Air dari shower sudah berhenti, tapi tubuh mereka masih saling menempel, basah dan hangat. Arsenio mengangkat Mikayla dengan mudah dalam pelukannya, membawanya keluar dari kamar mandi tanpa bicara. Mikayla melingkarkan tangan di leher pria itu, menyandarkan kepala di dadanya yang hangat. Napas mereka masih belum stabil, tapi tak ada amarah lagi di antara mereka. Hanya ada kelelahan dan sisa-sisa hasrat yang mulai berubah menjadi ketenangan. Selimut lembut menyambut tubuh mereka saat Arsenio menurunkannya perlahan di atas ranjang. Mikayla menyusup ke bawah selimut sambil menatap wajah pria itu yang kini duduk di tepi ranjang, mengusap rambutnya pelan. “Aku tidak menyesal meluapkan semuanya tadi,” ucap Mikayla pelan. “Aku memang marah. Aku memang cemburu. Dan aku benci kau membuatku merasa

