Dedaunan melayang rendah terbawa angin, jatuh ke tanah, terseret angin lagi, dan berhenti di depan sepasang sepatu kets hitam bertali putih. Lilith mengangkat pandangannya, menangkap sepasang mata hitam sedalam sumur kuno yang sangat magnetis. Senyum Lilith melengkung sempurna, menikmati wajah maskulin yang berjarak sepuluh langkah darinya. Luka di sudut rahangnya menambah pesona, semakin menguatkan kesan maskulin yang lelaki itu pancarkan. "Lilith," sapa sang lelaki, langkahnya perlahan mendekat, menuju wanita yang duduk di kursi taman dekat kolam buatan. "Mas Reza." Lilith berdiri, menyambut kehadiran lelaki di hadapannya. Tujuh tahun lima bulan. Setelah penantian panjang, akhirnya Reza bisa menghirup udara bebas. Menatap matahari terbenam di bawah cakrawala langit, bersenandun

