Belinda Pov
Kami sudah berada di bandara Soekarno-Hatta, memang perjalanan kami di Jogja tak seindah yang kami bayangkan. Namun aku tetap bahagia karena bisa bersama Hans disana.
"Sampai rumah langsung istirahat! Jangan bandel! Aku ga suka lihat kamu membangkang, ini demi kesehatanmu!", omel Hans yang khawatir dengan kondisiku
"Iya sayang",
Aku hanya bisa menurutinya agar ia tak terlalu khawatir padaku.
Sampai di apartemen, Hans membawakan semua barangku ke kamar dan menyuruhku beristirahat.
"Sudah, sekarang kamu tidur ya?",
"Iya, aku ganti dulu.. Aku ga bisa tidur kalau pakai baju gini",
"Baiklah, aku ada di ruang kerja jika kamu mencariku",
"Iya Hans",
Hans kembali bekerja meski kami baru saja sampai di Jakarta. Tentu aku tahu bahwa ia sangat lelah karena terus bekerja. Aku berinisiatif untuk membuatkannya teh hangat, agar ia bisa rileks saat bekerja. Namun saat ku ketuk pintu, tak ada jawaban darinya. Dengan ragu kubuka pintu ruang kerjanya, aku melihat ia tertidur pulas di sofa yang ada disana.
'Hans, kau sudah bekerja terlalu keras', batinku
Aku menaruh secangkir teh hangat di atas meja kerjanya dan kembali ke kamar mengambil selimut untuknya.
"Selamat tidur, Sayang", bisikku
Cup... Satu ciumanku mendarat di pipinya
"Aku mencintaimu", ucapku lirih
Aku kembali ke dalam kamarku, dan tidur.
***
Paginya, aku terbangun lebih awal. Badanku sudah terasa ringan dan juga lebih segar. Aku beranjak dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi.
Usai membersihkan diri, aku memakai mini dress tanpa lengan dengan corak bunga. Dan keluar dari kamar, kutengok ke ruang kerja dan masih terlihat Hans tertidur pulas.
Akhirnya aku menuju dapur dan membuat sarapan untuk kami. Aku lihat ada roti dan juga smoke beef. Kubuatkan sandwich untuknya dan secangkir kopi. Setelah siap, aku kembali ke ruang kerjanya dan membangunkannya perlahan.
"Sayang.. Bangun", bisikku
"Ehmm.. Five minutes sayang...",
"Ini sudah pukul tujuh, kau bisa terlambat ke kantor", lanjutku
"Hmm baiklah.. Aku bangun.. Give me morning kiss", ucapnya manja
Cup...
Bukannya hanya satu kecupan, namun Hans melumat bibirku.
"Kau cantik pagi ini... Apa kau akan pergi?", tanya Hans
"Aku mau ke tempat Femmy..",
"Hmm sebaiknya kamu pakai supir sayang, kondisimu mengkhawatirkan!",
"Hans... Aku sudah sehat... Aku Sudah sembuh sayang... Ayolah... Biarkan aku pergi sendiri",
"Baiklah terserah padamu.. Aku pergi mandi dulu",
"Ya, cepat mandi.. Aku tunggu di meja makan",
Aku kembali ke meja makan dan menunggu Hans disana. Sepuluh menit kemudian ia sudah siap dengan setelan jasnya dan wangi parfumnya sangat menggoda.
"Aku buatkan sandwich untukmu, cepat duduk dan makan...",
"Terima kasih sayang",
Aku tersenyum padanya, dan menyiapkan sarapannya.
Selesai dengan sarapannya, Hans berpamitan untuk pergi ke kantor. Sedangkan aku masih di apartemen mencoba menghubungi Femmy.
Ddrrtt... Dddrrtttt...
'Kenapa lo selalu ganggu gue pagi-pagi sih, Bel...',
'Dasar kebo... Bangun... Aku mau main kerumahmu!',
'Sejak kapan gue punya rumah Bel, gue ngekos kale..',
'Whatever, Femmy sayang...',
'Lo bawa oleh-oleh kan buat gue?',
'Tentu dear... Aku ga akan lupa sama kamu.. Aku bawa banyak nih',
'I love you so much... Gue bangun sekarang, Lo buruan otewenya..',
Tut... Tut... Tut..
Text Message
From Hans
'Demi keselamatanmu, sayang. Akan ada lima pengawal yang mengikuti mobilmu, mereka tak akan mengganggu acaramu, hanya melindungimu',
"Apa maksutnya ini?", gumamku
Tok... Tok.. Tok..
Ceklek
"Selamat pagi nyonya, kami utusan tuan Hans untuk menjaga anda, apakah anda akan pergi setelah ini?", ujar seorang pengawal bertubuh atletis dan sangat tampan
Mataku menjadi susah berkedip saat melihat ketampanan pengawal itu. Dan aku menyadarkan diriku dengan menepuk pipiku sendiri.
" Iya.. Aku akan pergi kerumah temanku.. Jaga jarak kalian, jangan sampai aku dan temanku merasa tak nyaman!",
"Baik nyonya",
Aku keluar dari apartemen, diikuti mereka yang berada di mobil lain.
"Ada apa sih, kok Hans tiba-tiba kayak gini", gumamku
Sampai di rumah Femmy aku menyuruh mereka menunggu di mobil saja. Aku tak ingin kosan Femmy menjadi gempar karena pengawal yang aku bawa.
Tok... Tok... Tok..
"Tunggu, Bel!!", teriak Femmy dari dalam kos
Ceklek...
"Masuk Bel.. Loh... Kok pengawal lo jadi makin banyak?",
"Aku jelasin di dalem ya, nih oleh-olehnya",
"Thanks..",
Femmy mengisyaratkan untuk aku memulai cerita.
"Aku sendiri juga ga tau, tiba-tiba Hans memberitahuku kalau akan ada lima pengawal yang mengikutiku",
"Hmm... Apa jangan-jangan pembunuh ortu lo balik lagi dan mau bunuh lo",
"Ihhh serem... Apaan sih Fem!!",
"Ya kalo ga gitu apaan dong? Sampek om Hans kirim lima orang sekaligus",
"Iya juga sih, tapi aku ga yakin kalo pembunuh itu balik lagi",
"Kenapa ga yakin?",
"Karena pembunuhnya udah mati di tembak sama om Hans waktu nyelametin aku",
"Wihhh keren.. Hahaha",
Ddrrtt... Ddddrrrtt...
Hans is Calling...
' Ya Hans?',
'Kamu dimana?',
'dirumah Femmy',
'Maya sudah keterlaluan, ia mencuri uang perusahaan dan meninggalkan surat ancaman mau membunuh kamu, sayang',
'Apa?',
'Orang suruhanku sudah mencarinya, kamu tenang saja. Kamu aman bersama mereka berlima',
'iya Hans'
'Hati-hati sayang, aku kembali bekerja dulu',
Tut... Tut... Tut...
"Ada apa Bel?", suara Femmy mengejutkanku
"Ah.. Maya sekertaris om Hans, kemarin dia di pecat dan sekarang membawa kabur uang perusahaan dan mengancam akan membunuhku",
"Kok serem gitu sih, Bel.. Lagian apa urusannya sama Lo?!",
"Maya suka sama on Hans, karena dia juga salah satu wanita pemuas om Hans dulu di ranjang",
"Astaga... Begitu toh... Trus lo mau apa sekarang?",
"Kita shopping yuk?",
"Wait, lo bilang tadi mau ada yang bunuh lo, tapi kenapa lo malah ngajakin belanja sih?!",
"Hehehe... Habisnya aku di Jogja cuma tidur di rumah sakit, ga sempet belanja",
"Hah? Rumah sakit? Nih part yang belom lo ceritain ke gue! Buruan cerita, lo habis kenapa?",
"Aku keguguran, Fem.. Usia kandungan hampir dua minggu",
"Astaga Bel!! Dan sekarang lo mau jalan-jalan? Lo gila ya! Istirahat sono di rumah!! Bukannya kelayapan kek gini!!",
"Ihh... Kamu lebih cerewet dari pada om Hans... Jadi males nih... Aku bosen di rumah sendirian Fem...",
"Kan lo bisa suruh gue main kesono ogeb!!",
"Ga pernah ada yang mau main ke tempatku!, katanya jauh!",
"udah lain kali gue aja yang main, ato sekarang kita beli makanan buat di apartemen om lo deh",
"ya udah ayok".
Aku dan Femmy kembali ke apartemen bersama lima pengawal.
Sebelum sampai di apartemen, aku berhenti di sebuah resto fast food dekat apartemen, aku memesan banyak makanan disana, untukku dan Femmy.
Akhirnya sampai di apartemen, Femmy melotot melihat betapa besarnya apartemen yang ku tinggali bersama om Hans.
"Serius yang tinggal cuma kalian berdua?",
"Iya,dulu ada Chris. Sekarang cuma aku dan om Hans",
"Angkat tangan!!", suara Maya di balik pintu kamarku
"Maya!! Kau gila!!",
"Ssttt... Aku tau.. Tapi aku seperti ini karena gadis kecil sepertimu!!",
"Woi mbak! Bisa ngomong baik-baik ga sih?!",
"Banyak bacot kamu!! Ngomong sekali lagi ku tembak mulutmu!",
Aku sangat bingung dan panik saat itu. Namun aku berusaha menekan ponselku untuk memanggil Hans.
Tit...
Ddrrtt.... Dddrrttt...
Calling Hans....
'Syukurlah aku berhasil melakukan panggilan', batinku
" Cepat kemari anak manis!, aku ingin berbicara padamu!!", ucapan Maya terdengar seperti ingin segera mengakhiri hidupku
"Ini, kamu ikat temanmu itu", lanjutnya
Aku hanya menurut padanya, aku tau Hans pasti mendengarkan percakapan kami.
"Fem, kamu tenang aja ya. Aku gapapa kok. Aku iket nya juga ga akan kenceng-kenceng, kamu cari cara ya buat kasih tau pengawal di depan pintu", bisikku
"Ga usah banyak bacot, sayang!! Buruan!!",
"Apa maumu?",
"To the point banget ya kamu!, aku mau nyawamu! Tapi aku mau bermain dulu denganmu, jadi sini ikut aku ke kamar",
Maya menarikku ke dalam kamar dan menguncinya.
Ceklek... Ceklek...
Maya mendorongku hingga aku jatuh di atas ranjang, aku melepaskan tas selempangku dan menaruhnya di atas nakas. Hingga satu tamparan mendarat di pipiku.
Plak..
"Aahh...Sakit ...",
"Sakit? Masih sakit mana dengan aku?! Aku lebih sakit karena melihatmu menguasai Hans!!",
"Kau cemburu? Hans hanya menganggapmu sebagai pelampiasan nafsu saja!",
Plak...
"Ternyata mulutmu sangat tajam, aku tak mengira jika Hans akan tertarik pada anak kecil dengan d**a rata",
Aku hanya bisa diam menahan sakit dibujung bibirku. Tamparannya cukup keras, untuk wanita ular seperti Maya.
Aku hanya bisa berharap Hans cepat datang dan menyelamatkanku.
"Menangislah... Setelah Hans datang mungkin kau yang tak akan bisa melihatnya untuk terakhir kali, karena aku pastikan kau sudah terbunuh",
Ucapannya membuatku merinding, Maya seperti sedang kerasukan iblis. Ia tak bisa berpikir dengan jernih.
"Kau sudah mengambil uang perusahaan, dan sekarang menahanku, apa kau tidak takut setelah membunuhku akan berhadapan dengan kematianmu sendiri?", aku mencoba memberanikan diri untuk berbicara mengecohkan pikirannya
Sayangnya Maya tak semudah itu termakan ucapanku. Ia menamparku lagi, dan kini darah segar mengalir di ujung bibirku. Sakit namun aku mencoba untuk tetap kuat dan bertahan. Aku sudah ernah berad di posisi ini saat ornag tuaku di bunuh, aku hanya berharap bisa lolos lagi kali ini.
Sekilas aku memikirkan Femmy, apakah ia berhasil memanggil anak buah Hans. Atau justru Femmy kesulitan untuk meloloskan diri karena ikatanku yang terlalu kencang.
'Hans, cepatlah datang... Waktu terasa sangat lambat.. Dan aku hampir tidak bisa menahan rasa sakit lagi', batinku
"Bagaimana jika kita bermain sebentar sayang... Aku dengar kau keguguran saat di Jogja.. Tenanglah.. Akan ku buat kau merasakan nikmatnya lagi..",
"Apa yang akan kau lakukan?, kumohon jangan lajukan itu", ujarku gemetar
"Kenapa? Sepertinya kau sedang menginginkannya kan?",
Aku memejamkan mataku, berdoa di dalam hati, agar segera terbebas dari genggaman orang gila ini. Maya benar-benar sudah gila. Ia bahkan tak menghiraukan ucapanku.