“Ah, nyamannya... hangatnya....” Gumam seorang wanita yang kini tengah tertidur dalam sebuah kamar apartemen. Beberapa waktu yang lalu. Kanaya yang terlalu malas membuka matanya. Lebih memilih mengeratkan pelukannya pada sesuatu yang menurutnya sangat hangat nan nyaman. Layaknya sebuah boneka beruang yang besar. Boneka yang biasanya selalu menemaninya tidur. Boneka besar yang dulu dibelikan oleh Reynand. Saat mereka baru saja menjadi sepasang kekasih. “Sebagai ganti aku buat menemanimu tidur.” Ujarnya sambil tersenyum tipis. Tangan Kanaya pun mulai meraba-raba sesuatu yang ia peluk. ‘Kenapa keras yah? Masa sih, d**a boneka keras?’ tanya Kanaya dalam benaknya. Hingga tangannya pun perlahan naik ke atas. Sesuatu yang pertama kali ia sentuh adalah bibir. “Loh? Kok bibir beruang mirip

