33. KERAGUAN KANAYA

1466 Kata

Pagi hari yang cerah. Dengan sinar matahari yang menembus celah-celah jendela. Keduanya seakan enggan untuk melepaskan kehangatan yang kini tercipta. Tubuh yang tanpa sehelai benang pun, saling berpelukan erat. Menghantarkan rasa hangat dan nyaman yang tercipta dari sebuah pelukan. “Emmhh....” Kanaya melenguh kecil saat jam Beker di nakas sisinya berbunyi. Tangannya pun terulur dan mematikannya. Mengembalikan jam tersebut ke tempatnya semula. Tubuhnya pun berbalik. Kembali menghadap sosok yang semalam membuatnya menjerit-jerit karena perbuatannya. Seulas senyum simpul tampil dalam bibirnya yang membengkak akibat ulah Reynand. Ia kembali membenamkan wajahnya di d**a bidang Reynand. Menatap jejak-jejak tanda kepemilikan di sekitar leher dan d**a Reynand. Senyumnya semakin lebar. Tat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN