah salah satu brand ternama yang menjual produk dengan harga fantastis. Axel memanggil seorang karyawan butik. "Tolong bawakan saya beberapa koleksi dress dan tas terbaru kalian," perintah Axel sudah duduk lebih dulu di sofa tempat dimana para tamu menunggu dengan kaki yang menyilang. Rayya hanya berdiri di belakang sofa. "Baik Tuan," jawab salah satu karyawan toko tersebut. Tak membutuhkan waktu lama, karyawan tersebut langsung membawa tiga koleksi dress terbaru dan 5 koleksi tas terbaru. Mereka menunjukkannya satu persatu pada Axel dan menjelaskan kelebihan setiap produk, baik itu warna maupun ukuran. Axel menunjuk ke salah satu dress berwarna putih. Tapi baginya untuk mengetahui baik-buruknya model dress yang akan di beli, haruslah di coba langsung ke tubuh seorang wanita. Axel menoleh ke belakang. "Rayya, tolong kamu coba dress yang berwarna putih itu," pinta Axel. Rayya mendelik. "Ha... mencobanya pak?" "Ya...apa saya harus mengulang ucapan saya atau pendengaran telinga kamu memang kurang baik ya?" sindir Axel. Ia sudah kembali menatap ke arah dress yang akan di coba oleh Rayya. Rayya menggertakkan giginya, apalagi ia bisa melihat jelas karyawan butik pun tampak sedang menahan tawa karena sindiran Axel padanya. "Ba-ik pak." jawab Rayya. "Silahkan kemari Nona..." ajak karyawan butik yang sedari tadi sedang berusaha menahan tawa. Rayya dan karyawan butik tersebut pun masuk ke ruang ganti. Rayya menyuruh karyawan butik itu untuk keluar karena dia bisa memakai dress itu sendiri tanpa bantuan. Sebelum memakai dress yang berwarna putih dengan bahan selembut sutra itu, Rayya terlebih dulu melihat price tag. Mulutnya langsung menganga dan matanya melotot. "Harganya $3500!!!" ucapnya sedikit berteriak. Rayya langsung menutup mulutnya. Ia akan mencoba dress yang harganya lebih dari 50 juta rupiah. "Dasar gila!" gumamnya. Tapi ia tak punya pilihan lain selain mencoba dress mewah itu. Ia mengenakannya dengan hati-hati karena ia tak mau merusak dress itu, harga dress itu setara dengan gajinya selama 5 bulan. Sambil mengenakan dress, Rayya terus mengomel. "Yang bener aja harga dress sampai 50 juta, aku beli baju harga sejuta aja mikir!" gumamnya. Setelah memakai dress itu, Rayya melihat pantulan dirinya di cermin. Dress itu sangat pas dengan ukuran tubuhnya, namun sedikit ketat di bagian d**a. Selama ini Rayya memang lebih menyukai pakaian ataupun kemeja yang longgar karena dia sadar kalau dia memiliki ukuran d**a yang cukup besar dan berisi. Bila sebagian wanita bangga memiliki ukuran p******a yang besar dan berisi, berbeda dengan Rayya, dia malah selalu ingin menyembunyikannya. Rayya berusaha memperbaiki bagian depan dress tersebut agar tidak menonjolkan bagian payudaranya. "Barang mahal emang beda ya...rasanya sangat lembut saat dress ini menyentuh kulitku, tapi bagian dadanya kayaknya sangat ketat." gumamnya pada diri sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN