-LP15-

1102 Kata
Lumatan yang terus diberikan oleh Xenan membuat Zara sedikit bernafas dengan normal. Dengan cepat Zara pun duduk kemudian menundukkan kepalanya mencoba untuk mengambil sesuatu di saku celananya. Ya, antisipasi yang di sarankan Teo menurutnya tak mungkin terjadi itu, malah membuatnya bersyukur karena mendengarkan apa kata sahabatnya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, akhirnya Zara pun meminumnya dalam sekali teguk. Ia menatap kembali kulit pada tangannya yang masih sedikit kemerahan. Zara kembali menghirup nafas dan menatap ke arah sekitar. "Dia? Target yang harus gue selamatin?" Batinnya seraya memperhatikan wajah Xenan. Seakan teringat sesuatu– "loh? Om? Bukannya yang waktu itu ketemu di sekolah ya?" "Ya, dan kenapa kamu ada disini?" "Tunggu, berarti om... Xenan Gio Macmilan?" "Ya." Tanpa berkata lagi, Zara melepas ikatan pada Xenan. Dilihatnya wajah pucat Xenan namun bibir nya yang pink dan basah— hal itu membuat Zara membulatkan matanya menatap tajam ke arah Xenan. "Om menciumku?" "Aku terpaksa, aku melihat kamu yang kesulitan bernafas—" "Oke, terima kasih atas bantuannya." "Dan kenapa kamu ada disini? Kamu belum menja–" "Itu nanti saja, sebelum mereka kembali, aku harus melepaskan om dulu." Pangkas Zara membuat Xenan mengatupkan kembali bibirnya. "Saya masih muda." "Oke, Gio." Finally, mendapatkan panggilan spesial dari sang pujaan hati. Senyum terukir jelas di kedua sudut bibir Xenan, walau tak terlihat oleh Zara yang kini tengah berusaha melepas ikatan pada tangan nya. Dengan keahlian yang tak di ragukan lagi, Zara pun bisa melepas ikatan itu dalam waktu singkat. "Gio, kamu harus diam di pojokan sana saat mereka datang. Jangan sampai ada yang tau kalau ikatanmu sudah terlepas." "Oke." Zara tanpa sadar mengangkat tangannya kemudian mengelus puncak kepala Xenan. Hal itu jelas membuat Xenan terpaku sejenak kemudian merasa bahagia akan apa yang di lakukan Zara. "Sial! gak ada sinyal." Umpatnya pelan namun masih terdengar oleh Xenan. Tiba-tiba, mereka di kejutkan dengan suara obrolan di ujung lorong membuat Zara dan Xenan kembali ke tempat semula. Zara yang tertidur dan Xenan yang kini berada di pojok ruangan. Derap langkah yang terdengar pun semakin mendekat, hingga suara keduanya yang kini tengah berada di luar pun membuat Zara bersiap. "Ckckckck, body nya bagus juga ni cewek. Sayang harus langsung di serahin ke si bos." "Gapapa kali kalo di coba dulu, pasti udah sering main, dia." Keduanya saling bertatapan dengan seringai yang begitu memuakkan Zara. Xenan yang mendengarnya pun merasa marah. Namun ia mencoba untuk bersabar. Dirinya kini tengah lemah karena hanya di beri air selama satu minggu selama ia di sekap tanpa adanya makanan. Ia merutuki kebodohan anak buahnya yang tak bisa menemukan nya hingga saat ini. Sel tahanan terbuka, keduanya pun mendekat ke arah Zara seraya menatap tubuh indahnya. Ya, siapa yang tak akan tergoda dengan tubuh sexy dan juga cantik seperti Zara. Hanya orang bodoh lah yang mengucapkannya. Mereka membuat Zara terlentang dan— Bughhhh, tendangan yang teramat keras Zara berikan pada lelaki yang berada di hadapannya. Melihat salah satunya hendak kabur, membuat Zara dengan cepat menariknya kembali dan mengunci pergerakannya. Orang yang sebelumnya telah ia tendang pun mulai bangkit kembali. Ia pun menyerang Zara dengan membabi buta, namun dengan lihai ia tepis menggunakan salah satu kakinya. Kedua tangan yang sedari tadi menahan salah satu dari mereka pun terlepas. Dua lawan satu dan itu tak seimbang. Dengan lawan dua orang pria dewasa berbadan besar dan ia hanya seorang gadis tanpa senjata. Namun salah, kini tangannya memperlihatkan sebuah pistol yang pasti milik salah satu dari mereka. "KAU!!!" teriaknya seraya menodongkan pistol ke arah Zara. Bughhhh, tendangan pada lengan pria itu membuat pistol yang sebelumnya ia genggam pun terjatuh, dan itu tepat di hadapan Xenan. Perlahan tapi pasti, Xenan mengambilnya tanpa menarik perhatian mereka. Ia melihat betapa lihainya Zara melumpuhkan kedua penjaga itu. Ternyata gadis itu pintar, ia tak ingin menggunakan pistol nya karena tak ingin mengambil resiko. Brugghhhh, keduanya pun kini terkapar pingsan. Tak lupa juga Zara memberikan ramuan yang selalu di bawanya. Ramuan penghilang ingatan sementara. "Ayo!" Xenan hendak bangkit, namun apalah daya saat tak ada tenaga dalam tubuhnya. Zara mendekat dan merangkul kan tangan Xenan pada pundaknya. "Bertahan, kita akan keluar dari sini." Tak ada jawaban dari mulut lelaki tampan itu membuat Zara menengokkan kepala ke arah Xenan. Cup, "thank you." Hal yang tak terduga membuat Zara sedikit gelagapan. Ini ciuman keduanya! Sial! Zara tak menjawab, gadis itu keluar seraya menengokkan kepalanya ke arah kiri dan kanan. Ia berharap mendapatkan sinyalnya kembali. Disisi lain, Teo tengah berusaha meretas setiap informasi dari musuhnya kali ini. Betapa mengejutkannya ia saat melihat jumlah penjualan manusia yang begitu banyak dan juga senjata ilegal yang mereka buat. Teo mengirimkan setiap informasi yang ia dapat pada Satria. Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya menunggu perintah dari Satria. Ia pun kembali mencoba menghubungi Zara. Tangan lincah nya bergelut dengan keyboard dan kode-kode yang sangat tak di mengerti orang awam. Matanya mengikuti setiap pergerakan monitor yang ada di hadapannya saat ini. Dan, dapat! Zara mulai terlihat di salah satu CCTV. Itu berarti, sinyal pun bisa ia dapatkan kembali. "Zara!" "Kemana?" "Lo tinggal lurus, terus belok ke arah kanan." Langkah nya sedikit terhambat karena Xenan yang kini tengah lemah. Kembali pada Zara yang kini tengah berusaha membawa Xenan ke arah yang di tunjukkan Teo. "Gang?!" "Yup! Ini akan lebih cepat dan pastinya tak terlihat. Cepat! Mereka ada 20 orang lebih dan 500 meter dari jarak lo." Zara pun membawa Xenan ke tempat itu. Jalan yang bau dan kumuh serta banyak genangan air yang membuat Xenan merasa jijik. "Tahan, ini demi keselamatan kita." Ucap Zara dengan lembut. Karena ia tak akan pernah memperlakukan kliennya dengan kasar. Mendengar itu, Xenan pun kembali menganggukkan kepalanya. "By the way, gimana cara lo bisa kabur dari sana Zar?" "Nanti gue ceritain, sekarang gue harus kemana lagi?" "Sembunyi di tong sampah." Terpaksa ia pun harus melakukannya. Ini sesuatu hal yang biasa Zara lakukan, demi menyelamatkan klien, ia akan melakukan semua yang tak mungkin menjadi mungkin. "Kenapa disini?" "Kita harus sembunyi." "Disini?" "Ya." "Tapi—" "Sssttt, percaya sama aku. Aku akan habisi mereka!" Xenan menatap bara pada mata Zara membuatnya hanya pasrah mengikuti perintah gadisnya itu. Andai saja ia lebih kuat dari kondisinya saat ini, ia pasti akan bisa membantu Zara menyerang mereka. Lelaki berparas tampan itu pun mulai masuk ke tong sampah yang pastinya bau dan... sudah di pastikan kotornya seperti apa. "Lo juga harus masuk Zar!" "Hah? Kenapa? gue bisa hadapi mereka." "Kali ini enggak!" "Lo ngeremehin gue?" Ucap Zara sedikit tersulut emosi. "Bukan! Sekarang lawan lo bukan cuma dua orang atau dua puluh orang. Tapi kali ini mereka lebih dari lima puluh orang. Mereka makin bertambah." "Aishhhh!!!! Gue bisa—" "Ya! Lo bisa! Tapi gue gak mau lo kenapa-napa. Please Zar... demi keselamatan lo dan berhasilnya misi ini." ~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN