Sakit mati rasa. Rasa mati sakit. Sakit rasa mati. Mati sakit rasa. Rasa sakit mati. Mati rasa sakit. “Masyallah....” Feny terkaget, ia langsung menoleh dan mendapati Azzura sudah berdiri di belakang. “Kenapa? “ bingung Azzura. “Hem, gak, itu.. “ “Kamu suka buat puisi kontemporer?" “Ha? Apa? Puisi? “ Azzura makin bingung. Dahinya menujukan hal itu dengan jelas, berkerut. “Kamu nulis puisi itu kan selama materi? “ Pandang mata Feny, langsung menyoroti kertas yang sejak tadi ia coret-coret. Feny sama sekali tidak menyadari bahwa ia menuliskan sebuah kalimat apa lagi puisi. Raganya memang ada di sana tapi jiwanya entah berkelana di mana. “Ah, ini, itu—“ “Kenapa? Mau berbagi cerita? “ tanya Azzura. Feny menghela nafas panjang, wajah gadis itu makin kentara menyakinkan Azzura s

