Beberapa hari berlalu, Steve mencoba mencari kesempatan untuk menemui Jessica. Sang wanita pembawa batu birunya. Pagi itu, dia menunggu di depan kompleks perumahan, di seberang rumahnya. Hampir dua puluh menit dia berdiri disana. Kemudian mobil merah milik Jessica itu terlihat dari kejauhan. Steve melambai-lambai padanya. Jessica pun menghentikan mobilnya. Jessica membuka kaca jendelanya. “Ada apa?” tanya dia pada Steve. “Tidak, hanya ingin bertemu denganmu,” jawab Steve. “Hemmm, naiklah. Ikut aku ke kantor. Kita bicara disana saja,” ucap Jessica. Steve pun naik ke dalam mobil. “Kenapa ingin bertemu denganku?” tanya Jessica. “Aku hanya, eng,” Steve bingung, dia harus beralasan apa. “Kangen aku?” tebak Jessica. “Hahaha, tidak tidak, tidak seperti itu,” jawab Steve. “Ehm, bai

