Part 8 Lihatlah Aku Sesuka Kalian

1722 Kata
["Besok tolong ke rumah saya, ya Mbak Pingkan. Saya hanya mau dirias sama Mbak saja. Saya bayar lebih deh."] Sebenarnya aku enggan untuk datang ke rumah pelanggan, bukan karena sombong melainkan aku membatasi diri dari aktifitas yang membuatku sering jatuh sakit jika terlalu banyak orang yang ingin aku rias. "Nyonya Meina terus menelepon ke sini, Mbak. Saya sudah mengatakan jika Mbak tidak bisa ke rumahnya lebih baik ke salon saja. Namun nyonya Meina memaksa, jadi saya serahkan nomer ponselnya Mbak deh." "Iya tidak apa-apa, Tari." Nyonya Meina orang yang tidak suka jika permintaannya tidak dituruti dan sedikit memaksa. Namun biar begitu, nyonya Meina selalu membayar dengan lebih dan selalu merasa puas dengan riasanku. "Apa perlu saya temani, Mbak. Kebetulan besok Sabtu kan? Saya libur sekolahnya." "Bolehlah Tari. Lagipula saya tidak punya teman di sana." Aku rasa membawa Tari ikut serta tak jadi masalah, gadis itu bisa sedikit meringankan pekerjaanku. Aku senang dengan cara kerja Tari yang gesit dan lincah. Di salonku hanya ada tiga pegawai saja, dua pegawai yang sudah ikut selama delapan tahun. Aku mempercayakan mereka di salon jika sedang sibuk. Tari yang lebih muda, aku tak pernah membedakan para pegawaiku kecuali soal gaji. Karena Tari hanya anak magang yang sebenarnya tak perlu digaji--pihak sekolahnya tak mengijinkan dan aku merasa kasihan jadi aku memberinya untuk sekedar uang jajan ataupun keperluan sekolahnya. "Jam berapa besok, Mbak?" "Nyonya Meina menyuruh saya ke sana pagi. Sebelum jam sembilan, saya jemput kamu di kos." Tari mengangguk, ia langsung mempersiapkan perlengkapan kami untuk esok. Tari yang begitu lincah mengingatkanku pada diri sendiri di masa muda. Ah, kenapa juga aku mengingat kembali kenangan lalu. "Melamun saja terus sampai waktunya pulang," sindir Rita menepuk bahu seraya mengambil segelas teh kotak di lemari pendingin. "Ada apa kamu ke sini, Ri? Biasanya pulang kerja kamu langsung ke rumah." Mana mau Rita datang ke salon jika tidak ada sesuatu yang membuatnya penasaran atau menanyai hal-hal yang ia temui tadi seperti bulan lalu tiba-tiba ia datang ke salon saat ramai hanya untuk bertanya apa Dave sedang berkencan? Hal yang tidak penting, bukan? "Aku bertemu Nona Arletta dan suaminya di kantor tadi. Ternyata mereka juga memiliki saham di perusahaan tempat aku bekerja," katanya memandangku. "Lalu apa urusanmu dengan mereka?" tanyaku cuek, buat apa lagi aku ikut campur dalam kehidupan mereka? "Sepertinya aku akan pindah kerja, Ping." "Bukannya di sana jabatanmu sudah tinggi. Untuk apa pindah, Rit?" Susah payah mencari kerja, Rita malah ingin berhenti. "Aku tidak mau melihat mereka di tempat kerja, Ping. Tuan Janu kemungkinan akan sering ke sana karena direkturku korupsi dan diberhentikan. Aku merasa tak nyaman jika berhubungan dengan mereka." "Apa karena aku, Rit?" Aku duduk menghadap dirinya, aku tahu Rita menyukai pekerjaannya yang sekarang dan tak ingin ia berhenti hanya karena diriku. Rita dan Janu ataupun nona Arletta tak ada hubungannya dengan masa laluku, yang punya masalah dengan mereka adalah aku bukan Rita. "Bukan begitu maksudku, Ping. Hanya saja---" "Tetaplah bekerja di sana, Rit. Mereka tidak ada hubungannya denganmu dan lagipula pekerjaanmu yang sekarang sudah mapan. Masa hanya karena mereka, kamu mau berhenti." "Apa mereka kenal atau menyapamu?" Rita menggeleng,"Aku rasa mereka pura-pura tidak mengenalku." "Anggaplah seperti kamu tak kenal dengan mereka, Rit. Aku yakin pria itu tak akan merundungmu di tempat kerja, ia menilai pekerjaanmu." "Benarkah?" tanya Rita menatapku dengan sungguh-sungguh. Aku mengangguk, aku kenal dengan cara kerja pria yang pernah menjadi bagian masa laluku. Ia menilai pegawainya melalui kinerja mereka. "Sudah ah jangan berhenti dari sana. Perusahaan itu impianmu sejak dulu, kan." Aku menghibur dan memberinya dukungan agar ia tak berhenti dari pekerjaan tersebut. Sayang sekali gelar sarjana yang disandangnya tidak dipergunakan dengan baik, beda denganku yang hanya lulusan biasa saja tidak di kampus mahal. Namun aku bersyukur, paman membiayai kuliahku. "Ayo kita pulang, Rit. Janar sudah di rumah, kasihan anak itu sendirian." "Janar udah besar, Ping. Bukan anak kecil lagi lagipula di rumah kan ada bibi Resti." Jika berurusan dengan Janar, aku bagaikan ibu yang selalu memperhatikan segala hal dalam diri anakku. Aku tak ia terluka atau tersakiti oleh apapun dan hanya menghadirkan kebahagian untuknya. **** Sebelum jam sembilan pagi aku dan Tari sudah berada di depan rumah nyonya Meina sesuai dengan alamat yang diberikan. Tari melongo melihat betapa besar rumah milik pelangganku ini, aku juga baru pertama kali ke sini. "Mbak, ini rumah ya?" tanya Tari tak percaya sambil menggoyangkan tanganku yang dipegangnya. "Ya Tari, ini rumah bukan istana," sahutku menatapnya dengan tersenyum. Aku memaklumi tindakan Tari yang mengagumi dan takjub menginjakkan kaki pertama kali di rumah besar berlantai tiga dan ada air pancur di tengah-tengah taman. Hal serupa yang pernah aku rasakan dulu. "Wah kaya sekali ya Mbak? Memangnya apa sih pekerjaan nyonya Meina?" "Mbak nggak tahu, Tari." Aku tipe orang yang tidak suka menanyai urusan pribadi pelanggan salon meski kami sudah kenal lama. Justru mereka yang sering membuka suara terlebih dulu dan aku hanya menjadi pendengar yang baik saja. "Mbak Pingkan yang mau merias ibu Meina, ya?" Aku mengangguk saat pelayan yang memakai seragam keluar dan menanyai maksud kedatangan kami. Gadis muda itu langsung mempersilahkan kami masuk dan menuju ruangan rias. "Ini memang istana, Mbak. Keren ya? Kapan aku bisa bangun rumah seperti ini?" Tak hentinya Tari memandang takjub dan terheran-heran saat kami masuk juga mengelilingi ruangan mengikuti pelayan tadi. Aku tersenyum sambil menyuruhnya bicara pelan agar kami tak dinilai kampungan. "Silakan masuk mbak. Ibu sudah di dalam menunggu." Kami masuk ke suatu ruangan khusus dan di sana sudah ada nyonya Meina yang masih berpakaian tidur, tetapi aku rasa ia sudah mandi melihat penampilannya yang segar. "Sini masuk, Mbak. Maaf loh merepotkan pagi-pagi udah datang merias saya." "Iya nyonya. Nggak apa-apa kok," sahutku seraya mempersiapkan alat rias. "Ini loh mbak. Anak saya ada buka cabang baru dan ulang tahun perusahaan makanya saya ingin merayakan di rumah ini sambil mengundang tamu juga." "Jam berapa acaranya, Nyonya?" Aku harap acaranya masih lama, karena nyonya Meina tak suka merias terburu-buru. "Masih satu jam setengah lagi kok, Mbak." Untunglah waktunya masih lama setidaknya aku membutuhkan empat puluh menit saja merias wajah juga rambut nyonya Meina. Aku yang mengerjakan semua sedangkan Tari hanya mengambilkan alat-alatnya saja. Nyonya Meina selagi aku rias, tak hentinya ia berbicara mengenai anak dan calon menantunya ataupun menggosipkan kawan-kawan arisannya. Aku dan Tari hanya mendengarkan saja tanpa mau ikut berkomentar. "Sudah selesai, Nyonya." Pekerjaanku cepat teratasi karena Tari ikut membantu. "Sempurna! Ini yang saya suka, Mbak." Nyonya Meina mengagumi riasanku dan tak hentinya ia memandang dirinya di cermin sambil mengambil foto di ponsel lalu membagikannya ke grup. Itu kebiasaan nyonya Meina ketika sudah selesai dirias dan menelepon seseorang di seberang sana. "Terima kasih, Nyonya. Kalau begitu kami pamit dulu." Baru saja kami bersiap-siap, nyonya Meina melarang kami untuk pergi dan menyuruh kami tinggal untuk makan terlebih dulu. Aku merasa tak enak hati karena ini bukan rumahku, tetapi nyonya Meina memaksa. Pada akhirnya kami menurut dan mengikuti pelayan tadi menuju ruang keluarga di mana para tamu sudah berdatangan. "Silakan dimakan Mbak. Kenyangkan perut anda mumpung gratis, Mbak." Entahlah perkataan pelayan itu menyindir atau memang dari dirinya. Apa kami seperti pengemis yang kelaparan? Aku lihat Tari kesal dengan pelayan tersebut, ia tersinggung. "Memangnya aku ini tampak seperti pengemis? Dasar pelayan bicara kok nggak dijaga!" "Sudah Tari. Jangan dimasukkan ke hati, mungkin ia memang seperti itu. Ayo makan saja lalu kita pulang." Kami pun terpaksa mengambil makanan padahal ingin segera pulang ke rumah. Tak nyaman rasanya ditatap atau dipandang oleh tamu nyonya Meina dengan mata yang aneh. Apakah kami tampak seperti alien? Ada yang berbisik ataupun menghindar dari kami jika berpapasan. "Mata mereka lagi sakit, Mbak." Ada suara di belakangku sambil meraih segelas air di meja dekat aku berdiri. "Loh dik Ditha?" Aku terkejut mendapati Ditha, gadis yang pernah aku temui di taman tempo hari. Ia tampak berbeda seperti kemarin, hari ini ia terlihat cantik dengan gaun pendek selutut berwarna tosca dan rambut yang digerai. "Iya ini aku, Mbak. Ternyata mbak yang merias ibu Meina ya?" "Iya Dik. Dik Ditha kok ada di sini?" Mungkinkah Ditha anak atau kerabat dari nyonya Meina? Namun aku menyangkalnya, selama ini nyonya Meina tak pernah bercerita apapun mengenai anak gadisnya. Nyonya Meina mengatakan hanya memiliki satu anak laki-laki. "Ditha ini tunangannya anak saya, Mbak Pingkan." Tiba-tiba saja nyonya Meina muncul dari belakangku, Ditha langsung memegang tangan ibu mertuanya dan bergelayut manja. Mereka tampak akrab sekali layaknya ibu anak sungguhan. "Kok kalian kenal?" tanya nyonya Meina. "Oh itu saya pernah bertemu dengan dik Ditha waktu main di taman dan kami berkenalan karena merasa cocok saat berbincang-bincang." "Memang menantu saya ini orangnya ramah, Mbak. Jadi nggak heran ia punya banyak teman. Teman-teman dari berbagai kalangan," puji nyonya Meina. "Ah, ibu ini ada-ada saja." Aku tersenyum melihat kedekatan menantu dan mertua yang akrab satu sama lain. Tak ada batasan apapun di antara mereka. Ah betapa menyenangkan punya ibu mertua seperti nyonya Meina. "Oh ya saya tinggal dulu ya, Mbak. Itu anak saya sudah datang. Dit, temani tamu ibu dulu ya." Aku mengangguk dan melihat satu sosok pria dengan pakaian santai sedang turun dari anak tangga. Mata kami saling beradu pandang, aku merasa tak kenal dengan pria itu. Namun caranya memandangku, aku tahu ia mengenalku. Tapi siapa anak nyonya Meina itu? ***** Aku dan Tari masih tertahan di sini karena nyonya Meina memintaku menemani Ditha selagi ia dan putranya melakukan sesi foto di rumah sebelah yang kebetulan merupakan studio foto milik fotografer kondang. "Di mana Mbak Ditha, Mbak?" tanya Tari saat mendapati aku sendiri dan ia baru saja ke belakang karena perutnya mulas. "Itu menemui tamu yang lain." "Mbak, ternyata anaknya nyonya Meina itu tampan bak artis taiwan. Senyumannya itu loh bisa membuat hati wanita lumer," bisiknya pelan dengan tersenyum. "Kok kamu tahu, Tar?" Aku saja tidak sempat bertemu dengan anak pemilik rumah ini. Tari malah sudah tahu duluan. Memang si Tari ini suka mengintip. "Tentu saja, Mbak. Aku kan tadi sempat berpapasan di dapur, orangnya ramah dan tidak sombong meski anak orang kaya," sahutnya memberitahu. "Terus aku menyapa, eh dia membalas sapaanku," imbuh Tari sambil tersenyum sendiri. "Kamu tuh masih menyempatkan diri untuk menyapanya. Kalau tunangannya cemburu, bagaimana?" "Ah nggak mungkin, Mbak. Tapi beruntung ya Mbak Ditha bisa bersama pria itu. Coba saja aku atau Mbak yang dinikahi anak orang kaya. Wah bersyukur sekali aku." Aku hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan Tari. Bagiku kekayaan itu sekarang menakutkan, mereka bisa menghancurkan semuanya tak terkecuali kehidupanku saat ini. Kekayaan tak bisa menjamin hidupmu bahagia selamanya. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN