-LP18-

1025 Kata
Suasana kantin begitu ramai, ditambah lagi dengan duduknya para most wanted yang kini tengah di kerubungi oleh salah satu geng primadona AIS. Katanya sih begitu. Namun yang pasti, Arkan dan para sahabatnya tak tertarik sedikit pun pada mereka. Lima orang siswi itu terus menempel layaknya lintah yang ingin menghisap mangsanya. Dan itu membuat Arkan sangat risih. Ingin ia melampiaskan amarahnya disini, namun ia tak ingin salah langkah. Bisa-bisa, hal itu memacu keributan dan mengharuskan kedua orang tuanya datang ke sekolah. BIG NO! Ia tak ingin mengecewakan mommy dan daddy nya. Ia menatap bosan pada ponsel yang terdapat foto dirinya dengan Zara. "Hufftt... kapan sih lo pulangnya?" Batinnya bertanya dengan tatapan sendu. "Arkan, itu siapa?" Tanya salah satu siswi yang sedari tadi duduk di sampingnya. Arkan pun menoleh untuk melihat jelas siapa orang yang bertanya padanya. "Pacar gue." Dan setelah mengucapkan itu, Arkan bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkan mereka semua yang masih menganga tak percaya akan apa yang di ucapkan Arkan. "Itu gak bener kan?" Tanya nya pada sahabat Arkan. "Itu hoax kan? Jawab!" "Ck... Gak usah ikut campur urusan orang lain bisa gak sih? Ngaca dong! Dandanan lo harusnya bersihin dulu pake wipol, tunggu 30 menit biar langsung ilang tuh make up!" Mereka semua pun bangkit mengikuti langkah Arkan. Disisi lain, Arkan yang hendak menaiki tangga tiba-tiba di kejutkan dengan seseorang yang terjatuh dari anak tangga teratas nya. Orang itu berteriak histeris dan pasrah akan apa yang ia rasakan selanjutnya. Namun, ada yang aneh. "Kok gak sakit?" Tanya nya dengan mata yang masih tertutup rapat. Namun tiba-tiba, matanya terbuka lebar kala ia mendengar suara deheman tepat di dekatnya. "Eh!!! ... Dan makasih banyak ya karena udah mau tolongin aku." "Hmm..." "Oh iya, namaku Felly murid baru di kelas X IPS 2, kamu?" Alis Arkan terangkat sebelah, ia menatap gadis di hadapannya dengan pandangan menilai. Felly gadis yang cantik dengan rambut sebahu dan mata bulat. Pipinya chubby dengan bentuk bibir yang terlihat manis. Namun, tanpa di duga oleh siapa pun, Arkan membalas uluran tangannya. "Arkan." "Ohh hai Arkan, salam kenal ya." Ucap nya seraya tersenyum manis dengan mata yang menyipit lucu. Arkan hanya mengangguk menyembunyikan pipinya yang memerah malu kemudian ia pun langsung pergi meninggalkan Felly yang masih menatapnya dengan berbinar. "Ganteng banget..." Felly pun akhirnya melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kantin. Namun baru saja beberapa langkah, suara bel sekolah berbunyi membuat ia harus mengurungkan niatnya untuk mengisi perut. Pelajaran dimulai, semua fokus pada pelajaran yang tengah di terangkan oleh guru. Beda dengan kelas Arkan yang kini tengah melakukan pemanasan untuk berolahraga. Arkan dan para sahabatnya berjalan bersama menuju lapangan dengan wajah tampan penuh pesona. Ada satu hal yang salah dari mereka. Ya, mereka terlambat. "Kenapa kalian baru datang?" Tanya seorang guru seraya berkacak pinggang. "Kamar mandi penuh pak, kalo tadi di kelas cewek-cewek pada ganti baju." "Ckckck, kalian kan sudah punya ruang ganti, kenapa harus di kelas?" "Biar praktis pak!" Teriak mereka bersamaan. Ya, begitulah masa SMA. "Ya sudah, kalian cepat masuk barisan!" Titah pak Rudi selaku guru olahraga muda yang kini banyak di gemari para siswi dan guru-guru muda. Arkan dan para sahabatnya pun ikut bergabung. Mereka melakukan pemanasan bersama. ~~~~~ "Sayang— " panggil Athena pada sang suami yang kini tengah berkutat pada berkas di hadapannya. "Kenapa Rye?" "Apa Zara baik-baik saja?" "Hm..." Satria mengalihkan pandangannya dan kini menatap Athena dengan penuh cinta. "Kamu gak usah khawatir, Teo sudah meluncur. Mereka pasti akan baik-baik saja." "Lalu?" "Misi pertama Zara telah selesai, dan beberapa jam lagi target klien kita akan sampai." "Aku khawatir, entah kenapa, perasaanku gak enak." "Hussss... berdo'a yang terbaik untuk anak-anak kita ya sayang." Athena pun menganggukkan kepalanya paham dan Satria kembali melanjutkan pekerjaannya. Dengan tangan yang lihai, ia membubuhkan tanda tangan serta stempel yang digunakan. Athena kesal akan hal itu, dirinya di acuhkan kembali. Huffttt... dengan berani, Athena pun mengganggu Satria dengan duduk di pangkuannya. "Honey... don't do that, please." Athena menggelengkan kepalanya tak setuju. Ia pun semakin menggoda Satria dengan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Satria. "Sayang... kamu membuatku ingin memakanmu sekarang juga." Lirih Satria yang masih jelas terdengar oleh Athena. "Hmm... Lakukanlah. Dengan senang hati aku menerimanya." Dengan segera, Satria pun mengangkat Athena yang kini mulai menciumi lehernya. Ahh... dia sudah tak tahan lagi. Satria mini menidurkan Athena di kasur king size nya. Dengan gaya s*****l, Athena membuka bajunya perlahan membuat Satria makin gila di buatnya. "Aku akan membantumu sayang." ~~~~~ Kembali ke sekolah, dimana kini suara hentakan bola yang Arkan mainkan membuat eksistensi pria itu semakin meningkat. Bahkan para siswi di kelasnya sudah meneriakkan nama dirinya berulang kali. Keringat yang bercucuran membuat Arkan terlihat semakin seksi. Bajunya yang telah basah membuat bentuk tubuhnya semakin terlihat jelas. Sungguh nikmat Tuhan yang sangat sayang jika terlewatkan. Bola orange yang sedari tadi mereka rebut kan, kini masuk pada salah satu ring yang ternyata adalah ring dari sang musuh. Suara teriakkan makin membahana kala mereka melihat senyum tampan dari Arkan dan sahabatnya yang sedang melakukan high five. "Arkannn... Masukin hatiku ke hatimu!!!" Teriak salah satu temannya yang langsung di hadiahi pelototan tajam dari siswi lainnya. Arkan tak peduli, ia pun mulai berlari kembali menunggu pass yang akan di berikan oleh temannya. Dan hup! Bola pun kini berada di tangannya. Dengan cepat, ia melakukan Lay up dan bola pun masuk dalam ring. "Yeayyy!!!!" "Arkan!" "Arkan!" "Arkan!" Teriakan yang begitu kompak. Hingga seseorang yang berada di atas sana pun ikut bertepuk tangan dengan riangnya. Sesekali, ponselnya mengambil potret Arkan dan melihat hasilnya dengan penuh rasa puas. Saat dirinya hendak memotret lagi, tatapan mata mereka bertemu. Arkan yang mendongak ke atas dan gadis itu menatap ke arah lapangan dimana Arkan berada. Kedua pipi mereka bersemu dengan tanpa tau malunya. Felly langsung berlari kecil meninggalkan tempat persembunyiannya karena ia ketahuan tengah memperhatikan Arkan. Sedangkan Arkan, ia menjadi gugup sendiri kemudian men-dribble bolanya kembali. "Felly... kenapa sampe ketauan gitu sih... aduh malu banget." Gerutunya seraya menepuk kedua pipi nya. Ia berjalan kembali menuju toilet tempat yang akan ia tuju sebelumnya. Arkan, sungguh nama yang membuat fokus nya teralihkan. Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah cantiknya yang memesona, pasti akan buat Arkan luluh kan? ~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN