Damian terkejut bukan main. Sosok yang seharusnya terkena lesatan peluru itu berpindah seperti hembusan angin. Tak terlihat. Mengejutkan. Kini sosok itu tengah mendekap mulutnya dari belakang. Mengunci pergerakannya. Tubuhnya tak mampu bergerak. Karena pikirannya juga kalut. Bingung harus berbuat apa. Rasanya kali ini Damian ingin meminta tolong. Tapi tak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Sosok yang ada di belakangnya terdengar tertawa. Tertawa penuh kemenangan. "Apa sekarang kau ingin memohon bantuan? Mengemis bantuan?" Damian menggeram. Ia tak bisa melakukan perlawanan, kedua tangannya dikunci, tubuhnya terasa kaku, mulutnya dibekap. "Kau bisa bayangkan, kau ada di posisi para korban yang telah kau jebloskan ke bui tanpa kesalahan yang mereka lakukan. Mereka ingin meminta to

