Tiga hari berlalu sejak malam penuh gairah itu. Pekerjaan menumpuk di perusahaan milik Arsenio, membuatnya harus berangkat pagi dan pulang jauh setelah malam tiba. Sepanjang hari di kantor, Arsenio tenggelam dalam rapat, dokumen, dan dering telepon yang nyaris tak berhenti. Bahkan saat jam makan siang, ia masih sibuk mengetik laporan penting, sementara ponselnya tak pernah lepas dari genggaman. Di rumah, Mikayla mulai merasa bosan. Setelah membersihkan apartemen, memasak makanan sederhana, dan mandi air hangat, ia hanya bisa memeluk bantal di ranjang, menatap layar ponselnya yang sepi dari pesan Arsenio. Rasa rindu pelan-pelan berubah jadi kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Sebuah ide nakal muncul di kepala Mikayla. Ia ingin memancing perhatian suaminya—bukan dengan keluhan, tapi denga

