BAB 21. MULAI SALAH PAHAM

1171 Kata
Pagi hari dengan cuaca yang cerah. Secerah senyum Reynand hari ini. Hatinya tengah diliputi perasaan bahagia dan lega. Sebab apa yang ia takutkan tak terjadi padanya. Dan ia akan berusaha untuk membuat Kanaya tak bisa pergi dari sisinya. Bahkan hanya sekedar untuk memikirkannya saja. Reynand akan membuat wanita itu takluk serta tunduk akan semua cinta dan kasih sayang yang akan Rey curahkan. Mobil Rey berhenti di depan pintu masuk loby kantor. Seorang satpam membukakan pintu untuk Reynand. Dan secara bersamaan, Kanaya keluar dari balik pintu penumpang. Reynand berjalan lebih dulu di depan Kanaya. Dengan penuh wibawa serta keangkuhannya. Mata tajam dan wajah datarnya. Rey bahkan tak melirik sedikit pun para karyawannya yang menyapanya. Rey hanya terus berjalan menuju ke lift khususnya. Kanaya yang berada di belakangnya lah yang menyapa mereka. Dengan senyum tipisnya. Ia heran dengan Rey. Apakah harus seperti itu seorang pemimpin di depan para karyawannya? Setidaknya Rey bisa mengangguk kecil sebagai tanda bahwa ia menjawab sapaan karyawannya. Kanaya hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat kesombongan seorang Reynand Pratama. Ya, mungkin menurut Reynand. Ia tak perlu membalas satu persatu sapaan dari banyaknya karyawannya yang pastinya akan menyapanya pagi ini. Melihat betapa besar dan mewahnya perusahaan Reynand ini. Tentunya tidaklah sedikit karyawan yang menggantungkan kehidupannya di tempat ini. Karena bagi Reynand adalah hasil dari pekerjaan mereka. Bukan hanya sekedar basa-basi dan pasti ada pula yang akan mencari muka di depannya. Hei! Ayolah! Dunia ini tidak melulu di isi oleh orang-orang yang baik dan jujur. Meskipun orang baik dan jujur di dunia ini semakin lama semakin sulit untuk ditemui. Entahlah, apa yang menyebabkan perubahan orang-orang tersebut. Hingga tanpa sadarnya menjadi orang yang terkadang tak manusiawi pada sesama manusia. Semoga saja Tuhan segera memberikan pencerahan agar mereka bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Ting Denting pintu lift terbuka. Reynand segera masuk ke dalamnya. Di susul oleh Kanaya di belakangnya. Setelah menekan lantai teratas. Dimana letak kantornya. Tiba-tiba saja Reynand berbalik dan menyambar bibir Kanaya. Sambil memojokkan tubuh mungil tersebut ke dinding lift belakangnya hingga ia tak mampu berkutik lagi untuk menolak serangan Reynand. Tak ingin sia-sia dalam hal melawan Reynand. Kanaya hanya mampu membalasnya. Agar apa yang diinginkan oleh bosnya ini. Supaya ia bisa secepatnya menghentikan aksi Reynand yang nantinya akan membuatnya terkena masalah. Jika sampai ketahuan memiliki affair dengan bosnya sendiri. Dengan enggan, Reynand melepaskan ciumannya. Ia melihat napas Kanaya pun terengah-engah akibat ulahnya. “Sepertinya, seharian nanti aku akan sangat sibuk. Kau bisa makan siang sendiri nanti. Lalu pulanglah tepat waktu. Nanti malam kalau pekerjaanku sudah selesai. Aku akan ke apartemenmu.” Jelas Reynand yang mengusap lembut bibir Kanaya yang basah dan bengkak karena ciumannya tadi. Kanaya hanya mampu mengangguk pelan. Kanaya masih mencoba menormalkan debaran jantungnya yang berdegup kencang. Setiap kali Reynand menciumnya. Selalu seperti ini. Ditambah dengan sentuhan lembutnya yang selalu menjadi candu baginya. Kanaya tahu apa yang akan terjadi jika mereka sampai terlewat batas. Namun tak bisa ia pungkiri. Jika ia sangat mendamba sentuhan itu. Menginginkan hal lebih dari sekedar ciuman dan cumbuan Reynand saja. Tapi ia juga malu untuk mengungkapkannya. Terlebih lagi, ia sendiri yang meminta Reynand untuk tidak melakukannya lebih jauh lagi. Pintu lift terbuka. Reynand segera menarik diri dari Kanaya dan berjalan keluar. Masuk ke dalam ruangannya. Tak lama kemudian. Kanaya juga keluar dari lift dan masuk ke dalam ruangannya. Reynand mulai disibukkan dengan pertemuannya bersama para kliennya di ruang rapat. Sedangkan Kanaya juga sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Hingga tak sadar, jika waktu telah menunjukkan waktunya makan siang. Kanaya membereskan kertas-kertas yang masih berserakan di meja kerjanya. Hingga suara Ratih, teman yang ia kenal selama bekerja disini mengajaknya untuk makan siang di kantin kantor. Kanaya pun mengangguk dan turun ke lantai bawah. Tempat dimana semua karyawan sedang menikmati waktu istirahat mereka dengan makanan dan sejenak melupakan tuntutan pekerjaan yang pastinya menumpuk. Mengingat jika perusahaan Reynand adalah sebuah perusahaan besar yang mempunyai banyak sekali kerja sama dengan perusahaan lain. Sehingga tak ada seorang pun yang bisa bersantai di Perusahaan Reynand ini. Sebab tuntutan kerja keras adalah hal utama yang selalu Reynand tekan kan pada semua karyawannya. Setelah memilih menu makanan. Kanaya dan Ratih nampak duduk di meja yang sama. Sebelum akhirnya, Ratih pamit pergi karena suaminya datang ke kantor. Alhasil, Kanaya makan seorang diri di kantin. Tak lama kemudian. Seseorang nampaknya berdiri di sebelah Kanaya. “Maaf, apa boleh aku duduk disini? Karena semua meja telah penuh?” tanya orang tersebut sopan. Kanaya yang sejak tadi fokus pada makanannya sehingga tak menyadari keberadaan orang lain di tempatnya. Pun sontak mendongak dan mengangguk pelan. Pria tersebut berterima kasih sembari tersenyum sopan ke arah Kanaya. Ia duduk di hadapan Kanaya. “Oh, ya. Perkenalkan namaku Andre. Aku baru hari ini bekerja disini.” Ujarnya berusaha ramah pada wanita dihadapannya ini yang nampaknya cuek saja padanya. Kanaya hanya tersenyum tipis dan menjabat tangannya sekilas. “Aku Kanaya. Sekertaris CEO disini. Semoga betah bekerja Disini.” Sahut Kanaya berusaha ramah pada orang asing di depannya ini. “Pastinya betah dong! Apalagi bisa punya teman secantik kamu di hari pertamaku bekerja. Pasti nantinya aku akan semakin semangat untuk berangkat kerja.” Balasnya dengan nada bercanda. Kanaya hanya mengangguk kecil dengan senyum terpaksa. Ia ingin segera menyelesaikan makanannya lalu pergi dari hadapan pria ini. Benaknya. “Kenapa? Kok kayaknya kamu nggak nyaman yah, duduk sama aku disini? Maaf, yah! Kalau aku mengganggumu.” Ucap Andre yang melihat bahwasanya Kanaya nampak tak menghiraukan dirinya. Dan terlihat tidak suka jika ia terlalu bersikap sok akrab. “Eh? Bukan begitu maksudnya. Aku hanya ingin secepatnya kembali. Karena pekerjaanku sangat banyak hari ini. Dan aku tidak mau jika sampai harus lembur.” Kilah Kanaya yang tertangkap basah memang tidak suka akan sikap Andre yang menurutnya sok akrab begitu. “Oh, gitu. Soalnya aku lihat kamu kayak nggak nyaman gitu. Aku hanya senang bisa punya teman di hari pertama bekerja. Mungkin saja aku yang terlalu banyak berpikir.” Andre terkekeh kecil menyadari kesalahannya sendiri yang mengira jika Kanaya tak nyaman ada dirinya disini. “Iya. Nggak apa-apa kok.” Balas Kanaya santai. Ia merasa tak enak hati pada Andre. Mungkin memang caranya yang seperti itu untuk bisa mendapatkan teman. Akhirnya mereka berdua bisa saling bertukar pikiran tentang pekerjaan. Memberikan sedikit masukan dan saran untuk temannya. Tanpa terasa, waktu istirahat mereka telah usai. Kanaya dan Andre pun berjalan beriringan menuju ke lift. Mereka tengah menunggu lift untuk naik ke lantai atas. Kantor tempat Andre dan Kanaya yang letaknya di lantai paling atas. Saat Kanaya akan masuk ke dalam lift. Tanpa sengaja sepatunya tersandung vas bunga yang ada di depan lift. Membuatnya hampir saja terjerembab ke depan. Beruntung Andre dengan sigap menahannya. Dengan posisi Andre yang seolah memeluknya dari belakang dengan memegangi kedua bahunya. “Ah, maaf. Aku ceroboh. Terima kasih.” Ucap Kanaya yang menegakkan kembali tubuhnya dan masuk ke dalam lift. Sementara Andre hanya tersenyum tipis. Ia juga ikut masuk ke dalam lift. Dan pintu lift pun tertutup. Tanpa mereka sadari. Ada sepasang mata gelap seseorang yang mengamati kejadian tadi dengan emosi yang meledak-ledak. Ia lantas berbalik dan Pergi. Niatnya untuk ikut masuk ke dalam lift. Musnah sudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN