Liam duduk di apartemen minimalis miliknya, menyesap rokok dengan pandangan nyalang. Tiga puntung rokok berserak di atas asbak, dengan abu gelap yang menyertai. Fajar baru saja menyingsing. Matahari sebentar lagi terbit. Malam berlalu berganti hari. Namun, tak ada lagi perbedaan bagi Liam. Siang. Malam. Semuanya sama. Panas. Hujan. Tak ada yang bisa mempengaruhi suasana hatinya. Sejak Lilith pergi dari hidupnya, Liam seperti cangkang kosong yang menunggu hancur perlahan. Jatuh kembali dalam dunia malam, menjalani hari-hari seperti robot. Insomnianya semakin parah. Tak jarang Liam terpaksa menggunakan pil tidur untuk mengistirahatkan tubuh. Namun, semakin lama tampaknya obat tidur tidak lagi efektif. Liam harus meningkatkan dosisnya dua kali lipat. Mimpi buruknya semakin menjadi-j

