Part 13 Janar Menginginkanku Sebagai Ibunya

1650 Kata
Seminggu setelah Birendra mendatangi rumahku, ia menghubungiku lagi untuk bicara empat mata--katanya tapi aku tidak yakin karena ia mengajakku ke kafe yang baru di mana ada taman bunganya. "Ping, ini ada surat panggilan dari pengadilan. Kok masih ngeyel juga sih nyonya Geni itu." Aku ambil surat beramplop putih itu dan membukanya. Ternyata besok lusa aku harus menghadiri persidangan, entahlah nyonya Geni tetap bersikukuh untuk melanjutkannya. Padahal aku sudah jelas bertanya dan berkonsultasi pada seorang pengacara lainnya jika nyonya Geni tak mungkin bisa mendapat hak asuh Janar. "Kamu mau pergi ke mana, Ping?" tanya Rita melihat aku sudah berganti gaun. "Birendra mau menemuiku di kafe yang baru," jawabku pelan. "Wah nggak sangka ya pria itu mengejar kamu terus padahal ia sudah punya tunangan," goda Rita mengerlingkan mata. "Sudah aku jelaskan padamu, Rit. Ia tidak mengejarku tapi hanya mau bertemu saja," sanggahku menyela perkataannya yang tak masuk akal. "Ini sudah ketiga kalinya kalian bertemu, kan? Pasti akan terus berlanjut," Ping." Cukup ini saja terakhir kali aku bertemu dengan Birendra, jangan sampai ada kelanjutannya. "Ya sudah sana pergi. Nanti kamu terlambat," usir Rita membantuku memasang kaki dan berdiri. Surat panggilan itu aku simpan di lemari agar tidak ketahuan oleh Janar. Aku tak ingin anak itu berpikiran jahat mengenai neneknya. Tak ingin terlambat, aku segera melangkahkan kaki dan berangkat. Seharusnya aku hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja ke tempat yang tertuju. Namun karena macet, akhirnya setengah jam aku ke sana. Benar kata pecinta kuliner tempat ini memang unik dan nyaman apalagi untuk dibuat berfoto ria. "Selamat datang, Bu. Mau ruang dalam atau luar?" Sang resepsionis bertanya dulu sebelum aku memesan meja. "Di luar, Mbak. Sudah ada teman saya yang menunggu di sana." Resepsionis berpakaian biru tua itu mengangguk dan mengantarkan aku ke ruangan bagian luar. Luas sekali tempat makan ini hingga ada di lantai dua juga. Di bagian luar terdapat tanam dan air pancuran sehingga menambah suasana romantis jika berpasangan. "Silakan, Bu. Saya tinggal dulu." Sepeningga gadis tadi, aku berjalan pelan mencari keberadaan Birendra. Taman ini cukup luas dan tak mudah hanya dengan mengedarkan pandangan saja jadi aku melangkah perlahan untuk mengetahui tempat duduknya. "Ping, aku kan sudah kirim pesan. Tunggu aku di depan saja. Lihat kamu sekarang jalan kesusahan." Aku tak tahu jika ada Bi di belakang dan ia segera menuntunku mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari aku berdiri. Wajahnya menunjukkan kecemasan ketika melihatku berkeringat padahal aku baik-baik saja. "Aku nggak tahu kamu kirim pesan, Bi. Ponselku dalam keadaan getar," sahutku memerhatikan kecemasan Bi dan ia menyuruh pelayan untuk mengambilkan minuman. "Ini kafe milik kamu, Bi?" Aku bertanya-tanya sebab para pelayan di sini mengenal Bi dan mereka menunduk hormat. Tak mungkin jika mereka mengenal nama pengunjungnya, kafe ini baru berdiri empat bulan lalu dan saat pembukaan begitu meriah. "Tidak usah dihiraukan," ucapnya datar sambil mengaduk teh krisan untuk aku minum. "Sombongnya kamu, Bi. Pantas pelayan sini kenal sama kamu." Melihat raut wajah tegangnya aku mengajaknya bercanda. Ia hanya melirikku dan menyerahkan teh tersebut agar aku segera meminumnya. Tak ingin membuatnya cemas akhirnya kuterima meski aku tak seberapa suka. "Lain kali aku jemput kamu saja kalau mau bertemu," kata Bi dengan tegas. Aku melongo mendengar penegasan dari Bi jika ia ingin bertemu denganku lagi lain kali. Aku malah berharap ini terakhir aku berjumpa. Ternyata ucapan Rita benar kalau Bi akan terus mencari cela hanya untuk bertemu. "Jangan Bi! Aku tak mau kamu ke rumahku lagi. Cukup ini pertemuan kita yang terakhir ya." Aku menolaknya secara terang-terangan. "Kenapa memangnya? Kamu takut sama suami dan anakmu?" "Aku berani mengajak kamu karena kamu temanku. Aku hanya ingin menjalin pertemanan," timpal Bi mengungkapkan perasaannya. "Aku akan meminta ijin sama suami dan anakmu boleh ikut kalau mau." "Dave dan aku tidak terikat apapun, Bi. Dia ayah kandung Janar dan aku hanya ibu asuhnya." "Lalu di mana istrinya?" tanya Bi mencondongkan tubuhnya agak sedikit menghadap aku. Bi antusias menyimak cerita mengenai siapa Janar sebenarnya, tetapi satu hal yang tak mau aku ceritakan padanya yaitu tentang masa lalu kelam yang pernah kumiliki. Dengan keyakinan penuh, aku percaya Bi akan sama seperti pria lain yang pergi menjauhi. Tinggal menunggu waktunya. "Lalu kamu udah bertemu dengan pengacara yang bisa menangani kasusmu?" Aku menggeleng. Boro-boro mencari, pengacara yang aku kenal malah berada di bawah yayasan sama dengan pengacara yang dipakai nyonya Geni. Aku tak tahu dari mana beliau mendapatkan seorang pengacara terkenal di kota ini. Aku pikir itu dari teman arisannya. "Tunggu sebentar. Aku mau menelepon seseorang dulu." Birendra agak menjauh dariku, kurasa rekan bisnis yang ia telepon. Ia masih menemuiku meskipun dirinya sibuk harus mengurus perusahaan dan juga bisnis kafe ini yang berjalan sukses. Aku bangga padanya karena aku sering melontarkan perkataan pedas, tetapi tak pernah marah malah tertawa. "Sudah selesai, Ping." Birendra berkata dengan kalimat yang mengambang. Aku memberengut tak tahu apa maksudnya. "Selesai apanya, Bi? Makannya?" "Oh, ya maaf. Kalimatku nggak kamu mengerti." Nah lihatlah Bi, masih saja menertawaiku jika aku tak tahu apapun. "Aku sudah menghubungi pengacara yang kompeten untuk menangani kasusmu. Jadi nggak usah khawatir apapun ya, Pingping." Bi menyerahkan kartu nama dari advokat di kota ini. "Tapi Bi, aku nggak bisa membayar semahal pengacara di tempatmu, Bi." Aku tahu pengacara kenalan Bi orang yang dapat dipercayai dan memiliki kemenangan mutlak. Namun sekelas Berlian Advokat, itu hanya untuk golongan atas alias yang banyak uang dan aku tentu tak bisa. "Ini gratis, Ping. Dia kenalanku kok." "Kalau gratis, itu artinya aku berhutang budi dong sama kamu." "Kamu hanya perlu menemaniku kalau aku ingin bertemu sama kamu. Nggak boleh nolak." Benar bukan? Mana ada di dunia ini gratis kecuali napas yang diberikan Tuhan. Aku ingin berusaha menghindar dari Bi, tetapi ternyata tetap tak bisa. Mungkin setelah masalah Janar selesai, pelan-pelan aku akan melakukannya. Pergi sejauh mungkin dari kehidupan Bi. Kami menghabiskan dua jam di kafe ini hanya untuk makan dan saling mengobrol satu sama lain. Ia mengatakan jika menyukai Janar yang tak kekanak-kanakan dan dewasa di usianya yang belum menginjak dua belas tahun. Aku memang mendidiknya keras agar kelak ia tumbuh menjadi pria kuat. ***** Dalam perjalanan pulang ke rumah, ada pesan masuk dari Dave. Ia menyuruhku segera sampai karena sesuatu telah terjadi. Aku diliputi rasa cemas, apakah Janar sakit atau jatuh dari sepedanya. Nada bicara Dave sungguh mengkhawatirkan. "Ada apa, Dave?" tanyaku padanya di teras. Aku bergegas masuk dan lupa menutup pintu mobil. Hati ini sudah cemas tak beraturan. "Janar sudah tahu, Ping." "Apanya yang sudah tahu?" Kutatap wajah Dave mencari jawabannya. Seketika aku tahu artinya. Dari mana Janar mendengar masalah hak asuh? "Dari mana Janar mengetahuinya?" Aku bertanya pada Dave yang mengikutiku. Aku belari kecil dan menuju kamar, surat itu masih tersimpan di sana dengan kunci yang aku pegang. Aku tak mungkin mencurigai Rita, ia sendiri yang menyarankan diriku agar menutup rapat masalah ini. "Dari ibuku. Ibu menelepon Janar tadi dan kebetulan aku juga mendengarnya," kata Dave merasa bersalah. "Lalu di mana Janar?" Tak perlu jawaban dari Dave, aku tahu Janar ada di kamarnya. Ia akan selalu berdiam diri di sana ketika memiliki masalah dan kami tidak menganggunya sampai ia benar-benar keluar dari tempat favoritenya. "Janar, ini ibu. Ibu tahu kamu tidak akan membuka pintunya jadi biarkan ibu bicara dari sini. Janar dengarkan baik-baik ya." "Janar sudah di kamarnya selama satu jam, Ping. Ia nggak mau membuka pintunya walau aku memaksa," ucap Dave menyerah. "Jangan memaksanya, Dave. Janar bukan anak kecil." Dave memang belum kenal dekat dengan Janar. Ia tidak tahu sifat unik yang dimiliki anaknya suka menyendiri di kamar jika ada sesuatu yang membuatnya marah. Kelakuannya sudah terlihat ketika Janar berusia lima tahun, awalnya aku dan Rita panik karena dua jam Janar tak membuka pintu hanya karena masalah bangku sekolah direbut temannya. "Lalu apa yang ia lakukan di kamarnya?" tanya Dave geleng-geleng kepala mengetahui perilaku Janar. "Hanya diam di sudut meja belajarnya. Rita yang tahu karena pernah mengintip dari jendela kamarnya di depan." Pada akhirnya akulah yang bicara dengan Janar, tentunya harus pelan dan penuh kesabaran. Janar bukan anak kecil lagi yang harus dirayu lalu dibelikan makanan. "Janar, ibu tidak tahu apa yang dikatakan nenek padamu. Tapi ibu yakin dan tahu kalau Janar bisa menyingkapi masalah ini dengan dewasa, bukan?" Aku menyuruh Dave ikutan duduk di depan pintu kamarnya. Ya inilah yang aku lakukan ketika ia marah. "Apapun yang dikatakan nenek, tetaplah memercayai hati nuranimu, Nak. Ayah maupun ibu tetap mendukungmu." "Iya Nak. Jika Janar ingin tetap bersama ibu, ayah akan membujuk nenek membatalkan hak asuh itu," sahut Dave memberi pengertian pada Janar yang belum membuka pintu kamarnya. "Ibu tidak akan memaksa Janar mau tinggal bersama siapa. Ibu akan mengatakannya pada hakim esok dan ayah akan menjadi saksinya." "Iya Nak. Janar sudah dewasa dan berhak mau tinggal dengan siapa ke depannya," imbuh Dave menimpali perkataanku. Tak mudah memahami anak yang akan menginjak remaja. Aku dan Rita bahkan sampai membeli buku untuk mengatasi atau cara memahami remaja. Lucu juga sebab kami sama-sama tak pernah menikah apalagi punya anak. Namun kami tetap berusaha agar Janar tumbuh menjadi anak yang baik. "Ibu dan ayah sudah selesai bicara. Ibu mau masak dulu ya. Kalau Janar sudah tenang, keluarlah. Kita akan bicara lagi." Aku meninggalkan Dave yang masih di sana dan memilih memasak untuk makan malam. Kulihat Dave melihatku dengan tatapan bingung, aku mengatakan padanya tidak usah khawatir karena Janar akan keluar dengan sendirinya. Aku berjanji dalam hatiku, demi kebahagian Janar akan aku lakukan apapun. Meski ia nanti memilih tinggal bersama ayahnya, tak masalah bagiku. Asal aku bisa terus melihatnya. "Ibu ..." Aku menyunggingkan senyum saat ia akhirnya membuka pintu. Dave senang Janar sudah mau keluar. "Iya Nak." Ia mendekatiku di dapur saat aku sedang memasak. "Apa boleh Janar tetap tinggal bersama ibu?" tanya menatapku. Aku teriris saat melihat ada buliran air mata di wajahnya. "Janar akan mengatakan pada hakim untuk tinggal bersama ibu saja. Ayah saja yang ke sini. Apa boleh seperti itu, Yah?" Dave hanya mengangguk dan memeluk anaknya. Hati ibu mana yang tak sedih jika seorang anak lebih menginginkan tinggal bersama ibunya meski aku bukan ibu kandungnya. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN