Bonus 45

1521 Kata

Sempat hening ketika ia melihat mamanya datang. Ya mungkin karena sempat lupa dengan tujuannya ke sini. "Kenzie...." Jelas saja mamanya memanggilnya. Perempuan itu yang mendatanginya lebih dulu kemudian memeluknya. Berharap pelukannya akan dibalas. Dibalas? Awalnya tidak. Awalnya masih kaku. Ketika Vani ikut bergabung dengan memeluknya dari belakang, baru ia tergerak untuk memeluk mamanya. Lama sekali mereka seperti itu. Sederhana tapi sanggup membuat air mata mamanya jatuh. Ya saking bahagianya. Karena sudah sangat lama tak bisa melihat Kenzie. Tak bisa memeluknya seperti ini. Ia berlagak tegar selama ini hanya agar Kenzie dapat melanjutkan hidupnya. Ia bahkan tak pernah berpikir tentang hal lain kecuali Kenzie bisa hidup dengan nyaman tanpa gangguan dari keluarganya. Hidup di tengah-t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN